Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq Resmikan Revitalisasi 38 Sekolah di Bengkayang, Fokus Wilayah 3T Perbatasan Malaysia

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq meresmikan revitalisasi 38 satuan pendidikan di Kabupaten Bengkayang, wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia. Program ini menjadi bagian dari percepatan rehabilitasi sekolah di daerah 3T sekaligus memperkuat kualitas guru dan layanan pendidikan nasional.

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq Resmikan Revitalisasi 38 Sekolah di Bengkayang, Fokus Wilayah 3T Perbatasan Malaysia
Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq saat mesmikan revitalisasi 38 sekolah di Bengkayang. Proses revitalisasi fokus wilayah 3T di perbatasan Malaysia. (Sumber: Kemendimdasmen)

RINGKASAN BERITA:

  • Wamendikdasmen meresmikan revitalisasi 38 sekolah di Bengkayang, wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia.
  • Program mencakup pembangunan ruang kelas, UKS, sanitasi, hingga perbaikan fasilitas guru dan pimpinan sekolah.
  • Transformasi pendidikan diperkuat melalui MBG, TPG langsung ke rekening guru, beasiswa RPL, dan PPG Prajabatan.

RIAUCERDAS.COM, BENGKAYANG - Pemerintah pusat mempertegas komitmennya membangun pendidikan di kawasan perbatasan.

Di Kabupaten Bengkayang yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, sebanyak 38 satuan pendidikan resmi direvitalisasi dan dinyatakan rampung 100 persen.

Peresmian dilakukan Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, sebagai bagian dari percepatan rehabilitasi dan pembangunan sekolah di wilayah terdepan, terpencil, dan tertinggal (3T).

“Bengkayang bukan halaman belakang Indonesia. Bengkayang adalah teras depan Indonesia. Karena itu, wajah pendidikan di sini harus kuat, aman, dan membanggakan. Sekolah yang layak adalah fondasi kepercayaan diri anak-anak kita sebagai generasi bangsa,” tegas Wamendikdasmen.

Revitalisasi tersebut mencakup 3 PAUD, 19 SD, 12 SMP, dan 4 SMA.

Pekerjaan meliputi pembangunan ruang kelas baru, perbaikan ruang belajar, penyediaan ruang UKS, ruang kepala sekolah, ruang guru, hingga pembenahan toilet dan sanitasi. 

Sekolah-sekolah yang sebelumnya mengalami keterbatasan ruang dan kondisi bangunan kurang layak kini memiliki fasilitas yang lebih aman dan sehat.

Secara nasional, program revitalisasi telah menjangkau lebih dari 16 ribu satuan pendidikan dan akan terus diperluas sebagai bagian dari transformasi pendidikan dasar dan menengah.

Bupati Bengkayang menyatakan dukungan atas program tersebut dan menilai intervensi pusat sesuai dengan kebutuhan daerah perbatasan.

“Revitalisasi ini bukan sekadar pembangunan fisik. Ini adalah investasi jangka panjang bagi generasi Bengkayang.Dengan sekolah yang lebih aman, sehat, dan representatif, kami optimistis kualitas pendidikan di daerah perbatasan akan semakin meningkat,” ujarnya.

Dampak revitalisasi turut dirasakan langsung oleh warga sekolah.

Kepala TK Angkasa, Noviani, menyebut fasilitas UKS dan toilet siswa sebelumnya belum memadai. 

“Anak-anak kini lebih nyaman dan tidak lagi ragu menggunakan fasilitas sekolah. Orang tua pun semakin percaya pada layanan pendidikan kami,” ujarnya.

Perubahan signifikan juga terjadi di SDN 06 Dapan yang berada di wilayah 3T.

Sebelum pembenahan, tiga ruang kelas digunakan untuk enam rombongan belajar sehingga dua rombel harus digabung dalam satu ruangan. 

Kini sekolah tersebut mendapat tambahan dua ruang kelas dan satu ruang UKS. 

“Sekarang pembelajaran lebih fokus dan tertata. Anak-anak memiliki ruang belajar yang layak.Dukungan masyarakat melalui gotong royong juga memperkuat rasa memiliki terhadap sekolah,” ungkap Kepala SDN 06 Dapan, Rosalina Dare.

Di tingkat menengah atas, Kepala SMAN 1 Bengkayang, Sri Yanti, menyampaikan sekolahnya yang berdiri sejak 1984 baru pertama kali memperoleh revitalisasi menyeluruh.

 “Kami memperoleh lima ruang kelas baru, rehabilitasi tiga ruang kelas, serta pembenahan ruang pimpinan, ruang guru, dan toilet. Ini bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga membangkitkan semangat berprestasi seluruh warga sekolah,” tuturnya.

Pemerintah menegaskan bahwa pembenahan fisik hanyalah satu bagian dari transformasi pendidikan.

Selain sarana prasarana, penguatan kualitas pembelajaran dan kesejahteraan guru juga menjadi prioritas.

Program tersebut meliputi penyediaan perangkat pembelajaran digital, implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penyaluran Tunjangan Profesi Guru (TPG) langsung ke rekening guru setiap bulan.

Lalu, beasiswa S1/D4 melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), serta kuota Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan.

“Kita tidak hanya membangun gedungnya, tetapi juga memperkuat gurunya, memastikan kesejahteraannya, serta menyiapkan pembelajaran yang relevan dengan tantangan zaman. Pendidikan yang kuat di perbatasan adalah fondasi kedaulatan bangsa,” tegasnya.

Revitalisasi 38 sekolah di Bengkayang menandai upaya pemerintah memastikan akses pendidikan berkualitas tidak terhambat faktor geografis.

Di kawasan perbatasan, pembangunan sekolah menjadi simbol nyata kehadiran negara dalam membangun masa depan generasi Indonesia. (*)