BRIN dan Pertamina Percepat Hilirisasi Drilling Starch Berbasis Sagu untuk Industri Migas

BRIN bersama Pertamina, PT Elnusa Tbk, dan PT Elnusa Petrofin memperkuat kolaborasi pengembangan drilling starch berbasis sagu sebagai aditif fluida pengeboran migas. Teknologi yang telah diuji di lapangan ini dinilai siap memasuki tahap pengembangan lebih lanjut untuk mendukung kemandirian industri energi nasional.

BRIN dan Pertamina Percepat Hilirisasi Drilling Starch Berbasis Sagu untuk Industri Migas
Kunjungan PT Pertamina (Persero), PT Elnusa Tbk, dan PT Elnusa Petrofin ke fasilitas pengembangan drilling starch milik Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP) BRIN di Anak Tuha, Lampung Tengah, Selasa (30/6/2026). (Sumber: BRIN)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN dan Pertamina mempercepat pengembangan drilling starch berbasis sagu setelah produk berhasil melewati uji lapangan di dua lokasi pengeboran.
  • Fasilitas BRIN di Anak Tuha telah memproduksi sekitar 16 ton drilling starch berbasis sagu untuk mendukung pengujian di sektor migas.
  • Pertamina menyiapkan rencana pembangunan fasilitas produksi mandiri dengan pendampingan teknis dari BRIN guna mendukung kemandirian industri energi nasional.

RIAUCERDAS.COM, LAMPUNG - Kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pertamina dalam pengembangan drilling starch berbasis sagu memasuki tahap lanjutan.

Setelah berhasil melalui uji lapangan, kedua pihak kini membahas langkah pengembangan berikutnya guna mempercepat pemanfaatan hasil riset bagi industri minyak dan gas nasional.

Pembahasan tersebut berlangsung saat kunjungan PT Pertamina (Persero), PT Elnusa Tbk, dan PT Elnusa Petrofin ke fasilitas pengembangan drilling starch milik Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP) BRIN di Anak Tuha, Lampung Tengah.

Delegasi Pertamina dipimpin Manager Upstream & Low Carbon – Technology Commercial and Implementation, Farid Febrian.

Sementara dari BRIN hadir Perekayasa Ahli Utama Bambang Triwiyono, Perekayasa Ahli Madya Yanuar Sigit Pramana, beserta tim peneliti.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta membahas perkembangan riset sejak 2022, mulai dari optimalisasi bahan baku sagu dan tapioka, pengembangan prototipe, kajian teknis dan ekonomi, produksi skala pilot, hingga pengujian produk pada kegiatan pengeboran minyak dan gas.

Bambang Triwiyono menjelaskan sagu diolah melalui rekayasa proses menjadi drilling starch yang berfungsi sebagai aditif fluida pengeboran untuk mengendalikan kehilangan cairan ke formasi batuan.

"Hal ini untuk mengendalikan kehilangan cairan ke formasi batuan, sebagai upaya pengembangan material pendukung industri berbasis potensi nasional," kata dia dikutip dari laman BRIN, Sabtu (4/7/2026).

Ia menambahkan, pada periode kerja sama kedua yang berlangsung Oktober 2023 hingga Juli 2024, fasilitas BRIN di Anak Tuha telah memproduksi sekitar 16 ton drilling starch berbasis sagu.

Produk tersebut kemudian digunakan dalam uji lapangan Pertamina di Ramba Field Zona 4 pada Maret 2025 dan Jatibarang Zona 7 pada November 2025.

"Hasil evaluasi menunjukkan kinerja produk baik sebagai pengendali kehilangan filtrat tanpa kendala berarti. Capaian ini menandai kemajuan riset dari skala laboratorium ke produksi pilot dan kesiapan teknologi untuk kebutuhan industri," terangnya.

Selain melakukan diskusi, rombongan juga meninjau fasilitas produksi skala pilot di Anak Tuha yang memiliki kapasitas sekitar satu ton per hari.

Fasilitas tersebut masih memerlukan sejumlah perawatan dan penyesuaian teknis untuk mendukung pengembangan berikutnya.

Pertemuan juga membahas berbagai aspek pengembangan, mulai dari kesiapan teknis, pengendalian mutu, ketersediaan bahan baku, keselamatan kerja, pembiayaan, hingga pembagian peran antar mitra.

Dalam jangka panjang, Pertamina merencanakan pembangunan fasilitas produksi mandiri dengan supervisi teknis dari BRIN.

Tahapan tersebut akan diawali melalui studi teknis dan kajian kelayakan sebagai dasar pembangunan dan operasional fasilitas.

BRIN menilai kolaborasi dengan Pertamina menjadi contoh sinergi antara lembaga riset dan industri dalam mempercepat hilirisasi inovasi berbasis sumber daya hayati nasional.

Pengembangan drilling starch berbasis sagu diharapkan mampu memperkuat kapasitas teknologi sekaligus mendukung kemandirian industri migas Indonesia.

Hasil kunjungan dan diskusi tersebut akan menjadi dasar penyusunan langkah pengembangan selanjutnya sesuai kajian teknis dan mekanisme kerja sama yang berlaku. (*)