Dari Biak ke Inggris, Alumni ADEM Ini Kini Jadi CPNS Kemenlu

Lukas Norman Kbarek, putra Papua alumni Program ADEM, berhasil menempuh pendidikan hingga meraih gelar LL.M di Lancaster University Inggris melalui beasiswa LPDP. Kini ia mengabdi sebagai CPNS di Kementerian Luar Negeri, menjadi bukti nyata dampak program afirmasi pendidikan pemerintah.

Dari Biak ke Inggris, Alumni ADEM Ini Kini Jadi CPNS Kemenlu
Peraih program afirmasi, ADEM, Lukas Norman Kbarek, putra daerah asal Kabupaten Biak Numfor, Papua, berhasil menembus pendidikan tinggi hingga Inggris dan kini mengabdi sebagai CPNS di Kementerian Luar Negeri. (Sumber: Mendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Alumni ADEM asal Papua raih gelar LL.M di Inggris dan kini jadi CPNS Kemenlu.

  • Program ADEM telah membantu 4.616 murid dengan anggaran Rp90 miliar pada 2025.

  • Pemerintah tegaskan komitmen kurangi kesenjangan pendidikan di wilayah Papua dan 3T.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Program afirmasi pendidikan kembali membuktikan dampaknya.

Lukas Norman Kbarek, putra daerah asal Kabupaten Biak Numfor, Papua, berhasil menembus pendidikan tinggi hingga Inggris dan kini mengabdi sebagai CPNS di Kementerian Luar Negeri.

Alumni Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) di SMA Bhineka Tunggal Ika Yogyakarta ini menyebut ADEM sebagai pengalaman yang mengubah hidupnya.

“Bagi saya, ADEM merupakan life-changing experience program yang membantu anak-anak Papua untuk bisa lebih berkembang di lingkungan yang berbeda,” ujarnya.

Perjalanan akademiknya berlanjut melalui Program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) di Universitas Pendidikan Ganesha, Bali.

Dari sana, Lukas memperoleh beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan studi S2 di Lancaster University, Inggris.

Ia berhasil meraih gelar Master of Laws (LL.M) bidang Hukum Internasional hanya dalam waktu satu tahun.

Ketertarikannya pada hukum internasional lahir dari kepeduliannya terhadap masyarakat akar rumput.

Menurutnya, isu global seperti hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan perdamaian memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari.

Selama masa kuliah, Lukas aktif mengembangkan kapasitas kepemimpinan.

Ia mengikuti Asia Youth International Model United Nations 2018 di Thailand dan menjadi finalis Duta Muda ASEAN 2019.

Kini, setelah kembali ke Tanah Air, Lukas mengabdi sebagai CPNS di Kementerian Luar Negeri.

Ia berharap kisahnya dapat menginspirasi generasi muda Papua lainnya untuk berani bermimpi lebih tinggi.

“Saya berharap tercipta SDM unggul dari anak asli Papua sehingga dengan kecerdasannya mampu bersaing di forum nasional bahkan internasional,” ungkapnya.

Program ADEM sendiri telah berjalan sejak 2013 sebagai program strategis pemerintah untuk memperluas akses pendidikan.

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa ADEM menyasar tiga kategori penerima manfaat, yakni wilayah Papua, daerah khusus seperti 3T (terdepan, terluar, tertinggal), serta anak pekerja migran melalui jalur repatriasi.

Berdasarkan capaian tahun 2025, sebanyak 4.616 murid telah menerima manfaat bantuan pendidikan ADEM dengan total realisasi anggaran mencapai Rp90 miliar.

Capaian ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengurangi kesenjangan akses pendidikan di berbagai daerah.

Suharti mengapresiasi dukungan berbagai pihak dalam keberhasilan program tersebut.

“Tanpa kerja sama dan koordinasi yang erat, pelaksanaan program ADEM tidak akan berjalan optimal,” tuturnya.

Kepala Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Adhika Ganendra, juga mengapresiasi capaian Lukas.

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa ADEM merupakan intervensi pemerintah untuk memberikan akses pendidikan yang lebih luas, merata, dan berkelanjutan bagi pelajar di seluruh pelosok Indonesia, termasuk daerah 3T.

Melalui kisah Lukas, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan inklusif dan bermutu bagi seluruh anak bangsa, agar setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (*)