Nyepi 2026 Bertepatan Ramadan, Menag Ajak Perkuat Harmoni dan Persaudaraan Lintas Agama

Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai perayaan Nyepi 1948 Saka yang berdekatan dengan Ramadan dan Idulfitri menjadi momentum penting memperkuat toleransi dan persatuan bangsa.

Nyepi 2026 Bertepatan Ramadan, Menag Ajak Perkuat Harmoni dan Persaudaraan Lintas Agama
Menteri Agama Nasaruddin Umar. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • Nyepi 2026 bertepatan dengan Ramadan dan mendekati Idulfitri, menjadi simbol kebersamaan lintas agama.
  • Menag mengajak masyarakat memperkuat persaudaraan melalui nilai Vasudhaiva Kutumbakam.
  • Ajaran Catur Brata Penyepian mengandung pesan refleksi diri, pengendalian, dan harmoni dengan alam.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Momentum perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 tahun ini dinilai memiliki makna khusus karena berlangsung beriringan dengan bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah.

Pemerintah mengajak masyarakat menjadikannya sebagai sarana mempererat persaudaraan lintas agama di Indonesia.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pertemuan dua momentum keagamaan besar tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan simbol kuat kebersamaan dalam keberagaman.

“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia maupun pribadi, saya menyampaikan Selamat Hari Suci Nyepi dan Tahun Baru Saka 1948,” ujarnya di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Ia menyebut, nilai persatuan yang tercermin dalam perayaan ini sejalan dengan filosofi Vasudhaiva Kutumbakam yang berarti satu bumi adalah satu keluarga.

“Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan pengingat bahwa kita berada dalam satu semangat Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga,” tegasnya.

Menurut Menag, perbedaan keyakinan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang dapat memperkokoh persaudaraan sebagai bangsa.

Nilai tersebut juga tercermin dalam ajaran Catur Brata Penyepian yang dijalankan umat Hindu saat Nyepi.

Ia menjelaskan, Amati Geni mengajarkan pengendalian diri dengan meredam amarah dan ego. Sementara Amati Karya menjadi momen menghentikan aktivitas untuk refleksi diri.

Selain itu, Amati Lelungan mengandung makna menahan diri dari bepergian sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, sedangkan Amati Lelanguan mengajak umat meninggalkan hiburan duniawi demi mencapai ketenangan batin.

“Dengan menjalankan Nyepi, umat Hindu sesungguhnya sedang memberikan jeda kepada alam semesta. Jika kita memuliakan alam, maka alam pun akan memuliakan harkat kemanusiaan kita,” ujarnya.

Menag berharap semangat tersebut dapat terus mendorong peran aktif umat beragama dalam menjaga kerukunan serta memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

“Semoga Ida Sanghyang Widhi Wasa senantiasa melimpahkan kedamaian, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kita semua,” tandasnya. (*)