Batik Sawit Bedelau Diluncurkan, Siap Jadi Ikon Baru Riau dan Cenderamata Ajang Internasional
Inovasi wastra Batik Sawit Bedelau resmi diluncurkan di Pekanbaru dengan memanfaatkan stearin sawit sebagai bahan malam batik. Produk ini diproyeksikan menjadi ikon baru Riau sekaligus cenderamata pada ajang IMT-GT yang menghadirkan tamu dari Indonesia dan tiga negara.
RINGKASAN BERITA:
- Batik Sawit Bedelau akan menjadi salah satu cenderamata pada ajang internasional IMT-GT 2026.
- Inovasi ini memanfaatkan stearin sawit sebagai bahan malam batik yang menghasilkan kain lebih lentur, tahan retak, dan berwarna lebih cerah.
- DWP Provinsi Riau dan Dekranasda Pekanbaru mendorong Batik Sawit Bedelau menjadi ikon baru daerah sekaligus penguat ekonomi kreatif berbasis sawit.
RIAUCERDAS.COM, PEKANBARU - Batik Sawit Bedelau resmi diperkenalkan sebagai inovasi wastra khas Riau yang mengangkat potensi kelapa sawit menjadi produk budaya bernilai tambah.
Kehadiran batik tersebut bahkan telah dipersiapkan untuk tampil di ajang internasional sebagai salah satu cenderamata pada perhelatan Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang berlangsung pada 4-7 Agustus 2026.
Peluncuran Batik Sawit Bedelau digelar di Hotel Pangeran, Kota Pekanbaru, Kamis (30/7/2026), mengusung tema "Merawat Tradisi, Menginspirasi Negeri".
Acara tersebut turut dimeriahkan dengan peragaan busana yang menampilkan karya para peserta pelatihan batik sawit.
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Riau, Herawati Abdi, yang hadir dalam kegiatan itu menyebut peluncuran Batik Sawit Bedelau menjadi langkah konkret dalam mengoptimalkan potensi kelapa sawit di luar sektor industri primer.
Menurutnya, komoditas unggulan Riau tersebut kini dapat dikembangkan menjadi produk kebudayaan yang memberikan nilai tambah sekaligus memperkuat sektor ekonomi kreatif.
"Dengan adanya Batik Sawit Bedelau, diharapkan Provinsi Riau memiliki ikon batik baru yang tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menginspirasi inovasi berbasis sumber daya lokal," kata Herawati.
Ia berharap pemanfaatan bahan baku lokal tersebut mampu meningkatkan daya saing perajin batik Riau sehingga dapat menembus pasar nasional hingga internasional.
Secara teknis, Batik Sawit Bedelau menggunakan malam batik berbahan dasar stearin atau olahan minyak kelapa sawit sebagai pengganti parafin konvensional.
Penggunaan bahan tersebut menghasilkan kain yang lebih lentur, tidak kaku, tahan retak saat dilipat, serta memberikan warna yang lebih cerah dan nyaman digunakan selama proses membatik.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Pekanbaru, Sulastri Agung, menilai inovasi tersebut membuktikan bahwa komoditas sawit tidak hanya memiliki nilai ekonomi di sektor industri, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk budaya.
"Saya sangat mengapresiasi inovasi ini. Menyadarkan kita bahwa sawit bisa dibuat batik. Dan ini bisa mengangkat potensi kekayaan Riau. Ini sangat luar biasa," ungkap Sulastri.
Menurutnya, Batik Sawit Bedelau memiliki peluang besar untuk dipromosikan di tingkat internasional.
Karena itu, pihaknya telah merencanakan batik tersebut menjadi salah satu cenderamata pada ajang IMT-GT yang akan menghadirkan 45 kepala daerah se-Indonesia serta tamu istimewa dari tiga negara.
"Sebagai bentuk apresiasi kami, nantinya Batik Sawit Bedelau akan dijadikan sebagai salah satu cenderamata pada ajang IMT-GT yang menghadirkan 45 kepala daerah se Indonesia dan juga tamu istimewa dari 3 negara," terang dia.
Selain itu, Sulastri mendorong agar Batik Sawit Bedelau dikembangkan dalam berbagai model busana modern, seperti outer dan baju singkap, sehingga dapat digunakan pada kegiatan formal maupun nonformal.
"Karena pada dasarnya, batik bukan lagi pakaian yang dikhususkan pada acara formal saja. Namun sudah bertransformasi menjadi pakaian casual yang kekinian. Seperti kami di Pemko Pekanbaru, setiap hari Kamis, wajib mengenakan outer Melayu. Mungkin nanti Batik Sawit Bedelau juga bisa didesain serupa," kata eks anggota DPRD Riau ini.
Ia berharap peluncuran Batik Sawit Bedelau menjadi bukti komitmen Riau dalam menjaga tradisi sekaligus menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal.
"Diharapkan batik ini dapat menjadi ikon baru daerah dan meningkatkan nilai tambah komoditas sawit Riau di pasar nasional maupun global," tandas Sulastri. (*)