Ilmuwan Ubah Limbah Geothermal Jadi Nanosilika, Produktivitas Tanaman Naik hingga 50 Persen
Potensi panas bumi Indonesia tak hanya menjanjikan energi bersih, tetapi juga melahirkan terobosan di sektor pertanian. Peneliti Universitas Gadjah Mada berhasil mengolah endapan silika geothermal menjadi nanosilika yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman hingga 50 persen dan meraih penghargaan internasional Asia Innovation Awards 2025.
RINGKASAN BERITA:
- Indonesia punya 40 persen potensi panas bumi dunia, kini dimanfaatkan untuk inovasi pertanian.
- Endapan silika geothermal diolah menjadi nanosilika bernilai tinggi oleh peneliti UGM.
- Uji lapangan menunjukkan hasil panen meningkat hingga 30–50 persen di berbagai komoditas.
RIAUCERDAS.COM, YOGYAKARTA - Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan potensi energi panas bumi terbesar di dunia, mencapai sekitar 40 persen dari cadangan global atau setara 23.965,5 megawatt.
Dilansir dari portal UGM, selama ini, geothermal identik dengan pembangkit listrik.
Namun, para peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) membuktikan bahwa panas bumi juga menyimpan peluang besar bagi inovasi pertanian.
Dosen Fakultas Teknik UGM, Prof. Himawan Tri Bayu Murti Petrus, mengembangkan teknologi pengolahan endapan silika dari fluida panas bumi menjadi nanosilika bernilai tinggi.
Inovasi tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Best Innovation pada ajang The Hitachi Global Foundation Asia Innovation Awards 2025.
Melalui proses rekayasa material dan pengendalian tahapan produksi, silika geothermal berhasil ditransformasi menjadi nanosilika dengan karakteristik stabil dan konsisten.
Proses ini dirancang agar dapat direplikasi dan ditingkatkan skalanya, sehingga membuka peluang menuju penerapan industri dan hilirisasi di masa depan.
Dalam sektor pertanian, nanosilika berfungsi memperkuat dinding sel tanaman, meningkatkan ketegakan batang, serta memperbaiki efisiensi penyerapan nutrisi.
Keunggulannya terletak pada ukuran partikel yang sangat kecil sehingga mudah diserap tanaman, dengan kebutuhan aplikasi relatif rendah, sekitar 1–2 kilogram per hektare.
Hasil uji lapangan menunjukkan formulasi nanosilika mampu meningkatkan produktivitas tanaman hingga 30–50 persen pada berbagai komoditas, seperti padi, jagung, alpukat, pepaya, dan anggur.
Peningkatan tersebut didukung sinergi nanosilika dengan bahan lain seperti humat dan boron, yang dirancang untuk memperbaiki kesehatan tanah secara menyeluruh.
Selain pertanian, pengembangan nanosilika juga merambah sektor teknologi dan energi.
Material ini dikombinasikan dengan hidrogel untuk sistem pendingin pusat data dan baterai, yang mampu meningkatkan kapasitas serap air hingga tiga sampai lima kali lipat.
Riset lanjutan juga diarahkan pada pengembangan material penyerap uap air, biosensor, dan biomaterial untuk mendukung teknologi hijau.
Meski potensinya besar, tantangan utama inovasi ini terletak pada hilirisasi, yakni membawa hasil riset dari skala laboratorium menuju pemanfaatan industri secara luas.
Oleh karena itu, pengembangan produk turunan nanosilika terus diperluas agar konsep ekonomi sirkular dapat terwujud dalam rantai nilai yang berkelanjutan.
Penelitian ini telah dikembangkan secara konsisten sejak 2013 melalui kolaborasi multidisipliner, termasuk dengan NTU Singapore, Swinburne University, Kyushu University, dan University of the Philippines.
Jejaring internasional tersebut memperkuat integrasi riset material, rekayasa proses, dan perspektif keberlanjutan menuju penerapan yang lebih luas. (*)