BRIN Kembangkan Glutation dari Limbah Bioetanol, Potensi Jadi Antioksidan Bernilai Tinggi

BRIN memperkenalkan inovasi glutation dari limbah yeast bioetanol yang berpotensi menjadi antioksidan bernilai tinggi. Riset ini membuka peluang pemanfaatan limbah industri menjadi produk kesehatan dan ekonomi baru.

BRIN Kembangkan Glutation dari Limbah Bioetanol, Potensi Jadi Antioksidan Bernilai Tinggi
Badan Riset dan Inovasi Nasional memperkenalkan inovasi baru berupa glutation hasil ekstraksi limbah biomassa yeast industri bioetanol.

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN berhasil mengekstraksi glutation dari limbah yeast industri bioetanol.
  • Metode biologis menghasilkan konsentrasi glutation lebih tinggi dibanding metode lain.
  • Inovasi ini berpotensi dikembangkan industri dengan nilai pasar global yang besar.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional memperkenalkan inovasi baru berupa glutation hasil ekstraksi limbah biomassa yeast industri bioetanol.

Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN, Farida Rahayu, menjelaskan bahwa glutation dikenal sebagai “master antioksidan” yang secara alami diproduksi oleh manusia, hewan, dan mikroorganisme.

Senyawa ini tersusun atas tiga asam amino, yakni asam glutamat, sistein, dan glisin.

“Glutation memang dikenal sebagai master antioksidan. Dan glutation itu sendiri sebenarnya sudah diproduksi dalam tubuh kita. Diproduksi oleh hewan, diproduksi manusia, dan juga mikroorganisme,” kata dia dikutip dari laman BRIN, Sabtu (28/2/2026).

Ia menyebut manfaat glutation tidak hanya terkait kecantikan, tetapi juga melindungi sel dari radikal bebas, membantu detoksifikasi hati, mendukung sistem imun, menjaga kesehatan otak dan jantung, serta mengurangi peradangan.

“Jadi tidak hanya untuk kecantikan sebenarnya. Tapi untuk saat ini yang banyak memanfaatkan glutation itu adalah ibu-ibu kaum hawa,” ucapnya.

Menurut Farida, produksi glutation alami tubuh menurun setelah usia 25 tahun, sehingga diperlukan asupan tambahan dari luar.

Secara global, produksi glutation murni telah melampaui 200 ton per tahun dengan harga sekitar 300 dolar AS per kilogram, dan permintaan diperkirakan terus meningkat hingga 2027.

Ia menilai Indonesia memiliki potensi bahan baku melimpah, salah satunya limbah yeast dari industri bioetanol.

Limbah tersebut ternyata sudah mengandung glutation yang dapat diekstraksi.

“Limbah yeast -nya itu ternyata sudah memproduksi glutation. Jadi kita tinggal mengambil saja, mengekstraksi saja glutation yang sudah diproduksi oleh yeast,” tutur Farida.

Dalam risetnya, tim melakukan pemisahan sel yeast melalui tahapan pengenceran dan sentrifugasi.

Tantangan utama saat ini adalah menemukan metode pemisahan yang lebih optimal.

“Jadi sebenarnya setelah kita menemukan teknologi ini, yang jadi ‘PR’ besar adalah bagaimana cara kita memisahkan sel yeast dari limbah itu,” katanya.

Produksi glutation dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu ekstraksi sel, rekayasa media, dan rekayasa genetika.

Pada metode ekstraksi, tim menguji pendekatan kimiawi, fisik, dan biologis.

“Dari metode ekstraksi yang kita lakukan, ada kimia, biologi, dan ultrasonikasi, ternyata di sini tampak bahwa dengan metode biologi dengan enzimatis menghasilkan produk glutation yang lebih tinggi,” kata dia.

Konsentrasi glutation melalui metode biologis disebut mencapai sekitar 40 mg/L, lebih tinggi dibanding beberapa riset sebelumnya pada produksi wine dan bir.

Ke depan, rekayasa genetik diharapkan mampu menggabungkan produksi etanol dan glutation tinggi dalam satu bioreaktor.

Selain menghasilkan glutation, residu sel yeast juga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak, biofertilizer, dan agen bioremediasi.

Farida menambahkan, sebagian hasil riset telah dipublikasikan dalam jurnal internasional, meski belum dipatenkan.

“(Riset) ini baru selesai sebenarnya, sehingga kalau mau ditanya paten atau kekayaan intelektual (KI) memang masih belum. Jadi harapan kami produk ini bisa bermanfaat dan bisa dikembangkan industri,” tutupnya. (*)