Kenapa Orang Bisa Galak Saat Ditagih Utang? Psikiater IPB Ungkap Respons Otak dan Stres Finansial
Psikiater IPB University dr Riati Sri Hartini menjelaskan bahwa perilaku galak saat ditagih utang merupakan respons stres akut akibat tekanan finansial dan ancaman harga diri. Reaksi ini berkaitan dengan kerja otak dan bukan otomatis menandakan gangguan kejiwaan.
RINGKASAN BERITA:
-
-
Galak saat ditagih utang dipicu stres finansial dan aktivasi respons fight or flight pada otak
-
Perilaku tersebut umumnya reaksi normal, bukan tanda gangguan jiwa
-
Pendekatan tenang dan tidak menyudutkan dinilai lebih efektif meredakan emosi
-
RIAUCERDAS.COM, BANDUNG - Banyak orang menjadi lebih mudah marah atau agresif saat ditagih utang. Perilaku ini kerap dianggap sebagai sikap buruk atau kurang etika.
Namun, menurut psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKj, MSc, respons tersebut memiliki dasar psikologis dan biologis yang kuat, terutama terkait stres finansial dan ancaman terhadap harga diri.
Dikutip dari situs IPB University, Minggu (8/2/2026), dr Riati menjelaskan, penagihan utang dapat memicu tekanan mental yang besar.
Kondisi ini membuat kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi menurun. Stres keuangan dan perasaan terancam secara personal menyebabkan mekanisme koping tidak bekerja optimal.
“Tekanan finansial dan rasa terancam pada harga diri membuat kontrol emosi melemah. Dari sudut pandang psikologis dan neurosains, ini adalah reaksi yang bisa dipahami,” ujar dr Riati.
Ia menambahkan, secara biologis tekanan tersebut mengaktifkan amigdala, bagian otak yang berfungsi mendeteksi ancaman.
Pada saat yang sama, fungsi prefrontal cortex yang berperan dalam penilaian rasional dan pengendalian emosi menjadi melemah.
“Kondisi ini membuat otak masuk ke mode fight or flight, sehingga respons yang muncul cenderung defensif dan agresif, bukan reflektif,” tutur dr Riati.
Karena itu, perilaku galak saat ditagih utang tidak bisa langsung disimpulkan sebagai persoalan karakter.
Menurut dr Riati, hal tersebut merupakan respons psikologis dan biologis terhadap stres, rasa malu, serta ancaman terhadap identitas diri dalam situasi finansial yang tertekan.
Bukan Tanda Gangguan Jiwa
Meski terlihat ekstrem, dr Riati menegaskan bahwa reaksi tersebut bukan otomatis menandakan gangguan kejiwaan.
Dalam banyak kasus, kemarahan muncul sebagai reaksi wajar ketika seseorang berada dalam tekanan berat.
“Masalah keuangan membuat tubuh dan pikiran berada dalam kondisi stres. Ketika ditagih, perasaan malu, takut, dan terpojok bisa muncul bersamaan, sehingga orang bereaksi dengan emosi tinggi. Ini lebih mirip refleks orang yang kaget, bukan karena sakit jiwa,” ungkapnya.
Selama kemarahan hanya muncul dalam situasi tertentu, misalnya saat ditagih utang, dan tidak berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut masih tergolong normal.
Namun, perlu kewaspadaan jika kemarahan muncul di banyak situasi, sulit dikendalikan, sampai menyakiti orang lain, mengganggu pekerjaan atau hubungan sosial, serta disertai keluhan lain seperti gangguan tidur berat, rasa putus asa berkepanjangan, atau perilaku berisiko.
dr Riati mengategorikan perilaku galak saat ditagih utang sebagai respons stres akut (acute stress response). Respons serupa juga bisa muncul ketika seseorang merasa terancam secara psikologis, mengalami frustrasi berat, menghadapi konflik interpersonal intens, stres mendadak, atau berada dalam kondisi fisik dan emosional yang lelah.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun stres keuangan berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi, utang bukan satu-satunya penyebab gangguan mental.
“Penyebab gangguan mental bersifat multifaktor, melibatkan aspek biologis, ekonomi, sosial, dan psikologis,” katanya.
Respons emosional juga dipengaruhi oleh siapa yang menagih utang. Jika yang menagih adalah teman atau orang dekat, reaksi yang muncul sering berupa rasa malu dan tersinggung karena harga diri dan relasi sosial ikut terancam.
Sementara jika yang menagih adalah debt collector, situasi lebih sering dipersepsikan sebagai ancaman, sehingga memicu stres akut dan respons bertahan seperti emosi tinggi atau agresi verbal.
“Meski tampak sama-sama galak, keduanya bukan tanda gangguan jiwa,” tegasnya.
Cara Menyikapi
Terkait cara menghadapi kondisi tersebut, dr Riati menyarankan agar pihak yang menagih tidak langsung melawan atau menekan.
Menurutnya, individu yang bersikap galak umumnya sedang merasa kewalahan, bukan berniat mencari konflik.
Pendekatan yang lebih baik adalah menenangkan situasi, berbicara dengan nada pelan, tidak menyudutkan, dan mengajak mencari solusi bersama,” ungkapnya.
Pendekatan yang tenang dinilai dapat membantu menurunkan emosi sehingga pembicaraan berjalan lebih rasional.
“Orang yang galak saat ditagih utang bukan perlu dimarahi, tetapi ditenangkan dan diajak mencari jalan keluar agar masalah tidak semakin besar,” tutup dr Riati. (*)