Peneliti IPB Temukan Potensi Tanaman Kangkang Katup untuk Antidiabetes, Masuk 117 Inovasi Indonesia 2025
Penelitian IPB mengungkap potensi tanaman kangkang katup sebagai obat herbal antidiabetes. Inovasi ini dinilai menjanjikan sebagai alternatif terapi alami dengan efek samping minimal.
RINGKASAN BERITA:
- Peneliti IPB menemukan potensi kangkang katup sebagai antidiabetes dan antioksidan
- Ekstrak batang terbukti menurunkan gula darah dan aman secara uji awal
- Inovasi masuk dalam 117 Inovasi Indonesia 2025 versi BIC.
RIAUCERDAS.COM, BOGOR - Tim peneliti IPB University menemukan potensi tanaman kangkang katup (Phanera semibifida) sebagai antidiabetes dan antioksidan, yang kini masuk dalam daftar 117 Inovasi Indonesia 2025.
Riset tersebut melibatkan sejumlah peneliti, yakni Meyla Suhendra, Berry Juliandi, Huda Darusman, Siti Sa’diah, serta Fitmawati.
Inovasi ini turut tercatat dalam rilis Business Innovation Center tahun 2025.
Kangkang katup sendiri merupakan tanaman yang belum banyak dibudidayakan.
Namun, masyarakat di Kepulauan Lingga telah lama memanfaatkannya sebagai minuman herbal pahit yang dipercaya memiliki manfaat kesehatan, termasuk menjaga kebugaran tubuh.
Menurut Berry Juliandi, penelitian ini berfokus pada ekstrak batang tanaman yang mengandung senyawa polifenol.
Senyawa tersebut berfungsi menghambat enzim α-glukosidase sehingga mampu menekan kadar gula darah sekaligus bertindak sebagai antioksidan.
“Berdasarkan analisis in vitro dan in vivo, ekstrak batang kangkang katup terbukti efektif menurunkan kadar glukosa darah dan aman pada uji toksisitas akut,” ujarnya dikutip dari laman IPB University, Sabtu (28/3/2026).
Ia menjelaskan, inovasi ini berpotensi dikembangkan menjadi obat herbal terstandar berbasis sumber daya alam lokal untuk terapi antihiperglikemia.
Selain itu, ekstraknya juga berpeluang dimanfaatkan sebagai antioksidan alami untuk mencegah stres oksidatif, khususnya pada penderita diabetes tipe 2 dan prediabetes.
Di sisi lain, penyakit Diabetes Melitus masih menjadi tantangan global.
Pada 2024, jumlah penderita diabetes di dunia mencapai sekitar 589 juta orang, dengan Indonesia termasuk lima negara dengan jumlah kasus tertinggi, yakni sekitar 20,4 juta penderita.
Selama ini, terapi diabetes umumnya mengandalkan obat kimia yang berpotensi menimbulkan efek samping jika digunakan dalam jangka panjang.
Kondisi tersebut mendorong pengembangan alternatif pengobatan berbasis herbal yang dinilai lebih aman.
Penemuan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pengembangan obat herbal yang efektif, sekaligus memanfaatkan kekayaan hayati lokal sebagai solusi kesehatan masyarakat. (*)


