4 Juta Anak Terancam Putus Sekolah, Gus Ipul Dorong Sekolah Rakyat Jadi Solusi Gotong Royong
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan Sekolah Rakyat sebagai strategi penting mengatasi putus sekolah dan kemiskinan melalui pendekatan keluarga dan kolaborasi.
RINGKASAN BERITA :
- Lebih dari 4 juta anak Indonesia terancam putus sekolah
- Sekolah Rakyat jadi strategi atasi kemiskinan berbasis keluarga
- Gotong royong disebut kunci pemerataan pendidikan nasional.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Lebih dari 4 juta anak usia sekolah di Indonesia masih berada di luar sistem pendidikan atau berisiko putus sekolah, menjadi tantangan serius yang mendorong pemerintah memperkuat intervensi berbasis kolaborasi.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan pentingnya pendekatan gotong royong melalui program Sekolah Rakyat untuk menjangkau kelompok paling rentan.
Data tersebut mengacu pada temuan Badan Pusat Statistik yang menunjukkan masih adanya anak-anak yang belum mendapatkan akses pendidikan, dengan tren putus sekolah meningkat pada jenjang lebih tinggi.
Menteri yang akrab disamap Gus Ipul ini menyebut Sekolah Rakyat sebagai bagian dari strategi besar pengentasan kemiskinan.
“Sekolah Rakyat ini adalah bagian dari strategi besar pengentasan kemiskinan. Kita tidak hanya mengintervensi anaknya, tapi juga keluarganya. Harapannya, ketika anaknya lulus, keluarganya juga ikut naik kelas,” kata dia.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan berbasis keluarga menjadi kunci untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi yang selama ini menjadi akar persoalan pendidikan.
Menurutnya, masih banyak anak yang belum tersentuh program pemerintah.
“Ada jutaan anak yang tidak terlihat dalam sistem. Mereka ini invisible people. Bisa jadi ada di sekitar kita, tapi tidak tersentuh program,” kata Gus Ipul.
Program Sekolah Rakyat diposisikan sebagai upaya mendorong pemerataan pendidikan dari lapisan terbawah.
“Kalau kita bicara standar pendidikan yang baik, tentu tinggi. Tapi bagaimana semua bisa naik ke sana? Jawabannya gotong royong. Sekolah Rakyat ini menjadi instrumen untuk mengangkat dari bawah,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tantangan pendidikan di era digital, di mana generasi muda sudah akrab dengan teknologi, namun belum diimbangi kesiapan dan akses yang merata.
Keterbatasan anggaran, menurutnya, harus dijawab dengan kolaborasi luas.
“Kita tidak punya banyak pilihan selain beradaptasi dengan teknologi. Tapi dengan keterbatasan anggaran, gotong royong menjadi keharusan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” ujar Gus Ipul.
Sementara, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan pentingnya lingkungan dalam mendukung keberhasilan belajar.
“Hampir seluruh teori belajar menunjukkan bahwa keberhasilan belajar dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan belajar yang bersih dan lingkungan sosial yang nyaman menjadi kunci,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perlunya birokrasi mampu menjangkau kesenjangan yang ada dengan melibatkan kekuatan masyarakat.
“DNA bangsa Indonesia adalah gotong royong. Tantangannya adalah bagaimana menggerakkan dan menyatukan kekuatan itu,” katanya.
Sementara itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar menambahkan bahwa lembaga pendidikan berbasis komunitas seperti madrasah dan pesantren telah lama menjadi contoh praktik gotong royong dalam pendidikan.
“Lembaga pendidikan yang paling mengaktualisasikan nilai gotong royong adalah madrasah dan pesantren. Sekitar 95 persen dikelola swasta, dan tetap bertahan dengan kekuatan komunitas,” kata dia.
Menurutnya, meskipun menghadapi keterbatasan fasilitas, madrasah dan pesantren tetap berperan penting dalam mencetak generasi serta memperkuat nilai kebersamaan di masyarakat. (*)