Konflik AS–Iran Picu Gejolak Pasar Global, Dosen UIR: IHSG Biasanya Hanya Terkoreksi Sementara
Konflik Amerika Serikat dan Iran memicu ketidakpastian global dan tekanan di pasar saham. Dosen UIR Dr. Septian Wahyudi menilai dampaknya terhadap IHSG umumnya bersifat jangka pendek, kecuali konflik berkembang menjadi krisis berkepanjangan.
RINGKASAN BERITA:
-
Konflik AS–Iran tingkatkan ketidakpastian global dan volatilitas pasar.
-
IHSG umumnya hanya terkoreksi sementara jika fundamental domestik kuat.
-
Sektor energi dan komoditas diuntungkan, sektor sensitif energi tertekan.
RIAUCERDAS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali mengguncang pasar keuangan global.
Meski memicu sentimen negatif dan aksi risk-off investor, dampaknya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai umumnya hanya bersifat sementara.
Dr. Septian Wahyudi, S.AB., M.Si., Penanggung Jawab Galeri Investasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Riau (UIR), menyatakan konflik geopolitik tersebut meningkatkan global risk uncertainty yang berdampak langsung pada pasar saham dunia.
“Pasar saham global cenderung bereaksi negatif karena konflik geopolitik berpotensi mengganggu stabilitas energi, rantai pasok global, serta arah kebijakan moneter dan fiskal negara besar,” ujarnya, dilansir dari laman UIR, Selasa (3/3/2026).
Menurut Septian, dampak paling nyata terlihat pada meningkatnya volatilitas pasar, pelemahan indeks saham, serta pergeseran dana ke aset aman seperti emas dan obligasi pemerintah.
Fenomena ini dikenal sebagai risk-off, ketika investor mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi di tengah ketidakpastian.
Ia menjelaskan, IHSG biasanya mengalami koreksi pada fase awal akibat aksi jual investor asing. Namun secara fundamental, ekonomi Indonesia relatif tidak terdampak langsung.
“IHSG biasanya terkoreksi di awal karena aksi risk-off investor asing. Namun secara fundamental, ekonomi Indonesia relatif tidak terdampak langsung"
Dr. Septian Wahyudi, S.AB., M.Si
Septian mencontohkan invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003 dan konflik Rusia–Ukraina pada 2022.
Pada fase awal, pasar saham global termasuk Indonesia mengalami tekanan.
Namun seiring meredanya ketidakpastian dan didukung fundamental domestik yang kuat, pasar kembali pulih.
Bahkan saat konflik Rusia–Ukraina, IHSG relatif cepat rebound karena ditopang kenaikan harga komoditas dan stabilitas ekonomi nasional.
Menurutnya, gejolak pasar saat konflik bukan hanya dipengaruhi faktor ekonomi riil, tetapi juga psikologi investor.
Ketidakpastian terhadap sektor energi dan perdagangan global mendorong reaksi cepat pelaku pasar, bahkan sebelum dampak nyata dirasakan.
Dalam kondisi seperti ini, strategi investasi sangat bergantung pada profil risiko dan horizon waktu masing-masing investor.
Trader jangka pendek disarankan mengutamakan strategi defensif dan pengelolaan risiko.
Sementara investor jangka menengah hingga panjang dapat memanfaatkan volatilitas sebagai momentum akumulasi saham berkualitas yang terkoreksi akibat sentimen global.
Septian juga menilai tidak semua sektor terdampak sama. Sektor energi, komoditas, dan emas biasanya diuntungkan.
Sebaliknya, sektor perbankan, pariwisata, manufaktur, serta industri yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi cenderung tertekan.
Adapun sektor defensif seperti consumer goods, telekomunikasi, dan kesehatan relatif lebih stabil.
Ia menegaskan investor perlu tetap rasional dan berpegang pada analisis fundamental.
“Konflik global memang memicu gejolak, namun sejarah menunjukkan bahwa pasar selalu menemukan titik keseimbangannya kembali,” pungkasnya. (*)