Peneliti Unri Kembangkan AI Pembaca Emosi dan Gelombang Otak Siswa
Tim peneliti Universitas Riau mengembangkan dua sistem berbasis kecerdasan buatan, EUREKA-Face dan EduBrain, yang mampu mendeteksi kesiapan belajar siswa melalui ekspresi wajah dan gelombang otak secara real-time untuk mendukung pembelajaran yang lebih adaptif.
RINGKASAN BERITA:
- Peneliti Unri mengembangkan AI yang mampu membaca ekspresi wajah dan gelombang otak siswa untuk mengukur kesiapan belajar secara real-time.
- EUREKA-Face dan EduBrain dirancang sebagai alat bantu guru agar pembelajaran lebih adaptif sesuai kondisi emosional dan kognitif siswa.
- Inovasi ini telah menghasilkan pengajuan paten, prototipe yang memasuki tahap akhir pengembangan, serta publikasi ilmiah yang disubmit ke jurnal internasional bereputasi Q1.
RIAUCERDAS.COM - Tim peneliti Universitas Riau (Unri) menghadirkan inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang memungkinkan guru mengetahui kesiapan belajar siswa secara lebih objektif.
Melalui dua sistem bernama EUREKA-Face dan EduBrain, guru dapat memantau kondisi emosional dan kognitif peserta didik secara real-time sebelum proses pembelajaran berlangsung.
Riset tersebut dipimpin oleh Prof Dr Neni Hermita MSi sebagai upaya menghadirkan teknologi yang mendukung pembelajaran adaptif di sekolah, khususnya bagi siswa sekolah dasar.
Menurut Neni, selama ini guru umumnya mengandalkan pengamatan langsung untuk menilai kesiapan belajar siswa.
Namun, pendekatan tersebut dinilai belum mampu menggambarkan kondisi setiap peserta didik secara menyeluruh.
“Selama ini guru lebih banyak mengandalkan observasi manual untuk mengetahui kondisi siswa. Padahal, tidak semua siswa mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Melalui teknologi AI, kita mencoba membantu guru memahami kondisi belajar siswa secara lebih akurat,” katanya dikutip dari laman Unri, Minggu (28/6/2026).
EUREKA-Face menjadi sistem pertama yang dikembangkan tim peneliti.
Teknologi ini memanfaatkan kamera untuk merekam ekspresi wajah siswa secara langsung, kemudian mengolahnya menggunakan model Convolutional Neural Network (CNN).
Melalui sistem tersebut, berbagai ekspresi dasar seperti senang, sedih, marah, takut, netral, hingga terkejut dapat dikenali dan diubah menjadi indikator kesiapan belajar.
Informasi itu kemudian ditampilkan kepada guru melalui antarmuka berbasis web dalam bentuk grafik maupun indikator warna.
Selain itu, tim peneliti juga mengembangkan EduBrain yang memanfaatkan sensor Electroencephalogram (EEG) untuk membaca aktivitas gelombang otak siswa.
Sistem ini menganalisis tingkat fokus, konsentrasi, dan ketenangan belajar berdasarkan sinyal gelombang alpha, beta, delta, serta theta.
Hasil analisis EduBrain disajikan melalui dashboard interaktif sehingga guru dapat mengetahui kondisi kognitif siswa secara langsung.
Neni menjelaskan, kedua inovasi tersebut merupakan hasil penelitian yang melibatkan guru sekolah dasar, terutama dalam pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).
Penelitian menunjukkan bahwa banyak siswa kesulitan menyampaikan perasaan ketika mempelajari materi yang bersifat abstrak, sementara kondisi emosional mereka lebih mudah terlihat melalui ekspresi wajah.
Meski mengandalkan teknologi AI, Neni menegaskan sistem tersebut tidak dirancang untuk menggantikan peran guru dalam proses pembelajaran.
“Ketika sistem mendeteksi banyak siswa menunjukkan ekspresi bingung atau frustrasi, guru dapat segera mengubah pendekatan pembelajaran, memberikan contoh yang lebih konkret, atau melakukan pendampingan secara lebih personal. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih adaptif dan berpusat pada siswa,” terang Neni.
Ia menambahkan, penelitian tersebut telah menghasilkan sejumlah luaran, di antaranya pengajuan paten sederhana untuk sistem EUREKA-Face, pengembangan prototipe AI berbasis pengenalan wajah dan EEG yang kini memasuki tahap akhir, serta naskah ilmiah yang telah di-submit ke jurnal internasional bereputasi Q1 Educational Media International. (*)