Hardiknas 2026, Menag Dorong Kurikulum Cinta dan Ekoteologi untuk Bentuk Karakter Siswa

Menteri Agama menekankan pentingnya kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi dalam peringatan Hardiknas 2026. Pendekatan ini dinilai mampu membentuk karakter siswa yang peduli sesama dan lingkungan.

Hardiknas 2026, Menag Dorong Kurikulum Cinta dan Ekoteologi untuk Bentuk Karakter Siswa
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerahkan penghargaan kepada Rifqi Nadhim Uqail dari MTsN 9 Kediri atas karya seni lukis, serta Valzan Baruna Arkananta dari MAN IC Pekalongan yang meraih Letter of Acceptance terbanyak di 24 perguruan tinggi luar negeri saat peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, Sabtu (2/5/2026). (Sumber: Kemenag).

RINGKASAN BERITA: 

  • Kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi jadi arah baru pendidikan keagamaan.
  • Pendidikan difokuskan pada pembentukan karakter dan kepedulian lingkungan.
  • Minat masyarakat ke madrasah tinggi, banyak sekolah memiliki daftar tunggu panjang.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 dimanfaatkan pemerintah untuk mempertegas arah baru pendidikan keagamaan yang lebih berorientasi pada pembentukan karakter dan kepedulian lingkungan.

Salah satu fokusnya adalah penguatan kurikulum berbasis cinta dan ekoteologi.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa pendidikan keagamaan tidak cukup hanya menekankan aspek intelektual, tetapi juga harus membangun nilai kemanusiaan dan harmoni dengan alam.

“Jika cinta sudah berbicara, maka seluruh persoalan bisa selesai dengan mudah,” tegasnya dalam upacara Hardiknas, Sabtu (2/5/2026).

Melalui pendekatan kurikulum berbasis cinta, pemerintah ingin menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih humanis dan kondusif.

Peserta didik diharapkan mampu mengembangkan empati serta menyelesaikan persoalan secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, konsep ekoteologi juga diperkuat sebagai bagian dari sistem pendidikan.

Pendekatan ini menekankan hubungan yang seimbang antara manusia, Tuhan, dan alam sebagai satu kesatuan yang saling mendukung.

“Tidak mungkin kita bisa sempurna menjadi hamba, manakala kita tidak didukung oleh alam yang kondusif,” ujar Nasaruddin.

Ia menambahkan bahwa peran manusia sebagai khalifah di bumi tidak terlepas dari hubungan harmonis dengan seluruh makhluk.

Karena itu, konsep persaudaraan diperluas tidak hanya antar manusia, tetapi juga mencakup seluruh ciptaan Tuhan.

Minat masyarakat terhadap pendidikan keagamaan pun dinilai masih tinggi.

Hal ini terlihat dari banyaknya madrasah yang memiliki daftar tunggu panjang.

“Alhamdulillah sekolah-sekolah keagamaan terutama madrasah, mash banyak yang memiliki daftar tunggu bertahun-tahun untuk mengakses pendidikan keagamaan,” kata Menag.

Menurutnya, kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keagamaan tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan karakter peserta didik.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Menteri Agama juga memberikan apresiasi kepada siswa madrasah berprestasi.

Penghargaan diberikan kepada Rifqi Nadhim Uqail dari MTsN 9 Kediri atas karya seni lukis, serta Valzan Baruna Arkananta dari MAN IC Pekalongan yang meraih Letter of Acceptance terbanyak di 24 perguruan tinggi luar negeri.

Di akhir sambutannya, Nasaruddin mengingatkan pentingnya keikhlasan dalam menjalankan proses pendidikan sebagai fondasi menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (*)