Konflik Iran–AS–Israel Memanas, Pengamat UMY: Indonesia Pilih Jalur Rasional
Pengamat UMY menilai sikap Indonesia dalam konflik Iran–AS–Israel didasarkan pada kalkulasi rasional kepentingan nasional. Pendekatan nonkonfrontatif dinilai penting demi stabilitas ekonomi dan politik jangka panjang.
RINGKASAN BERITA:
- Prabowo dinilai lebih outward looking dalam kebijakan luar negeri dibanding Jokowi.
- Sikap tidak frontal terhadap AS dipahami sebagai kalkulasi strategis.
- Ruang kritik publik tetap penting dalam menjaga kesehatan demokrasi.
RIAUCERDAS.COM - Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu diskursus mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia.
Di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks, posisi Jakarta dinilai lebih mengedepankan pendekatan rasional ketimbang sikap konfrontatif terbuka.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si., menilai langkah Indonesia pada era Presiden Prabowo Subianto perlu dipahami melalui perspektif rasionalitas politik luar negeri.
Menurutnya, gaya kepemimpinan presiden berpengaruh pada orientasi diplomasi.
Ia membandingkan pendekatan Prabowo dengan pendahulunya, Joko Widodo.
Jika Jokowi lebih berfokus pada agenda domestik atau inward looking, maka Prabowo dinilai memiliki kecenderungan outward looking dengan perhatian lebih besar pada isu-isu global, termasuk konflik Palestina dan dinamika Timur Tengah.
Sidik menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina merupakan bagian dari kepentingan nasional Indonesia sejak awal kemerdekaan.
Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam mendorong penghentian kekerasan di Gaza dipandang sebagai langkah strategis sekaligus simbol komitmen historis.
Dalam kerangka teori rational choice, setiap kebijakan luar negeri dihitung berdasarkan pertimbangan untung dan rugi.
Indonesia, kata Sidik, berada di antara dua kekuatan besar dunia, yakni China dan Amerika Serikat.
Dalam situasi demikian, opsi realistis yang tersedia adalah menyesuaikan diri tanpa kehilangan kepentingan nasional.
“Kalau melawan raksasa, kita bisa tergulung"
- Prof. Dr. Sidik Jatmika, M.Si -
Ia menjelaskan bahwa pola pendekatan Indonesia terhadap China di Laut Cina Selatan maupun terhadap Amerika Serikat menunjukkan karakter yang serupa: tidak konfrontatif, namun tetap menjaga kepentingan nasional.
Sikap Indonesia yang tidak secara frontal mengecam Amerika Serikat dalam konflik Iran–AS–Israel dinilai sebagai bagian dari kalkulasi strategis tersebut.
Faktor ekonomi turut menjadi pertimbangan penting.
Amerika Serikat memiliki posisi signifikan dalam sistem perdagangan dan ekonomi global, sehingga ketegangan terbuka berpotensi memengaruhi stabilitas perdagangan serta investasi Indonesia.
Meski demikian, Sidik menekankan pentingnya menjaga ruang demokrasi di dalam negeri.
Ia menilai masyarakat sipil, akademisi, hingga kelompok keagamaan tetap berhak menyampaikan aspirasi melalui diskusi publik, petisi, maupun aksi damai.
"Yang penting, ruang-ruang demokrasi tetap dibuka. Kritik adalah bagian dari kesehatan demokrasi,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar isu luar negeri tidak memicu polarisasi di dalam negeri.
Stabilitas politik tetap dibutuhkan untuk menjawab berbagai tantangan domestik yang masih dihadapi Indonesia.
Di tengah pusaran konflik global, menurut Sidik, pilihan Indonesia bukan semata soal keberpihakan, melainkan bagaimana menjaga keseimbangan antara idealisme politik luar negeri dan kepentingan nasional jangka panjang. (*)