Kemendikdasmen Targetkan Semua Kelas Pakai Papan Interaktif dalam 5 Tahun

Kemendikdasmen menargetkan seluruh ruang kelas di Indonesia dilengkapi papan interaktif digital (IFP) dalam lima tahun, seiring meningkatnya dampak positif teknologi ini pada pembelajaran.

Kemendikdasmen Targetkan Semua Kelas Pakai Papan Interaktif dalam 5 Tahun
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti melihat penggunaan papan interaktif digital saat kunjungan ke SMP Negeri 8 Pati. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Pemerintah menargetkan seluruh kelas di Indonesia menggunakan papan interaktif dalam lima tahun.
  • IFP terbukti meningkatkan keaktifan siswa dan kompetensi guru di sekolah.
  • Tantangan utama masih pada konektivitas jaringan dan keterbatasan perangkat.

RIAUCERDAS.COM, PATI - Transformasi digital pendidikan terus dipercepat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dengan target ambisius menghadirkan papan interaktif digital di seluruh ruang kelas dalam lima tahun ke depan.

Program ini dinilai mampu mengubah pola pembelajaran menjadi lebih interaktif dan berpusat pada siswa.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa setiap sekolah akan mendapatkan tambahan perangkat digital secara bertahap hingga seluruh kelas terfasilitasi teknologi pembelajaran.

“Setiap sekolah kami targetkan mendapatkan dua sampai tiga perangkat digital setiap tahun. Dalam lima tahun, seluruh ruang kelas diharapkan telah terfasilitasi teknologi pembelajaran,” kata dia.

Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan interaktif digital sudah mulai dirasakan di sejumlah sekolah, salah satunya di SMP Negeri 8 Pati.

Pelaksana tugas Kepala Sekolah, Rusmi, mengungkapkan bahwa penggunaan perangkat tersebut mendorong kolaborasi antar guru sekaligus meningkatkan keaktifan siswa.

“Guru-guru didorong untuk belajar bersama dalam pemanfaatan IFP dan menggunakannya secara bergantian dalam pembelajaran. Meskipun masih terbatas, perangkat ini telah memberikan dampak signifikan terhadap keaktifan dan pemahaman siswa,” jelasnya.

Hal serupa disampaikan Guru TIK, Mukhibatul Baroroh, yang menilai fitur-fitur pada IFP mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih partisipatif.

“Melalui fitur seperti multi-touch, touch screen, mirroring, hingga akses internet dan multimedia, pembelajaran dapat dikemas lebih interaktif. Siswa menjadi lebih aktif, antusias, dan lebih mudah memahami materi,” terangnya.

Menurutnya, penggunaan teknologi ini juga berdampak pada peningkatan kompetensi guru, terutama dalam pemanfaatan teknologi dan pengembangan metode pembelajaran yang lebih variatif.

“Sekolah telah menyelenggarakan lokakarya terkait kecerdasan artifisial dan penggunaan IFP. Selain itu, melalui komunitas belajar, kami saling bertukar pengalaman sehingga ide pembelajaran menjadi lebih variatif,” jelasnya.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama terkait konektivitas jaringan dan keterbatasan perangkat.

Perawatan rutin juga menjadi perhatian agar perangkat tetap optimal digunakan.

“Tantangan yang sering dihadapi adalah konektivitas jaringan yang belum stabil serta keterbatasan perangkat. Selain itu, perawatan IFP juga perlu dilakukan secara rutin,” ungkapnya.

Dari sisi siswa, penggunaan IFP memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik.

Amira Oktaviana mengaku materi pelajaran menjadi lebih mudah dipahami dengan bantuan teknologi tersebut.

“Menurut saya, menggunakan IFP lebih memudahkan dalam pembelajaran dibandingkan papan tulis biasa. Materi jadi lebih mudah dipahami dan lebih menarik untuk diikuti,” ujarnya.

Ia juga merasakan manfaat saat melakukan presentasi di kelas karena tampilan materi menjadi lebih jelas.

“Saat presentasi, IFP sangat membantu karena bisa menampilkan gambar dengan jelas sehingga memudahkan saya menjelaskan materi,” tambahnya.

Pengalaman serupa diungkapkan Keyla Patricia Agatha yang menilai pembelajaran menjadi lebih hidup dengan dukungan gambar, video, dan animasi.

“Belajar menggunakan IFP lebih menarik dan interaktif karena bisa menampilkan gambar, video, dan animasi. Materi jadi lebih mudah dipahami dibandingkan papan tulis biasa,” ujarnya.

Di Kabupaten Pati, program digitalisasi telah menjangkau 1.108 satuan pendidikan melalui bantuan IFP dan perangkat pendukung.

Pelaksana tugas Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, menilai program ini memberikan dampak positif terhadap inovasi pembelajaran.

“Program digitalisasi ini sangat membantu menciptakan pembelajaran yang lebih inovatif serta meningkatkan kenyamanan bagi guru dan siswa,” ujarnya.

Melalui penguatan digitalisasi ini, Kemendikdasmen berharap proses pembelajaran di Indonesia semakin adaptif, inovatif, dan mampu meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh. (*)