Pemerintah Genjot Pelatihan Guru Inklusif, Layani 170 Ribu Siswa Disabilitas di Sekolah Umum

Pemerintah memperkuat pelatihan guru dan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan layanan pendidikan inklusif bagi lebih dari 170 ribu siswa disabilitas di sekolah umum.

Pemerintah Genjot Pelatihan Guru Inklusif, Layani 170 Ribu Siswa Disabilitas di Sekolah Umum
Mendikdasmen Abdul Mu'ti bersama seorang siswa. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Lebih dari 170 ribu siswa disabilitas di sekolah umum jadi fokus penguatan pendidikan inklusif.
  • Pemerintah dorong pelatihan berjenjang bagi guru untuk meningkatkan kompetensi inklusi.
  • Kolaborasi pemerintah dan DPR dinilai kunci sukses pemerataan pendidikan inklusif.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Upaya memperluas layanan pendidikan inklusif di Indonesia kini difokuskan pada penguatan kapasitas guru sebagai ujung tombak pembelajaran.

Langkah ini dinilai krusial untuk menjawab kebutuhan lebih dari 170 ribu murid penyandang disabilitas yang saat ini belajar di sekolah umum.

Melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan inklusif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, legislatif, hingga satuan pendidikan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif tidak dapat dicapai tanpa dukungan bersama dari seluruh pemangku kepentingan.

“Melayani anak-anak berkebutuhan khusus adalah sebuah kemuliaan. Ini membutuhkan kerja bersama—pemerintah, sekolah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan—agar layanan pendidikan inklusif dapat berjalan optimal,” ujarnya saat peluncuran program pelatihan pendidikan inklusif bagi guru dan tenaga kependidikan di SMP Negeri 16 Jakarta, Senin (20/4/2026).

Ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini terletak pada kesiapan guru dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif dan adil bagi seluruh siswa.

Karena itu, penguatan kapasitas guru, khususnya Guru Pendidikan Khusus (GPK), menjadi strategi utama dalam memperluas layanan inklusif.

Menurutnya, peran guru tidak hanya sebatas menyampaikan materi, tetapi juga menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari diskriminasi bagi seluruh peserta didik.

”Dengan kebersamaan dan komitmen yang kuat terutama dalam penguatan kapasitas guru, kita dapat memastikan bahwa seluruh anak Indonesia memperoleh pendidikan bermutu dan tumbuh menjadi generasi hebat,” tegasnya.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari legislatif. Ketua Komisi X DPR RI, Himmatul Aliyah, mengapresiasi langkah pemerintah dalam menjawab tantangan pendidikan inklusif di lapangan.

“Kami dari Komisi X DPR RI memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas peluncuran program ini. Ini merupakan jawaban atas tantangan di lapangan, khususnya terkait ketersediaan guru yang terlatih dalam pendidikan inklusif,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif memerlukan dukungan menyeluruh, termasuk kebijakan berkelanjutan, penyediaan sarana ramah disabilitas, serta kurikulum yang fleksibel.

“Kolaborasi antara satuan pendidikan, masyarakat, Kemendikdasmen, dan DPR RI harus terus menguat. Selain guru, kita juga perlu memastikan ketersediaan sarana prasarana yang ramah disabilitas, kurikulum yang fleksibel, serta sosialisasi kepada masyarakat agar semakin terbuka terhadap keberagaman,” tambahnya.

Dari sisi praktisi, para guru yang mengikuti pelatihan merasakan manfaat langsung dari program tersebut.

Elydawati, guru SD Ceger 02 Jakarta, menyebut pelatihan berjenjang yang diberikan sangat membantu dalam memahami kebutuhan murid berkebutuhan khusus.

“Pelatihan ini sangat membantu kami karena disusun berjenjang, mulai dari dasar hingga mahir. Kami tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga praktik melalui magang, sehingga lebih siap dalam mendampingi murid berkebutuhan khusus di sekolah,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keberadaan Guru Pendidikan Khusus di setiap sekolah, mengingat masih banyak satuan pendidikan yang belum memiliki pendampingan optimal bagi siswa berkebutuhan khusus.

Sementara itu, Zulfan Hartadi, guru SDN Pulo 07 Jakarta, menilai program ini membuka wawasan baru bagi guru dalam memahami karakteristik siswa.

“Program ini benar-benar menjawab kebutuhan kami sebagai guru. Kami jadi memahami bahwa banyak murid yang sebelumnya dianggap reguler ternyata memiliki kebutuhan khusus yang memerlukan pendekatan berbeda,” ungkapnya.

Ke depan, pemerintah berharap program pelatihan ini dapat menjangkau lebih banyak guru di seluruh Indonesia, sehingga layanan pendidikan inklusif dapat semakin merata dan berkualitas. (*)