BRIN bersama LPDP Buka Beasiswa Doctor by Research 2026, Sediakan 250 Kuota untuk Talenta Riset

Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan membuka Beasiswa Doctor by Research 2026 dengan kuota 250 mahasiswa. Program ini berfokus pada pendidikan doktor berbasis penelitian untuk memperkuat SDM riset nasional dan mendukung pembangunan berbasis inovasi.

BRIN bersama LPDP Buka Beasiswa Doctor by Research 2026, Sediakan 250 Kuota untuk Talenta Riset
BRIN dan LPDP membuka Beasiswa Doctor by Research 2026 dengan kuota 250 mahasiswa. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • BRIN dan LPDP membuka Beasiswa Doctor by Research 2026 dengan kuota 250 mahasiswa.
  • Program doktor ini berbasis penelitian penuh tanpa kelas reguler dan fokus pada bidang STEM.
  • Peserta mendapat dukungan pendanaan riset dan peluang melanjutkan program post-doctoral setelah lulus.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali membuka peluang bagi talenta muda Indonesia untuk menempuh pendidikan doktor berbasis penelitian melalui program Beasiswa Talenta Riset dan Inovasi Nasional jalur Doctor by Research (DbR) tahun 2026.

Program tersebut diselenggarakan melalui kerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem riset nasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Direktur Manajemen Talenta BRIN, Ajeng Arum Sari, menjelaskan bahwa program DbR dirancang untuk mempercepat peningkatan jumlah doktor di Indonesia dengan pendekatan pendidikan yang berfokus penuh pada penelitian.

Berbeda dengan program doktor reguler yang umumnya mengombinasikan kuliah teori dan penelitian, jalur DbR menempatkan kegiatan riset sebagai inti proses pembelajaran mahasiswa.

Menurut Ajeng, pemerintah menargetkan rasio 5.000 SDM Iptek per satu juta penduduk pada tahun 2045, dengan sekitar 30 persen di antaranya memiliki kualifikasi doktor.

Ia menyebutkan program Degree by Research telah berjalan sejak 2022 dan hingga kini telah melibatkan sekitar 1.620 mahasiswa, baik yang sudah menyelesaikan studi maupun yang masih menjalani proses pendidikan.

Untuk tahun 2026, BRIN menyiapkan sekitar 250 kuota mahasiswa baru yang diprioritaskan bagi bidang science, technology, engineering, and mathematics (STEM).

Ajeng menambahkan, sistem pembelajaran dalam program ini mengedepankan kolaborasi antara peneliti BRIN sebagai co-supervisor dengan dosen perguruan tinggi yang berperan sebagai supervisor.

Melalui pola tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan bimbingan akademik dari kampus, tetapi juga terlibat langsung dalam berbagai proyek riset strategis yang dikelola oleh BRIN.

Selain itu, peserta program juga memperoleh dukungan pendanaan riset sehingga dapat lebih fokus menjalankan penelitian.

Dana tersebut dapat bersumber dari berbagai skema riset nasional yang dikelola BRIN, termasuk program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM).

Dukungan terhadap program ini juga datang dari pihak LPDP.

Direktur Beasiswa LPDP, Dwi Larso, menyampaikan bahwa sinergi antara lembaganya dengan BRIN dilakukan untuk memperkuat pemanfaatan dana abadi pendidikan sekaligus menghindari tumpang tindih program.

Menurutnya, pendekatan pendanaan bersama atau co-funding memungkinkan lebih banyak talenta riset mendapatkan dukungan tanpa mengurangi kualitas program yang dijalankan.

Ia menilai penguatan riset menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan industri nasional.

Tanpa dukungan riset yang kuat, sektor industri sulit berkembang secara berkelanjutan.

Keberhasilan program Doctor by Research juga telah dirasakan oleh sejumlah penerima manfaat.

Salah satunya adalah Rendy Muhammad Iqbal yang berhasil menyelesaikan studi doktoralnya di Universiti Teknologi Malaysia dalam waktu kurang dari tiga tahun.

Saat ini Rendy berstatus sebagai dosen di Universitas Palangkaraya.

Ia mengaku mendapatkan dukungan fasilitas penelitian dari Kawasan Sains dan Teknologi BRIN serta bimbingan intensif dari para peneliti senior selama menjalani studi.

Berkat dukungan tersebut, ia mampu mempublikasikan tiga jurnal internasional bereputasi sekaligus meraih penghargaan Chancellor Award selama menjalani pendidikan doktoralnya.

BRIN juga menyiapkan program lanjutan bagi para lulusan DbR melalui skema post-doctoral selama dua tahun.

Program ini bertujuan memastikan hasil riset yang dihasilkan dapat terus dikembangkan hingga mencapai tahap penerapan di sektor industri maupun kebijakan publik.

Melalui kolaborasi antara BRIN dan LPDP, pemerintah berharap semakin banyak generasi muda Indonesia tertarik menekuni bidang riset dan inovasi.

Kehadiran para peneliti unggul dinilai penting untuk menghasilkan solusi ilmiah bagi berbagai tantangan pembangunan nasional serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global. (*)