43.393 Guru 3T Terima Tunjangan Khusus, Pemerintah Perkuat Transformasi Pendidikan

Pemerintah menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG) kepada 43.393 guru di wilayah 3T pada 2025 dengan total anggaran Rp636,7 miliar. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya transformasi pendidikan melalui pemerataan fasilitas, distribusi guru, dan dukungan teknologi pembelajaran.

43.393 Guru 3T Terima Tunjangan Khusus, Pemerintah Perkuat Transformasi Pendidikan
Seorang guru di sekolah yang ada di wilayah 3T tengah mengajar siswa. Pemerintah menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG) kepada 43.393 guru di wilayah 3T pada 2025 dengan total anggaran Rp636,7 miliar. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • 43.393 guru di wilayah 3T menerima Tunjangan Khusus Rp2 juta per bulan.

  • Total anggaran TKG 2025 mencapai Rp636,7 miliar.

  • Guru di daerah terpencil tetap berinovasi meski terbatas fasilitas dan akses.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pemerintah terus memperkuat transformasi pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui dukungan konkret bagi para pendidik.

Pada 2025, sebanyak 43.393 guru menerima Tunjangan Khusus Guru (TKG) dengan total anggaran mencapai Rp636.710.771.290 sebagai bentuk keberpihakan terhadap pendidikan di pelosok negeri.

Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa praktik baik para guru di wilayah 3T membuktikan keterbatasan bukan penghalang menghadirkan pembelajaran bermakna.

“Pemerintah akan terus memastikan dukungan yang lebih merata, mulai dari peningkatan kompetensi, penguatan distribusi guru, serta dukungan teknologi pembelajaran seperti Papan Interaktif Digital dan akses internet yang semakin luas,” ujar Nunuk.

Setiap guru penerima memperoleh tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan.

Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi dan kesejahteraan guru, sekaligus menjaga stabilitas proses pembelajaran di daerah terpencil.

Semangat tersebut tercermin dari pengalaman Risky Jalil, guru matematika SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, yang sejak 2024 mengabdi di wilayah 3T.

Ia mengungkapkan tantangan tidak hanya soal fasilitas belajar, tetapi juga akses menuju sekolah, terutama saat cuaca buruk.

“Transportasi menuju sekolah saat ombak keras menjadi tantangan. Fasilitas belajar seperti buku dan internet juga terbatas, serta kemampuan literasi dasar sebagian murid masih rendah,” ungkapnya.

Meski demikian, Risky tetap berinovasi dalam pembelajaran. Ia memanfaatkan benda-benda sekitar sebagai alat bantu konkret, seperti menggunakan batu untuk mengajarkan operasi hitung dasar agar murid lebih mudah memahami konsep matematika.

Dalam membangun motivasi belajar, ia menekankan pentingnya kedekatan emosional dengan murid.

Memberikan apresiasi kecil, mengaitkan pelajaran dengan cita-cita, serta membangun kepercayaan diri menjadi strategi yang ia terapkan di tengah keterbatasan.

Risky berharap pemerataan kualitas pendidikan terus diperkuat, baik dari sisi fasilitas, distribusi guru, maupun akses teknologi, agar murid di wilayah 3T memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan lebih baik.

Ia juga menilai program Tunjangan Khusus Guru memberikan dampak nyata dalam meningkatkan motivasi dan kedisiplinan pendidik.

“Dengan adanya tunjangan tersebut, guru lebih termotivasi untuk melaksanakan tugas secara optimal dan berkomitmen tetap mengabdi di daerah terpencil,” katanya.

Selain kebijakan pemerintah, dukungan masyarakat menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan di wilayah 3T.

Kepercayaan orang tua dan keterlibatan mereka dalam mendukung kegiatan sekolah dinilai menjadi kekuatan besar dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Melalui sinergi kebijakan, dedikasi guru, dan dukungan masyarakat, pemerintah terus memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia unggul dari seluruh pelosok Indonesia. (*)