Kasus Hantavirus Kembali Muncul, Pakar Ingatkan Bahaya Debu Kotoran Tikus

Pakar Entomologi IPB University mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus tanpa panik berlebihan. Virus yang ditularkan tikus ini dapat menyerang paru-paru dan ginjal dengan tingkat fatalitas cukup tinggi apabila tidak ditangani cepat.

Kasus Hantavirus Kembali Muncul, Pakar Ingatkan Bahaya Debu Kotoran Tikus
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Hantavirus dapat menular melalui debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus terinfeksi.
  • Tingkat kematian akibat Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dapat mencapai sekitar 40 persen.
  • Pakar IPB mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyapu kotoran tikus kering karena virus bisa beterbangan dan terhirup.

RIAUCERDAS.COM - Kemunculan kembali kasus hantavirus memicu kekhawatiran masyarakat terhadap penyakit yang ditularkan hewan pengerat, terutama tikus.

IPB University mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan kotoran tikus yang berpotensi membawa virus.

Kepala Laboratorium Entomologi Kesehatan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof Upik Kesumawati mengatakan hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang sudah lama ditemukan dalam penelitian di Indonesia sejak era 1980-an.

Menurutnya, virus tersebut dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.

“Virus ini memang sudah lama ada dan penyebab utama nya adalah tikus. Tetapi kami mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan,“ kata Prof Upik Kesumawati dikutip dari laman IPB University, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan penularan hantavirus dapat terjadi ketika seseorang menghirup debu yang terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.

Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui kontak langsung dengan kotoran tikus maupun makanan yang sudah terkontaminasi.

Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan RI, hantavirus dapat menyebabkan dua sindrom utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.

Gejala awal infeksi umumnya berupa demam, nyeri otot terutama di bagian paha, punggung, dan bahu, tubuh lemas, sakit kepala, hingga gangguan saluran pencernaan.

Dalam kondisi lebih lanjut setelah empat hingga 10 hari, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas yang berkembang cepat, serta penurunan kadar oksigen dalam darah.

Sementara pada kasus HFRS, gejala dapat berkembang menjadi tekanan darah rendah, syok, kebocoran pembuluh darah, hingga gagal ginjal akut.

Prof Upik juga menyoroti Andes virus yang saat ini menjadi perhatian dunia karena dilaporkan memiliki kemungkinan penularan antarmanusia, meski kasusnya tergolong sangat jarang.

Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi habitat tikus.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menyapu atau membersihkan kotoran tikus kering tanpa tindakan pencegahan.

“Jangan langsung menyapu atau menyedot debu sarang dan kotoran tikus yang kering karena partikel virus dapat beterbangan dan terhirup. Basahi terlebih dahulu area tersebut menggunakan larutan disinfektan,” terangnya.

Selain menjaga kebersihan lingkungan, tutur Prof Upik, masyarakat juga dianjurkan rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas di area yang berpotensi menjadi tempat tikus berkembang.

Prof Upik meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam disertai gangguan pernapasan atau gangguan ginjal setelah terpapar lingkungan yang dicurigai terdapat kotoran tikus.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hantavirus memang tergolong penyakit langka, namun memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi.

Tingkat kematian akibat HPS dapat mencapai sekitar 40 persen, sedangkan HFRS berkisar 5 hingga 15 persen.

Karena itu, pengendalian populasi tikus dan kebersihan lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk menekan risiko penyebaran hantavirus di masyarakat. (*)