Benarkah Matcha Bikin Kulit Glowing? Begini Penjelasan Fakta Ilmiahnya
Guru Besar IPB menegaskan matcha memang kaya antioksidan, tetapi bukan solusi instan untuk kulit glowing. Manfaatnya bertahap dan tetap perlu dikonsumsi secara wajar sebagai bagian pola makan seimbang.
RINGKASAN BERITA:
- Matcha mengandung antioksidan tinggi, terutama EGCG, tetapi penyerapannya rendah dalam tubuh.
- Manfaat kulit berasal dari efek antioksidan jangka panjang, bukan instan.
- Konsumsi berlebihan dapat memicu gangguan pencernaan, sehingga harus tetap wajar.
RIAUCERDAS.COM - Tren konsumsi matcha yang disebut-sebut bisa membuat kulit glowing dan awet muda semakin ramai di media sosial.
Namun, klaim tersebut dinilai perlu dilihat secara ilmiah agar tidak menimbulkan persepsi keliru di masyarakat.
Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Nuri Andarwulan, menjelaskan bahwa matcha memang kaya antioksidan, terutama katekin jenis epigallocatechin gallate (EGCG).
Meski begitu, manfaatnya tidak sesederhana klaim viral di media sosial.
“Matcha merupakan tepung teh hijau yang diproduksi melalui proses khusus. Ada perlakuan penaungan sekitar tiga sampai empat minggu sebelum dipanen supaya klorofilnya tinggi (shade-growing). Setelah dikeringkan, daun digiling sangat halus seperti tepung,” kata Prof Nuri menjelaskan.
Ia menyebut konsumsi matcha dalam bentuk bubuk utuh membuat kandungan nutrisinya lebih banyak tertelan dibanding teh seduh biasa.
“Kandungan katekin matcha lebih tinggi. EGCG pada matcha bisa mencapai lebih dari 120 mg per gram, lebih tinggi dibanding green tea biasa,” jelasnya dikutip dari situs IPB University, Rabu (25/2/2026).
Namun, Prof Nuri menegaskan bahwa daya serap senyawa fenolik seperti EGCG dalam tubuh manusia tergolong rendah.
“Kalau diserap, sangat kecil, di bawah lima persen. Sebagian besar masuk ke usus besar dan dimetabolisme oleh mikrobiota menjadi senyawa turunan (metabolit),” terang Prof Nuri.
Metabolit tersebut kemudian dapat masuk ke aliran darah dan memberi efek biologis, seperti antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator, termasuk pada sel kulit.
Efek ini berkaitan dengan kemampuan polifenol dalam menangkal radikal bebas.
Paparan sinar UV, polusi, dan gaya hidup tidak sehat diketahui dapat merusak kolagen dan elastin di lapisan dermis, yang memicu penuaan dini.
“Senyawa polifenol membantu menangkal radikal bebas sehingga mengurangi inflamasi dan menjaga integritas kolagen,” ujarnya.
Terkait cara konsumsi, Prof Nuri menilai manfaat optimal bisa diperoleh melalui kombinasi asupan oral dan penggunaan topikal.
“Kombinasi ideal adalah asupan dari dalam untuk proteksi sistemik dan topikal untuk perlindungan lokal di permukaan kulit,” kata dia.
Ia menambahkan, perbaikan kulit melalui konsumsi pangan cenderung bersifat bertahap dan jangka panjang karena bekerja di tingkat sel.
Sementara produk topikal memberikan efek lebih cepat di permukaan, tetapi bersifat sementara dan membutuhkan penggunaan rutin.
Di sisi lain, konsumsi matcha juga perlu dibatasi. Kandungan serat tidak larut yang tinggi dapat menimbulkan gangguan pencernaan jika dikonsumsi berlebihan tanpa asupan cairan cukup.
“Jika dikonsumsi berlebihan dan tanpa cukup cairan, dapat menimbulkan gangguan pencernaan seperti sembelit. Dalam kasus ekstrem, pada individu tertentu, bisa memicu masalah pada saluran cerna,” ungkapnya.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak terjebak klaim berlebihan.
“Matcha bisa menjadi bagian pola makan seimbang, tetapi bukan solusi instan untuk kulit glowing,” tutupnya. (*)