UIR Kukuhkan Dua Guru Besar Baru, Perkuat Riset Pemasaran Digital dan Kecerdasan Buatan
Universitas Islam Riau (UIR) mengukuhkan dua guru besar baru dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Fakultas Teknik. Pengukuhan ini memperkuat kapasitas akademik UIR di bidang strategi pemasaran bisnis dan kecerdasan buatan.
RINGKASAN BERITA:
- UIR mengukuhkan dua guru besar baru di bidang strategi pemasaran bisnis dan kecerdasan buatan.
- Salah satu orasi ilmiah membahas pemanfaatan Large Language Model (LLM) untuk kajian Al-Quran dan pengembangan AI yang amanah.
- Pengukuhan menambah jumlah guru besar UIR menjadi 27 orang dan memperkuat kapasitas riset perguruan tinggi tersebut.
RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Universitas Islam Riau (UIR) kembali menambah jajaran profesor dengan mengukuhkan dua guru besar baru yang berasal dari bidang strategi pemasaran bisnis dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Pengukuhan dilakukan dalam Rapat Terbuka Senat UIR yang digelar di Auditorium Lantai IV Gedung Rektorat UIR, Rabu (3/6/2026).
Dua akademisi yang dikukuhkan tersebut adalah Prof. Annisa Mardatillah, S.Sos., M.Si sebagai Guru Besar Bidang Strategi dan Kebijakan Pemasaran Bisnis dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), serta Prof. Dr. Arbi Haza Nasution, B.IT (Hons), M.IT sebagai Guru Besar Bidang Kecerdasan Buatan dari Fakultas Teknik.
Pengangkatan keduanya tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Republik Indonesia Nomor 2041/M/KPT.KP/2026 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen.
Dengan pengukuhan tersebut, Prof. Annisa menjadi Guru Besar ke-26 dan Prof. Arbi Haza Nasution menjadi Guru Besar ke-27 di lingkungan UIR.
Rektor UIR, Assoc. Prof. Dr. Admiral, S.H., M.H menyampaikan apresiasi atas pencapaian tertinggi dalam karier akademik yang diraih kedua dosen tersebut.
Menurutnya, penambahan guru besar menjadi bagian dari komitmen universitas dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan penguatan kinerja perguruan tinggi.
“Dosen diminta untuk menjalankan Indikator Kinerja Utama Perguruan Tinggi, dalam hal ini Universitas Islam Riau akan senantiasa mengikhtiarkan yang terbaik terutama dalam peningkatan kapasitas SDM sehingga akan lahir guru besar-guru besar lainnya," kata Rektor.
Apresiasi serupa juga disampaikan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVII Riau dan Kepulauan Riau yang diwakili Kepala Bagian Umum, Sunarti, SP., MM.
Ia berharap kehadiran dua guru besar baru dapat menjadi inspirasi bagi sivitas akademika maupun masyarakat luas.
“Kami mewakili keluarga besar LLDIKTI mengucapkan selamat dan apresiasi atas dilantiknya guru besar ke 26 dan 27 bagi UIR, semoga dapat menjadi teladan dan inspirasi tidak hanya bagi civitas akademika UIR tetapi juga untuk khalayak di sekitarnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, kedua guru besar menyampaikan orasi ilmiah sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Prof. Annisa Mardatillah memaparkan orasi berjudul Rekonstruksi Strategi dan Kebijakan Pemasaran Bisnis dalam Menghadapi Dinamika Global melalui Pendekatan Islam Indigenous Product Creativity dan Transformasi Digital.
Ia menyoroti pentingnya integrasi teknologi digital dengan nilai-nilai budaya lokal sebagai strategi pemasaran yang mampu menjadi pembeda di tengah persaingan global.
“Dalam era digital saat ini, strategi pemasaran tidak hanya mengalami transformasi dari konvensional menjadi berbasis teknologi, tetapi juga semakin menuntut integrasi dengan kearifan lokal. Jika sebelumnya pemasaran cenderung bersifat umum dan seragam, kini pendekatan yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal justru menjadi kekuatan diferensiasi yang penting,” tutur dia.
Sementara itu, Prof. Arbi Haza Nasution menyampaikan orasi ilmiah bertajuk Large Language Model untuk Kajian Al-Quran Menuju Kecerdasan Buatan yang Amanah, Inklusif dan Berlandaskan Ilmu.
Penelitian yang dikembangkannya berfokus pada induksi leksikon dwibahasa, penerjemahan mesin multibahasa, serta teknologi kebahasaan untuk bahasa-bahasa dengan sumber daya terbatas atau low-resource languages.
Menurut UIR, riset tersebut menjadi bagian dari kontribusi dalam pengembangan teknologi bahasa yang inklusif sekaligus mendukung pelestarian bahasa-bahasa yang masih minim sumber daya digital.
Rapat Terbuka Senat UIR turut dihadiri sejumlah pejabat pemerintah, tokoh masyarakat, pengurus Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Riau, anggota senat, pejabat struktural, serta sivitas akademika UIR. (*)