BRIN Ungkap Potensi Besar Mikroba Indonesia untuk Pangan Fungsional
Kekayaan mikroba yang dimiliki Indonesia dinilai berpotensi menjadi fondasi pengembangan pangan fungsional dan industri bioekonomi nasional. Dalam orasi ilmiahnya, Profesor Riset BRIN Andri Frediansyah menekankan pentingnya pendekatan metabologenomik untuk mengoptimalkan pemanfaatan biodiversitas mikroba tanpa rekayasa genetika.
RINGKASAN BERITA:
- BRIN menilai ribuan spesies mikroba Indonesia berpotensi menjadi fondasi industri pangan fungsional dan kesehatan masa depan.
- Pendekatan metabologenomik disebut mampu mengoptimalkan pemanfaatan mikroba tanpa rekayasa genetika sekaligus menjaga kearifan lokal.
- Pengembangan bioekonomi berbasis mikroba diyakini dapat menciptakan industri bernilai tinggi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat kemandirian pangan nasional.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat inovasi bioteknologi dunia melalui pemanfaatan kekayaan mikroba lokal yang selama ini masih banyak belum teridentifikasi.
Potensi tersebut diyakini dapat menjadi modal strategis dalam pengembangan pangan fungsional, bahan alam bernilai tinggi, hingga industri kesehatan berbasis biodiversitas.
Pandangan tersebut disampaikan Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dr. rer. nat. Andri Frediansyah, S.Si., M.Sc., saat menyampaikan orasi ilmiah pada Sidang Terbuka Pengukuhan Profesor Riset BRIN di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Menurut Andri, Indonesia sebagai negara mega biodiversitas menyimpan ribuan spesies mikroba yang tersebar di berbagai ekosistem, mulai dari hutan hujan tropis hingga kawasan laut dalam.
Namun, sebagian besar kekayaan hayati tersebut masih belum banyak diteliti dan dimanfaatkan secara optimal.
“Indonesia diperkirakan memiliki ribuan spesies mikroba yang tersebar di berbagai ekosistem unik. Namun, sebagian besar mikroba tersebut masih belum teridentifikasi dan tergorong, underexplored, bahkan unexplored,” terang Andri.
Ia menuturkan bahwa pemanfaatan mikroba sebenarnya telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama.
Berbagai produk fermentasi tradisional seperti tempe, oncom, tauco, dan tape merupakan bukti bahwa kearifan lokal telah memanfaatkan peran mikroorganisme dalam menghasilkan pangan.
Dalam orasinya yang berjudul Pendekatan Metabologenomik dalam Fermentasi Terkontrol untuk Mendukung Kemandirian Bahan Alam dan Pangan Fungsional di Indonesia, Andri menjelaskan bahwa mikroba seperti bakteri asam laktat, khamir, mikroalga, dan kapang memiliki potensi yang jauh lebih besar dibanding pemanfaatannya saat ini.
“Mikroba terdiri dari berbagai jenis seperti bakteri asamlaktat, khamir, mikroalga, maupun kapang, dan pemanfaatannya masih sangat terbatas. Padahal mikroba dapat berfungsi sebagai pabrik sel alami melalui berbagai proses untuk fermentasi yang terbagi menjadi tiga kategori, yaitu fermentasi spontan, terkontrol, dan presisi,” paparnya.
Andri menilai fermentasi terkontrol menjadi pendekatan yang paling sesuai untuk dikembangkan di Indonesia.
Selain tidak memerlukan rekayasa genetika, metode tersebut dinilai lebih aman dan memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat global.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, ia menawarkan pendekatan metabologenomik yang mengintegrasikan data genomik dan metabolomik guna mengungkap potensi metabolik mikroba, meningkatkan efisiensi produksi, serta menjamin kualitas produk yang dihasilkan.
Pendekatan metabologenomik menjembatani kearifan lokal dan inovasi industri, sekaligus mendukung pengembangan produk bernilai tambah yaitu bahan alam aktif murni untuk farmasetikal dan nutrasetikal.
"Kemudian, pangan fungsional berbasis bukti dan pangan fermentasi tradisional yang terstandardisasi, sebagai fondasi kokoh bagi kemandirian dan daya saing bangsa,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Andri menegaskan bahwa pendekatan tersebut juga dapat menjadi instrumen ilmiah untuk meningkatkan nilai ekonomi produk fermentasi tradisional Indonesia tanpa menghilangkan karakter asli dan keberlanjutan lingkungan.
“Pendekatan ini juga berfungsi sebagai alat saintifikasi yang mengangkat kearifan lokal fermentasi tradisional, seperti tempe, oncom, tauco, dan tape, menjadi produk industri modern berbasis bukti ilmiah, tanpa mengorbankan keaslian dan keberlanjutan ekologis,” jelasnya.
Meski demikian, menurut Andri, potensi besar tersebut tidak akan berkembang maksimal tanpa dukungan kebijakan dan investasi yang berkelanjutan.
Ia menyoroti perlunya penguatan infrastruktur riset, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan bank data genom mikroba nasional, serta regulasi yang mendukung hilirisasi inovasi dan perlindungan sumber daya genetik.
Dengan langkah tersebut, pendekatan metabologenomik diyakini dapat menjadi motor penggerak bioekonomi Indonesia yang mampu menciptakan industri bernilai tambah tinggi, membuka lapangan kerja berkualitas, mengurangi ketergantungan impor, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan kesehatan nasional.
“Masa depan kemandirian pangan dan kesehatan Indonesia dimulai dari langkah strategis hari ini dengan komitmen memahami dan melestarikan. Di samping itu juga mendayagunakan setiap mikroba sebagai anugerah bumi pertiwi, demi kesejahteraan bangsa yang berkelanjutan,” tandasnya. (*)