Manfaat Puasa Ramadan bagi Kesehatan: Dosen UGM Ungkap Proses Autofagi hingga Stabilkan Gula Darah

Puasa Ramadan selama 12–14 jam dinilai mampu memicu proses autofagi yang berperan dalam detoksifikasi dan perbaikan sel tubuh. Dosen FK-KMK UGM menyebut manfaatnya mencakup stabilitas gula darah, sensitivitas insulin, hingga pengendalian berat badan, namun tetap perlu perhatian khusus bagi penderita diabetes dan kelompok rentan.

Manfaat Puasa Ramadan bagi Kesehatan: Dosen UGM Ungkap Proses Autofagi hingga Stabilkan Gula Darah
Ilustrasi puasa. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • Puasa Ramadan memenuhi durasi terjadinya autofagi yang membantu detoksifikasi dan perbaikan sel.
  • Manfaat kesehatan meliputi stabilisasi gula darah, peningkatan sensitivitas insulin, penurunan berat badan, dan kolesterol.
  • Penderita diabetes, anak-anak, dan lansia perlu pengawasan khusus selama berpuasa.

RIAUCERDAS.COMPuasa Ramadan selama 12–14 jam disebut mampu memicu proses autofagi di dalam tubuh, mekanisme alami yang berperan membersihkan sel-sel rusak dan memperbaikinya kembali. 

Proses biologis ini dinilai berdampak pada stabilitas gula darah, sensitivitas insulin, hingga penurunan kolesterol.

Penjelasan tersebut disampaikan Dosen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., Dietisien, MPH.

Ia menyebut durasi puasa Ramadhan telah memenuhi syarat terjadinya autofagi.

“Durasi puasa dapat memicu autofagi di dalam tubuh manusia. Sebab, autofagi membutuhkan sekitar 12-16 jam, sementara puasa Ramadan bisa 13-14 jam, bahkan di beberapa negara bisa lebih panjang,” ujarnya, Rabu (4/3/2026) dikutip dari laman UGM.

Menurut Mirza, autofagi tidak sekadar berfungsi sebagai proses detoksifikasi, tetapi juga memperbaiki sel yang mengalami kerusakan.

Sejumlah penelitian, lanjutnya, mengaitkan proses ini dengan pengendalian kadar gula darah, peningkatan efektivitas serta sensitivitas insulin, pengurangan berat badan, dan turunnya kadar kolesterol. 

“Autofagi tersebut bisa menjadi sebuah detoksifikasi dan perbaikan sel-sel yang rusak. Mampu menstabilkan gula darah, memberikan efektivitas kerja dan sensitivitas insulin, mengurangi berat badan, dan menurunkan kadar kolesterol, ” jelasnya.

Ia kemudian membedakan puasa Ramadan dengan metode Intermittent Fasting (IF).

Keduanya sama-sama memberikan dampak kesehatan, tetapi memiliki karakter berbeda, terutama dalam konteks penurunan berat badan. 

Pada IF, penurunan berat badan terjadi karena optimalisasi pembakaran cadangan lemak.

Sementara saat Ramadan, turunnya berat badan juga dipengaruhi oleh berkurangnya asupan cairan. 

“Kalau IF, berat badan turun karena pemanfaatan lemak sisa di tubuh, sementara puasa Ramadan karena kekurangan cairan serta pemanfaatan lemak tubuh,” terangnya.

Dari aspek metabolisme glukosa, manfaat puasa terhadap sensitivitas insulin disebut konsisten pada berbagai kelompok usia dan kondisi kesehatan.

Individu sehat dapat menjaga sensitivitas insulin tetap baik. 

Pada kondisi pradiabetes, puasa membantu regulasi glukosa sehingga kerja insulin lebih optimal.

Namun, penderita diabetes tipe 2 perlu pengawasan ketat, khususnya terkait konsumsi obat dan pengaturan makan.

Ia mengingatkan risiko hipoglikemia bagi pasien diabetes yang tidak mengontrol pola makan saat sahur dan berbuka.

“Yang rutin minum obat, tetapi menjalankan puasa dan makanannya tidak terkontrol, justru akan berisiko terkena hipoglikemi. Maka, kalau divonis diabetes, jangan cuma fokus sama obat tetapi juga dengan pola makannya,” tegasnya.

Perubahan pola tidur dan waktu makan selama Ramadan juga dinilai tidak perlu dikhawatirkan.

Pergeseran ritme biologis bersifat sementara karena hanya berlangsung satu bulan. 

“Memang saat bulan puasa ada perbedaan durasi tidur dan makanan. Namun, selama itu tidak perlu khawatir ada perubahan ritme sirkadian, karena waktunya cuma satu bulan,” jelasnya.

Dari sisi psikologis, puasa disebut membantu menjaga kestabilan emosi.

Kondisi sugar rush akibat konsumsi gula berlebih dapat ditekan karena aliran glukosa lebih terkendali. 

“Dengan puasa, banjir kanal glukosanya lebih terkendali, jadi kita bisa lebih tenang dan otak kekurangan glukosa jadi lebih sabar, tidak tersulut emosi,” ungkapnya.

Terkait asupan nutrisi, Mirza menekankan bahwa puasa tidak mengurangi kebutuhan gizi, melainkan hanya menggeser waktu makan.

Pemenuhan zat gizi seimbang tetap harus diperhatikan saat sahur dan berbuka. 

“Pada Ramadan bisa tetap memenuhi kebutuhan gizi karena hanya jamnya yang berbeda. Yang jadi masalah adalah ketidaktahuan kita untuk memenuhi gizi kita,” tuturnya.

Kelompok anak-anak dan lansia menjadi perhatian khusus.

Anak yang masih dalam masa pertumbuhan boleh berpuasa dengan pendampingan orang tua, terutama dalam pemenuhan gizi.

Sementara lansia dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti sering pusing atau lemah, tidak disarankan memaksakan diri.

“Selain anak-anak, lansia juga harus diperhatikan apabila sudah ada gejala kesehatan, seperti pusing, lemah, maka tidak dianjurkan untuk berpuasa,” katanya.

Mirza juga menyebut puasa sebagai proses metabolik alami yang dapat diukur melalui pemeriksaan kesehatan sebelum dan sesudah Ramadan.

“Puasa bisa menjadi riset metabolik, karena ada autofagi, sehingga metabolik yang tidak dibutuhkan itu bisa dibuang,” jelasnya.

Meski memiliki manfaat, ia menegaskan puasa berkepanjangan tanpa pertimbangan medis tidak dianjurkan karena berpotensi meningkatkan asam lambung, memicu GERD, mengganggu hormon, hingga menyebabkan penurunan berat badan tidak sehat.

“Puasa berkepanjangan tidak disarankan. Semisal kita berpuasa terus-terusan, kenaikan asam lambung hingga GERD, hingga perubahan hormonal,” tutupnya. (*)