Tren Edit Wajah Anak Pakai AI Viral di Medsos, Pakar IPB Ingatkan Risiko Privasi dan Kejahatan Digital
Tren mengedit wajah anak menggunakan kecerdasan buatan untuk konten hiburan di media sosial dinilai menyimpan risiko serius. Ketua Program Studi Kecerdasan Buatan IPB University, Prof Yeni Herdiyani, mengingatkan bahwa penggunaan foto anak sebagai data AI berpotensi mengancam keamanan data, privasi, hingga membuka peluang penyalahgunaan digital.
RINGKASAN BERITA:
-
Tren edit wajah anak dengan AI berisiko mengancam privasi dan keamanan data.
-
Foto anak yang diunggah berpotensi disalahgunakan dan dijadikan dataset AI.
-
Literasi digital dinilai kunci agar masyarakat lebih kritis memanfaatkan teknologi AI.
RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Maraknya tren mengedit wajah anak menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk konten dance dan hiburan di media sosial mendapat sorotan dari kalangan akademisi.
Di balik tampilan visual yang lucu dan menarik, praktik tersebut dinilai menyimpan risiko serius terhadap keamanan data dan privasi anak.
Ketua Program Studi Kecerdasan Buatan IPB University, Prof Yeni Herdiyani, menegaskan bahwa anak merupakan kelompok yang sangat rentan dalam ekosistem digital, terutama ketika wajah dan identitas visual mereka digunakan sebagai data dalam teknologi AI.
Menurut Prof Yeni, teknologi AI yang banyak dimanfaatkan dalam tren tersebut adalah generative AI (Gen-AI), yakni sistem yang mampu menghasilkan gambar, video, teks, hingga suara berdasarkan model dan data yang diberikan.
“Bayi dan dance adalah model yang sudah bisa dibuat oleh algoritma. Jika diberi informasi berupa foto riil, maka AI dapat membuat hasil secara otomatis yang tampak nyata. Itulah mekanisme teknologinya,” jelas Prof Yeni dilansir dari situs IPB, Senin (9/2/2026).
Ia mengingatkan bahwa ketika foto wajah anak diunggah ke ruang publik, data tersebut secara teknis dapat diakses dan berpotensi disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Risiko ini mencakup pencurian data, manipulasi identitas, hingga penggunaan ulang data untuk kepentingan lain tanpa izin.
“Kondisi ini menempatkan anak sebagai kelompok yang sangat rentan dalam ekosistem digital,” ujarnya.
Prof Yeni menekankan pentingnya peran orang tua dalam memahami risiko digital sebelum mengunggah atau mengedit wajah anak menggunakan teknologi AI.
Selain persoalan privasi, data yang diunggah juga dapat dimanfaatkan sebagai dataset untuk melatih algoritma dan berpotensi muncul kembali dalam bentuk konten lain.
Sebagai respons terhadap fenomena tersebut, Prof Yeni menyoroti pentingnya literasi digital di masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa IPB University secara konsisten membekali mahasiswa dengan pemahaman etika dan tanggung jawab penggunaan teknologi sejak tahun pertama perkuliahan, khususnya melalui mata kuliah berpikir komputasional.
Langkah ini diharapkan dapat membentuk generasi dan masyarakat yang lebih kritis, sadar risiko, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan. (*)