Masih Bisa Daftar, Siswa SMA dan SMK Berpeluang Menuju Olimpiade AI Dunia

Kemendikdasmen melalui Puspresnas memperluas Ekshibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial (EKKA) ke ajang LKS dan OSN Pendidikan Menengah 2026. Program ini membuka peluang bagi pelajar SMA dan SMK untuk mengembangkan inovasi AI, mengikuti pembinaan nasional, hingga berkesempatan mewakili Indonesia pada International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI).

Masih Bisa Daftar, Siswa SMA dan SMK Berpeluang Menuju Olimpiade AI Dunia
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • EKKA 2026 resmi diperluas ke ajang LKS dan OSN Pendidikan Menengah untuk memperkuat pembinaan talenta AI nasional.
  • Finalis EKKA OSN berpeluang mengikuti seleksi dan pembinaan menuju International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI).
  • Kompetisi menantang siswa merancang aplikasi berbasis AI yang mampu menyelesaikan persoalan nyata di berbagai sektor kehidupan.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pelajar jenjang pendidikan menengah kini memiliki jalur yang lebih luas untuk mengembangkan kompetensi di bidang kecerdasan artifisial (AI).

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) memperluas pelaksanaan Ekshibisi Kompetisi Kecerdasan Artifisial (EKKA) pada ajang Lomba Kompetensi Siswa (LKS) dan Olimpiade Sains Nasional (OSN) Pendidikan Menengah Tahun 2026.

Langkah tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Sosialisasi EKKA yang digelar Puspresnas bersama Cakrawala University dan Merkle Innovation pada Senin (15/6/2026).

Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada murid, guru, sekolah, serta Dinas Pendidikan kabupaten/kota dan provinsi terkait kebijakan, mekanisme, serta tahapan pelaksanaan EKKA pada LKS dan OSN Dikmen 2026.

Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bidang Transformasi Digital dan Kecerdasan Buatan, Muhammad Muchlas Rowi, mengatakan pengembangan kecerdasan artifisial di dunia pendidikan harus dilakukan secara inklusif, adaptif, dan melibatkan berbagai pihak.

Pendidikan, menurutnya, tidak hanya menyiapkan murid untuk lulus sekolah, tetapi juga menyiapkan mereka menghadapi dunia yang bahkan belum ada hari ini.

"Karena itu, kami ingin mendorong murid Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pencipta solusi berbasis kecerdasan artifisial melalui ekshibisi ini,” ujar Muchlas.

Menurutnya, EKKA diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki kemampuan sebagai pemecah masalah, inovator, peneliti, hingga pengembang kecerdasan artifisial yang mampu memberikan solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat.

Ia menyebut pemanfaatan AI dapat diarahkan untuk mendukung sektor pendidikan, pertanian, kesehatan, lingkungan, penyandang disabilitas, Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM), hingga pelayanan publik.

Selain penguasaan teknologi, penyelenggaraan EKKA juga menekankan pentingnya penerapan prinsip kecerdasan artifisial yang bertanggung jawab.

“Kecerdasan artifisial terbaik adalah kecerdasan artifisial yang membantu kemanusiaan. Karena itu, kecerdasan artifisial yang dikembangkan harus aman, transparan, adil, dan bermanfaat bagi masyarakat,” kata dia.

Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, menyampaikan bahwa kebutuhan kompetensi AI terus meningkat di berbagai bidang.

Karena itu, Puspresnas kembali menghadirkan EKKA pada tahun 2026 dengan sosialisasi yang dilakukan lebih awal agar sekolah dan peserta memiliki waktu persiapan yang lebih matang.

“Pada tahun lalu, Indonesia juga telah mengirimkan peserta ke ajang International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI). Tahun ini, ekshibisi kecerdasan artifisial juga diperluas pada ajang LKS Dikmen sebagai upaya memperkuat ekosistem pembinaan talenta kecerdasan artifisial nasional,” ujar Irene.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Rektor Cakrawala University, Alim Anggono.

Ia menilai kecerdasan artifisial menjadi salah satu kompetensi yang perlu dipersiapkan sejak dini agar generasi muda mampu menghadapi perubahan di masa depan.

“Kami berharap program ini dapat berjalan dengan baik dan menjadi bagian dalam membangun ekosistem pembinaan talenta kecerdasan artifisial di Indonesia,” ujar Alim.

Antusiasme peserta terlihat dari minat pelajar yang mulai mendaftarkan diri pada EKKA. Salah satunya Annisa Rahmayanti dari SMK Negeri 1 Tarakan yang memilih mengikuti jalur LKS Dikmen.

“Alasan saya mengikuti ekshibisi ini adalah untuk belajar tentang hal baru dan mencoba menciptakan soft skill bagi diri saya. Saya tertarik dengan kecerdasan artifisial dan ingin mengujinya,” papar Annisa.

Pada kategori LKS Dikmen, kompetisi dilaksanakan melalui pendekatan studi kasus.

Setiap tim ditugaskan merancang, mengembangkan, dan mempresentasikan aplikasi berbasis kecerdasan artifisial yang mampu menjawab permasalahan nyata sesuai tantangan yang ditetapkan panitia.

Peserta LKS Dikmen merupakan murid aktif SMA, MA, SMK, MAK, atau sederajat yang ditetapkan sebagai perwakilan provinsi melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Provinsi.

Pendaftaran dibuka pada 15 hingga 22 Juni 2026, sementara pengumpulan karya berlangsung mulai 22 Juni sampai 3 Juli 2026.

Tahapan seleksi dijadwalkan pada 6 hingga 10 Juli 2026, dilanjutkan pengumuman tiga tim finalis pada 13 Juli 2026. Babak final nasional akan berlangsung di Jakarta pada 30 Juli hingga 1 Agustus 2026.

Sementara itu, pada OSN Dikmen, EKKA resmi menjadi bagian dari rangkaian Olimpiade Sains Nasional 2026 sekaligus menjadi sarana pengenalan cabang kompetisi kecerdasan artifisial dalam OSN.

Peserta yang dapat mengikuti EKKA OSN berasal dari jenjang SMA, MA, SMK, MAK, atau sederajat kelas X hingga XII, tidak lolos OSN tingkat provinsi pada bidang apa pun tahun 2026, serta memperoleh izin dari orang tua, wali, guru, atau kepala sekolah.

Pendaftaran dibuka mulai 15 Juni hingga 15 Juli 2026. Babak pra-seleksi akan dilaksanakan pada 30 Juli 2026 dan hasilnya diumumkan pada 5 Agustus 2026.

Selanjutnya, semifinal berlangsung pada 12 Agustus 2026 dengan pengumuman 30 finalis terbaik pada 18 Agustus 2026.

Final nasional EKKA OSN akan digelar di Malang, Jawa Timur, pada 14 hingga 20 September 2026. Peserta yang berhasil lolos seleksi daring dan mengikuti tahap final nasional berkesempatan mengikuti proses seleksi serta pembinaan menuju IOAI.

Sosialisasi tersebut turut menghadirkan narasumber Ikhsanul Habibie dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) atau Ikatan Alumni Tim Olimpiade Komputer Indonesia (IA TOKI), serta Darianti dari Merkle Innovation.

Melalui penyelenggaraan EKKA 2026, Kemendikdasmen berharap semakin banyak talenta muda Indonesia yang mampu menghasilkan inovasi kecerdasan artifisial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing bangsa di tingkat global. (*)