Kemendikdasmen Temukan Dampak Psikologis pada Murid Korban Kebakaran Kemayoran, Guru Dilibatkan dalam Pemulihan

Kemendikdasmen bersama HIMPSI mengungkap sejumlah murid korban kebakaran di Pasar Jiung, Kemayoran, mengalami gangguan fisik, emosional, dan kognitif pascabencana. Selain menyalurkan bantuan pendidikan, pemerintah juga memperkuat layanan dukungan psikososial dan melatih guru agar mampu menjadi penolong pertama dalam pemulihan psikologis siswa.

Kemendikdasmen Temukan Dampak Psikologis pada Murid Korban Kebakaran Kemayoran, Guru Dilibatkan dalam Pemulihan
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti,meneyerahkan bantuan kepada siswa yang keluarganya jadi korban kebakaran di Kemayoran, Rabu (3/6/2026). (Sumber: Kemendikdasmen)

RKNGKASAN BERITA: 

  • Asesmen HIMPSI menemukan murid korban kebakaran Kemayoran mengalami gangguan tidur, kecemasan, hingga kesulitan konsentrasi.
  • Kemendikdasmen menyalurkan 139 paket perlengkapan sekolah dan santunan bagi murid serta tenaga pendidik terdampak.
  • Guru dilatih memberikan Psychological First Aid (PFA) agar mampu menjadi penolong pertama dalam pemulihan psikologis siswa.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pemulihan kondisi psikologis murid menjadi perhatian utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pascakebakaran yang melanda kawasan Pasar Jiung, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Hasil asesmen awal menunjukkan sejumlah murid terdampak mengalami gangguan tidur, kecemasan, penurunan nafsu makan, hingga kesulitan berkonsentrasi setelah kehilangan tempat tinggal dan lingkungan yang selama ini menjadi ruang aman mereka.

Untuk mempercepat proses pemulihan, Kemendikdasmen menggandeng Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) melalui Korps Relawan Bencana (KRESNA) guna memberikan layanan dukungan psikososial bagi para korban.

Yuria Ekalitani dari tim KRESNA HIMPSI menjelaskan, hasil Rapid Psychological Assessment terhadap 20 murid yang terdampak langsung kebakaran menemukan adanya dampak yang cukup signifikan pada aspek fisik, emosional, dan kognitif.

Menurutnya, meski menghadapi tekanan psikologis akibat musibah, para murid masih memiliki dukungan sosial yang kuat dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Faktor tersebut dinilai menjadi modal penting dalam proses pemulihan.

"Kami tidak menggunakan terminologi trauma healing di fase emergensi ini, melainkan layanan dukungan psikososial untuk membangkitkan kapasitas self-healing individu," jelas Yuria.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan pemerintah bergerak cepat memastikan kebutuhan pendidikan murid terdampak tetap terpenuhi.

Ia meninjau langsung SDN Kebon Kosong 09 dan menyerahkan bantuan perlengkapan sekolah serta santunan bagi murid dan tenaga pendidik yang terdampak.

"Ini adalah bagian dari kepedulian dan komitmen kami atas arahan Bapak Presiden untuk segera memberikan perhatian kepada murid yang terdampak dan juga keluarganya," ujar Abdul Mu'ti, Rabu (3/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, sebanyak 20 murid SDN Kebon Kosong 09 menerima bantuan berupa tas sekolah, seragam merah putih, perlengkapan belajar, serta santunan senilai Rp200 ribu per orang.

Secara keseluruhan, Kemendikdasmen menyiapkan 139 paket bantuan untuk disalurkan kepada murid terdampak.

Perhatian juga diberikan kepada tenaga pendidik dan kependidikan yang menjadi korban kebakaran.

Kemendikdasmen menyerahkan santunan masing-masing Rp10 juta kepada Mariana Siregar, guru SDN Kebon Kosong 02, Aidil dari SDN Utan Panjang 01, serta Sudarni, guru PAUD Mawar.

Sudarni mengaku bantuan tersebut sangat berarti bagi dirinya yang harus memulai kehidupan kembali setelah kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran.

"Bantuan ini sangat bermanfaat bagi saya yang harus memulai kembali dari nol. Perhatian dari Kemendikdasmen ini menjadi motivasi besar bagi kami para pendidik untuk segera bangkit dan memulihkan kondisi fisik maupun psikologis pascamusibah," ungkapnya.

Selain memberikan pendampingan kepada murid, HIMPSI juga memperkuat kapasitas guru dan tenaga kependidikan melalui pelatihan Psychological First Aid (PFA) atau bantuan psikologis awal.

Langkah ini dilakukan agar guru mampu menjadi garda terdepan dalam mendeteksi perubahan perilaku siswa ketika kembali ke lingkungan sekolah.

Wiene Dewi Toorisnawati dari tim KRESNA HIMPSI mengatakan keterampilan tersebut penting dimiliki pendidik, sebagaimana pertolongan pertama pada kecelakaan dalam bidang kesehatan.

"Siapapun bisa memberikan dukungan psikologis, asalkan dibekali keterampilan yang tepat agar intervensinya sesuai dengan kebutuhan," katanya.

Ketua Umum HIMPSI, Andik Matulessy, menambahkan kolaborasi antara tenaga profesional dan sekolah menjadi kunci keberhasilan pemulihan psikologis pascabencana.

"Kami melatih guru dan tenaga kependidikan agar mampu memberikan Psychological First Aid atau bantuan psikologis awal, sehingga mereka dapat mendeteksi perubahan perilaku anak di kelas secara lebih peka," ujarnya.

Di sisi lain, Abdul Mu'ti memastikan musibah yang terjadi tidak akan menghambat hak pendidikan para murid.

Kemendikdasmen bersama Dinas Pendidikan DKI Jakarta telah menyiapkan mekanisme tes susulan bagi siswa yang tidak dapat mengikuti ujian akhir semester akibat kebakaran.

"Tidak perlu ada kekhawatiran dengan musibah ini mereka kehilangan kesempatan belajar. Kami terus bersinergi dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk memastikan hak belajar murid tetap terjaga," kata dia.

Selain bantuan materi, pemerintah berharap layanan dukungan psikososial yang diberikan mampu membangkitkan optimisme murid agar dapat kembali menjalani aktivitas belajar secara normal dan menghadapi masa depan dengan lebih percaya diri. (*)