Mahasiswa KKN Unri di Desa Ketam Putih Bengkalis Kenalkan Biopori untuk Atasi Genangan di Lahan Cabai

Mahasiswa KKN Berdampak Universitas Riau mengedukasi warga Desa Ketam Putih, Kabupaten Bengkalis, tentang pembuatan lubang biopori sebagai solusi mengurangi genangan air di lahan cabai. Program ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mendorong pengelolaan sampah organik.

Mahasiswa KKN Unri di Desa Ketam Putih Bengkalis Kenalkan Biopori untuk Atasi Genangan di Lahan Cabai
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Riau dan warga saat memperkenalkan teknologi biopori untuk mengatasi genangan di lahan cabai Desa Ketam Putih. (Sumber: Dok. KKN Unri Desa Ketam Putih)

RINGKASAN BERITA:

  • Mahasiswa KKN Universitas Riau memperkenalkan teknologi biopori untuk mengatasi genangan di lahan cabai Desa Ketam Putih.
  • Warga tidak hanya menerima sosialisasi, tetapi juga langsung mempraktikkan pembuatan lubang biopori sebagai percontohan.
  • Biopori dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengolah sampah organik menjadi kompos.

RIAUCERDAS.COM, BENGKALIS - Upaya mengatasi genangan air yang kerap menghambat pertumbuhan tanaman cabai di Desa Ketam Putih, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, dilakukan melalui penerapan teknologi biopori.

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Universitas Riau (Unri) memperkenalkan sekaligus mempraktikkan pembuatan lubang resapan air tersebut bersama warga di lahan milik BUMDes, Jalan Simpang Tiga, Dusun II, Jumat (27/6/2026).

Program yang berlangsung pukul 16.00 hingga 18.00 WIB itu menjadi salah satu kegiatan mahasiswa KKN Unri di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rina Susanti, S.Sos., M.Si.

Kegiatan diikuti sekitar 10 warga, termasuk perwakilan BUMDes, Syam Khafazul Khair.

Syam menyambut baik kegiatan tersebut karena masyarakat tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai manfaat biopori, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembuatannya.

"Kami senang ada mahasiswa yang mau turun langsung ke lahan dan mengajak warga praktik bareng. Kalau biopori ini memang cocok dengan kondisi tanah di sini, bisa jadi solusi jangka panjang buat petani," kata Syam Khafazul.

Sebelum praktik dimulai, mahasiswa menjelaskan fungsi lubang biopori sebagai sarana mempercepat penyerapan air hujan sekaligus tempat mengolah sampah organik menjadi kompos.

Teknologi ini dinilai mudah diterapkan karena tidak membutuhkan biaya besar maupun peralatan yang rumit.

Sebagai percontohan, peserta bersama mahasiswa membuat satu lubang biopori menggunakan linggis dan dodos.

Lubang tersebut kemudian dipasang pipa PVC berukuran 3 hingga 4 inci dan diisi sampah organik.

Sampah yang dimasukkan berupa daun cabai kering, sisa sayuran, serta rumput liar hasil pembersihan lahan. Semua sampah tersebut berasal dari sekitar lokasi.

Ketua Kelompok KKN, Muhammad Ilham Baihaqi, berharap biopori yang telah dibuat dapat terus dimanfaatkan dan dikembangkan oleh masyarakat.

"Kami berharap warga bisa merawat dan menambah sendiri lubang biopori ini ke depannya. Kalau memang efektif mengurangi genangan, dampaknya bisa langsung dirasakan petani cabai di sini," ujarnya.

Sesi diskusi pun berlangsung interaktif. Seorang warga, Oji, menilai program tersebut memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan mengingat lahan cabai di wilayah tersebut memang sering tergenang saat hujan.

"Ini sangat bermanfaat dan idenya cukup bagus, masih bisa dikembangkan lagi. Lahan yang sering tergenang mengganggu pertumbuhan dan produktivitas cabai. Mudah-mudahan ke depan biopori ini bisa terus dikembangkan supaya lahan terjaga dari genangan air," katanya.

Dalam sesi tanya jawab, Oji menanyakan arah aliran air pada bedengan yang tergenang serta jumlah lubang biopori yang ideal untuk satu bedengan.

Tim KKN menjelaskan bahwa lubang biopori sebaiknya ditempatkan pada area yang lebih rendah atau di jalur drainase antarbedengan agar aliran air dapat masuk secara optimal.

Jumlah lubang juga disesuaikan dengan kondisi lahan dan perlu diterapkan secara bertahap, kemudian dievaluasi efektivitasnya.

Pertanyaan lain disampaikan oleh Fazul mengenai pengaruh kedalaman lubang dan jenis tanah terhadap daya resap air.

"Saya kepikiran, kalau lubangnya dibuat lebih dalam, apa hasilnya beda? Terus tanah di sini kan macam-macam jenisnya, apa itu juga berpengaruh ke resapan airnya?" tanya Fazul.

Menjawab pertanyaan tersebut, mahasiswa KKN memaparkan bahwa diameter ideal lubang biopori berkisar 10 hingga 15 centimeter atau setara dengan pipa PVC berukuran 4 hingga 6 inci. 

Di lapangan, pipa PVC berukuran 4 inci lebih banyak digunakan karena lebih mudah diperoleh dan dinilai cukup efektif.

Selain itu, karakteristik tanah juga memengaruhi kecepatan penyerapan air.

Tanah gambut, misalnya, memiliki pori-pori yang lebih longgar sehingga air lebih cepat meresap dibandingkan tanah liat atau tanah yang lebih padat.

Kegiatan ditutup dengan dokumentasi bersama dan penandatanganan daftar hadir peserta sebagai bagian dari laporan program kerja.

Mahasiswa KKN Unri berharap biopori yang telah dibuat dapat terus dipantau, dirawat, dan dikembangkan oleh masyarakat sehingga menjadi solusi sederhana dan berkelanjutan dalam mengurangi genangan air di lahan pertanian Desa Ketam Putih.

Kelompok KKN Desa Ketam Putih terdiri atas sepuluh mahasiswa lintas program studi.

Muhammad Ilham Baihaqi dari Sosiologi bertindak sebagai ketua kelompok, didampingi Ilma Hayati Dhilla dari Bimbingan dan Konseling serta Syifa Salsabila dari Fisika sebagai sekretaris.

Eva Wulandari dari Pendidikan Ekonomi menjabat koordinator lapangan, sementara Annisa Meilanda dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bersama Rizki Nabila dari Ilmu Kelautan bertugas sebagai bendahara.

Wahyu Alam Syah dari Agroteknologi dan Siti Nur Fadilah dari Pendidikan Masyarakat menangani hubungan masyarakat, sedangkan dokumentasi kegiatan dilakukan oleh Luthfia Putri dari Ilmu Kelautan dan Andre Yunadi Hadidi Simamora dari Teknologi Hasil Perikanan. (rls)

* Artikel ini merupakan kiriman mahasiswa KKN Universitas Riau kepada redaksi.