Kisah Guru 3T Berinovasi di Tengah Keterbatasan
Kisah guru 3T Muhammad Fathul Arifin menunjukkan bahwa kreativitas pendidik mampu mengatasi keterbatasan sarana di daerah terpencil. Dukungan teknologi pemerintah seperti internet satelit dan papan interaktif digital kini mulai menghadirkan perubahan nyata dalam pembelajaran.
RINGKASAN BERITA:
- Pemerintah menekankan penguatan kapasitas guru sebagai kunci pemerataan mutu pendidikan nasional.
- Guru 3T mengembangkan metode kreatif seperti gim edukasi dan pembelajaran humanis meski minim fasilitas.
- Internet satelit, papan interaktif, dan tenaga surya membantu mempercepat transformasi pembelajaran di daerah terpencil.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Tantangan mengajar di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih menjadi realitas yang dihadapi banyak pendidik di Indonesia.
Keterbatasan sarana, akses internet, hingga pasokan listrik yang belum stabil menuntut ketangguhan dan kreativitas guru dalam menghadirkan pembelajaran yang tetap bermakna.
Upaya pemerataan mutu pendidikan di wilayah 3T terus diperkuat pemerintah melalui berbagai kebijakan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menegaskan komitmennya menghadirkan dukungan nyata agar guru tetap mampu berinovasi di tengah keterbatasan.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa transformasi pendidikan nasional menempatkan guru sebagai aktor utama pembangunan sumber daya manusia.
Menurutnya, pemerintah tidak hanya fokus pada pemerataan akses, tetapi juga peningkatan kapasitas profesional guru agar mampu menjawab tantangan zaman.
Pengalaman lapangan menunjukkan transformasi pendidikan juga lahir dari dedikasi guru di ruang-ruang kelas terpencil.
Salah satunya Muhammad Fathul Arifin, yang mengajar selama lima tahun di wilayah 3T sebelum dipindahtugaskan pada Januari 2026 setelah diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Sejak 2020, Fathul mengabdi di SMA Swasta Bina Ilmu, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Ia kemudian dipindah ke SMK Negeri 2 Buntok.
Selama bertugas di wilayah 3T, ia menghadapi keterbatasan fasilitas, terutama akses internet dan listrik yang tidak stabil.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghambat kreativitasnya dalam mengajar.
Ia memanfaatkan proyektor dengan bantuan mesin pembangkit listrik serta menyusun materi berbasis presentasi dan gim edukatif.
Pendekatan pembelajaran yang humanis dan menyenangkan juga diterapkannya agar siswa tetap antusias.
Fathul mengembangkan berbagai metode, seperti permainan edukasi dari laptop, ice breaking, serta diskusi santai untuk menjaga interaksi kelas tetap hidup.
Selain menyampaikan materi, ia juga menanamkan motivasi dan pola pikir masa depan kepada siswa melalui contoh nyata dan pengalaman pribadi.
Perubahan signifikan mulai terasa ketika dukungan teknologi pembelajaran hadir.
Bantuan Papan Interaktif Digital, akses internet berbasis satelit seperti Starlink, serta tenaga surya dari pemerintah memperlancar proses belajar mengajar, termasuk pelaksanaan asesmen dan praktik pembelajaran.
Kini, dengan penugasan barunya sebagai PPPK, Fathul membawa pengalaman dari wilayah 3T sebagai bekal untuk terus meningkatkan mutu pendidikan.
Ia berharap perhatian terhadap sekolah di daerah terpencil terus diperkuat, terutama melalui penyediaan sarana yang memadai agar kesenjangan pendidikan desa dan kota dapat diperkecil.
Melalui penguatan kebijakan dan dukungan teknologi di lapangan, pemerintah menargetkan pendidikan yang lebih inklusif dan adaptif, termasuk bagi peserta didik di wilayah 3T yang selama ini menghadapi keterbatasan akses. (*)