Kemendikdasmen Luncurkan Program SMK 3+1, Siapkan Lulusan Kerja di Luar Negeri
Kemendikdasmen meluncurkan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) untuk memperkuat kesiapan lulusan SMK bekerja di pasar global melalui tambahan pembelajaran bahasa, budaya kerja, mental, dan perlindungan tenaga migran.
RINGKASAN BERITA:
- Program SMK 3+1 memberi tambahan satu tahun pembelajaran khusus persiapan kerja luar negeri.
- Siswa dibekali bahasa asing, budaya kerja, hukum ketenagakerjaan, hingga kesiapan mental.
- Sedikitnya 49 SMK di Indonesia sudah menerapkan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri.
RIAUCERDAS.COM, SURABAYA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai memperkuat jalur kerja internasional bagi lulusan SMK melalui peluncuran program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1).
Program ini dirancang untuk menjawab meningkatnya kebutuhan tenaga kerja global sekaligus memperluas peluang kerja lulusan vokasi Indonesia di luar negeri.
Peluncuran program dilakukan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5/2026).
Agenda tersebut digelar bersamaan dengan pelepasan 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang akan bekerja di berbagai negara.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin mengatakan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) mulai dirancang sejak 2025 sebagai strategi memperkuat koneksi pendidikan vokasi dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
“Program ini adalah jembatan kebekerjaan internasional lulusan SMK yang sesuai dengan arah kebijakan pendidikan vokasi yang mendorong link and match dengan industri serta memperluas akses peluang kerja, termasuk peluang kerja luar negeri. Kerja sama inilah yang akan menjadi wajah masa depan pendidikan vokasi Indonesia,” kata Tatang.
Program tersebut memberikan tambahan masa belajar selama satu tahun setelah siswa menjalani pendidikan reguler SMK selama tiga tahun.
Pada tahun tambahan itu, siswa akan dibekali kemampuan bahasa asing, pemahaman budaya kerja negara tujuan, pengetahuan hukum ketenagakerjaan, hingga perlindungan hak tenaga migran Indonesia.
Bekerja di luar negeri tentu tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar hidup mandiri dan menjadi duta dan membawa nama baik bangsa.
"Oleh karena itu, tambahan satu tahun belajar ini membuat murid SMK yang akan bekerja ke luar negeri ini benar-benar sudah siap, baik secara mental, bahasa, termasuk hukum dan hak-hak perlindungan tenaga migran Indonesia di negara tujuan,” terangnya.
Saat ini, program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) telah diterapkan di sedikitnya 49 SMK di berbagai daerah di Indonesia.
Kemendikdasmen menargetkan sekolah-sekolah yang terlibat mampu mengintegrasikan kebutuhan kerja internasional ke dalam kurikulum pendidikan masing-masing.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menyebut program tersebut menjadi bagian dari arah baru pengembangan SMK agar lulusan tidak hanya terserap di pasar kerja domestik, tetapi juga mampu bersaing secara internasional.
“Program ini sekaligus menjadi upaya untuk memenuhi hak konstitusi, di mana setiap warga negara berhak mendapat kehidupan yang layak bagi kemanusiaan,” ujar Abdul Mu’ti.
Program ini juga mendapat respons positif dari sekolah-sekolah pelaksana.
Kepala SMKS Muhammadiyah 1 Malang, Kusdarmadi menilai tambahan satu tahun pembelajaran sangat penting untuk mempersiapkan siswa bekerja di luar negeri.
“Kalau hanya persiapan tiga tahun di sekolah itu masih sangat kurang. Murid perlu tambahan waktu untuk persiapan bekerja di luar negeri, terutama tambahan dari aspek bahasa, adaptasi negara tujuan, dan tentu saja budaya kerja di negara tujuan,” terangnya.
Ia mengatakan sekolahnya telah menggandeng sejumlah pihak, termasuk TNI untuk penguatan fisik dan tim psikologi guna mempersiapkan mental siswa sebelum bekerja di luar negeri.
SMKS Muhammadiyah 1 Malang sendiri telah memberangkatkan lulusan bekerja ke luar negeri sejak 2019, terutama ke Jepang, di sektor pertanian, industri, hingga caregiver.
“Dengan program ini, kami harap akan semakin banyak murid yang berangkat bekerja di luar negeri karena memang sangat menjanjikan,” tambah Kusdarmadi.
Hal senada disampaikan Kepala SMKN 1 Buduran Sidoarjo, Agustina. Ia menyebut minat siswa bekerja di luar negeri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
“Dengan adanya program ini, kami bisa benar-benar menyiapkan murid lebih awal. Sejak kelas 10 sudah bisa kami mulai. Jadi, ini benar-benar solusi untuk meningkatkan kebekerjaan lulusan SMK menuju Indonesia Emas 2045,” kata Agustina.
Melalui program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1), pemerintah berharap lahir generasi muda Indonesia yang lebih kompetitif, siap bersaing di pasar global, dan mampu membawa nama baik bangsa di tingkat internasional. (*)