Partisipasi TKA 2026 Diklaim Tinggi dan Suasana Ujian Lebih Santai
Pelaksanaan TKA 2026 di berbagai daerah menunjukkan partisipasi tinggi dan suasana ujian yang lebih kondusif. Siswa mulai memandang TKA sebagai bagian dari proses belajar, bukan sekadar ujian.
RINGKASAN BERITA:
- TKA mulai dipandang siswa sebagai proses belajar, bukan ujian yang menegangkan.
- Partisipasi tinggi terjadi di berbagai daerah, termasuk DIY, Riau, NTB, dan Bengkulu.
- Pemerintah siapkan ujian susulan bagi daerah terdampak gempa.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 mulai menunjukkan perubahan persepsi di kalangan siswa.
Di berbagai daerah, asesmen ini tidak lagi dianggap menegangkan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar yang lebih santai dan bermakna.
Berdasarkan pemantauan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pelaksanaan TKA jenjang SD/MI/sederajat berlangsung lancar dengan tingkat partisipasi yang tinggi di berbagai wilayah.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta, sebanyak 48.675 siswa dari 2.014 sekolah mengikuti TKA.
Hampir seluruh satuan pendidikan melaksanakan ujian secara mandiri dengan moda daring, menunjukkan kesiapan infrastruktur digital di tingkat sekolah.
Sementara itu, di Provinsi Riau, partisipasi peserta tercatat mendekati 100 persen.
Pelaksanaan berlangsung tertib dengan suasana kondusif.
Kepala SD Negeri 009 Kayu Kapur Kota Dumai, Susilawati Lestari, menyampaikan bahwa pelaksanaan di sekolahnya berjalan lancar.
“Pelaksanaan TKA berjalan dengan lancar dan tertib. Peserta didik mengikuti tes dengan penuh semangat dan rasa percaya diri. Pengawas serta seluruh panitia juga bekerja dengan baik, sehingga suasana ujian terasa nyaman dan kondusif,” ujarnya.
Dari sisi siswa, pengalaman mengikuti TKA juga terasa lebih positif.
Qonita Annisa, siswa SDN 009 Kayu Kapur, mengaku mampu beradaptasi dengan baik saat ujian berlangsung.
“Di awal saya merasa cukup tegang, tetapi setelah membaca soal sudah mulai santai. Soal-soal yang diberikan cukup menantang. Saya ingin mempersiapkan diri lebih baik lagi untuk ujian berikutnya,” kata dia.
Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, sebanyak 100.060 siswa dari 4.117 satuan pendidikan mengikuti TKA.
Pada gelombang awal, 77.894 siswa dari 3.133 satuan pendidikan telah menyelesaikan tes, termasuk 41 satuan pendidikan SDLB.
Sementara di Provinsi Bengkulu, sebanyak 34.694 siswa dari 1.526 sekolah turut berpartisipasi dengan antusias.
Guru SD Islam Al Azhar 51 Kota Bengkulu, Abdul Azis, menilai kesiapan siswa semakin baik.
“Pada awalnya murid mungkin merasa jenuh, namun saat pelaksanaan TKA, mereka terlihat lebih tenang dan siap. Bahkan, senyum terlihat dari wajah murid saat keluar dari ruang ujian,” ungkapnya.
Berbagai temuan di lapangan menunjukkan bahwa TKA kini mulai dipandang sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar evaluasi yang menegangkan.
Dukungan lingkungan sekolah, kesiapan siswa, serta peran guru menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana tersebut.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, mengapresiasi kelancaran pelaksanaan TKA di berbagai daerah.
“Laporan yang kami terima, alhamdulillah semua berjalan lancar. Hanya ada beberapa daerah yang menjadwalkan susulan karena kondisi gempa bumi, sehingga anak-anak belum merasa aman. Bagi mereka yang belum dapat mengikuti, akan dijadwalkan ujian susulan saat kondisi sudah memungkinkan,” ujarnya.
Tingginya partisipasi dan suasana ujian yang lebih positif menunjukkan bahwa TKA semakin diterima sebagai instrumen penting dalam mengukur capaian belajar siswa secara menyeluruh dan berkelanjutan. (*)


