Kapan Waktu Terbaik Olahraga Saat Puasa? Dokter Jantung Ungkap Waktu Paling Aman
Dokter jantung UMY menyarankan olahraga saat Ramadan tetap dilakukan dengan pengaturan waktu dan intensitas. Waktu paling aman adalah setelah berbuka karena risiko dehidrasi dan kekurangan energi lebih rendah.
RINGKASAN BERITA:
- Waktu terbaik olahraga saat puasa adalah setelah berbuka.
- Olahraga berlebihan saat puasa bisa picu dehidrasi dan gangguan jantung.
- Latihan ringan dan terukur lebih dianjurkan selama Ramadan.
RIAUCERDAS.COM - Puasa Ramadan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berolahraga.
Namun, aktivitas fisik saat berpuasa perlu dilakukan dengan strategi yang tepat agar tidak membahayakan kesehatan tubuh.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus dokter spesialis jantung, Gagah Buana Putra, menjelaskan bahwa prinsip utama olahraga adalah kecukupan energi.
Saat puasa, tubuh tidak mendapat asupan makanan dan cairan selama berjam-jam, sehingga aktivitas fisik menjadi lebih menantang.
Ia mengingatkan, olahraga dalam kondisi tubuh tidak fit atau tanpa cadangan energi dapat memicu gejala seperti pusing, lemas, haus berlebihan, bahkan hampir pingsan.
Jika tanda-tanda tersebut muncul, aktivitas fisik tidak boleh dipaksakan dan dalam kondisi tertentu puasa perlu dibatalkan demi keselamatan.
Meski begitu, olahraga saat Ramadan tetap diperbolehkan dengan pengaturan waktu dan intensitas yang tepat.
Energi dari sahur bisa menjadi bekal aktivitas, namun olahraga siang hari sebaiknya ringan karena cadangan energi masih dibutuhkan untuk menjalani aktivitas harian.
“Secara medis, waktu terbaik untuk berolahraga adalah setelah berbuka puasa. Saat itu cadangan energi sudah terisi kembali dan risiko dehidrasi lebih kecil,” jelasnya, dikutip dari situs UMY, Sabtu (21/2/2026).
Dengan tubuh yang sudah mendapatkan asupan makanan dan cairan, olahraga dapat dilakukan lebih aman tanpa khawatir hipoglikemia atau kekurangan cairan.
Sebaliknya, olahraga berlebihan saat puasa berisiko menurunkan gula darah drastis serta memicu dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit.
Kondisi tersebut dapat berdampak pada fungsi jantung karena elektrolit berperan penting dalam aktivitas listrik jantung.
Dehidrasi berat juga berpotensi memicu gangguan ginjal jika tidak ditangani dengan baik.
Dr. Gagah juga menekankan pentingnya memahami jenis olahraga.
Aktivitas rekreatif seperti tenis atau padel boleh dilakukan satu hingga dua kali seminggu, namun tidak disarankan terlalu sering karena risiko cedera lebih tinggi.
Untuk menjaga kebugaran jangka panjang, latihan rutin dan terukur lebih dianjurkan.
Olahraga aerobik seperti jalan kaki, bersepeda, atau berenang dapat meningkatkan kapasitas jantung dan paru, sementara latihan kekuatan membantu menjaga massa otot dan kepadatan tulang.
Latihan kekuatan juga dinilai penting di tengah meningkatnya kasus obesitas dan resistensi insulin.
Jenis latihan ini dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, mulai dari angkat beban ringan hingga latihan menggunakan berat badan sendiri.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa puasa tetap menjadi prioritas utama selama Ramadan.
Jika ingin tetap berolahraga, masyarakat perlu memahami risiko yang mungkin terjadi, terutama dehidrasi dan kekurangan energi.
Memindahkan waktu olahraga ke setelah berbuka dinilai sebagai pilihan paling aman agar ibadah tetap terjaga tanpa mengorbankan kesehatan.
Dengan pengaturan waktu dan intensitas yang tepat, olahraga tetap bisa dilakukan secara aman sepanjang Ramadan. (*)