Sekolah Terdampak Bencana di Sumatra Bangkit: Dari Tenda Darurat ke Kelas Normal dalam Hitungan Bulan

Satuan pendidikan di wilayah terdampak bencana di Sumatra menunjukkan pemulihan cepat. Dalam waktu singkat, kegiatan belajar mengajar kembali normal berkat kolaborasi pemerintah dan adaptasi sekolah.

Sekolah Terdampak Bencana di Sumatra Bangkit: Dari Tenda Darurat ke Kelas Normal dalam Hitungan Bulan
Suasana belajar mengajar di salah satu sekolah yang terdampak bencana di Sumatra. Pemulihan pascabencana disebut lebih cepat. (Sumber: Kemendikdasmen)

RINGKASAN BERITA: 

  • Sekolah terdampak bencana di Sumatra pulih cepat, dari tenda darurat ke kelas normal dalam waktu singkat
  • Adaptasi kurikulum dan metode belajar jadi kunci keberlangsungan pendidikan
  • Dukungan pemerintah mencakup infrastruktur, bantuan siswa, hingga layanan trauma healing.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pemulihan pendidikan pascabencana di wilayah Sumatra berlangsung lebih cepat dari perkiraan.

Sejumlah sekolah yang sebelumnya menggelar pembelajaran di tenda darurat kini telah kembali menjalankan kegiatan belajar mengajar (KBM) secara normal, hanya dalam hitungan bulan setelah bencana terjadi.

Percepatan ini tidak lepas dari sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan yang bergerak serentak memastikan proses belajar tetap berjalan.

Dukungan berupa fasilitas darurat, perbaikan infrastruktur, hingga pendampingan psikososial menjadi faktor utama keberhasilan pemulihan tersebut.

Di tingkat satuan pendidikan, respons cepat terlihat dari berbagai langkah adaptif yang dilakukan.

Sekolah-sekolah terdampak tetap menyelenggarakan pembelajaran meski dalam kondisi terbatas, seperti memanfaatkan ruang sementara dan menyesuaikan metode pengajaran agar tetap relevan dengan situasi darurat.

Kepala UPTD SD Negeri 158498 Aek Tolang, Sumatra Utara, Hayati, mengungkapkan bahwa proses pembelajaran sempat berlangsung di tenda darurat sebelum akhirnya kembali normal.

“Sekolah kami sempat melaksanakan pembelajaran di tenda darurat pada bulan Desember 2025. Namun sejak Januari 2026, KBM sudah berjalan seperti biasanya di sekolah,” ujarnya dalam keterangan yang disampaikan pada Jumat (27/3/2026).

Selain itu, sekolah juga melakukan penyesuaian kurikulum secara mandiri dengan menerapkan pembelajaran adaptif.

Sistem asesmen dibuat lebih fleksibel, mengacu pada panduan teknis dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Dukungan pemerintah turut mempercepat pemulihan tersebut. Bantuan yang diberikan tidak hanya menyasar perbaikan fasilitas, tetapi juga kebutuhan dasar siswa.

“Bantuan pemerintah berupa uang tunai untuk kebersihan lingkungan sekolah, dan juga untuk kebutuhan siswa seperti seragam sekolah,” ungkap Hayati.

Lebih lanjut, SDN 158498 Aek Tolang juga memperoleh program revitalisasi berupa pembangunan ruang kelas baru, fasilitas sanitasi, serta penataan lingkungan sekolah untuk menunjang keberlanjutan pembelajaran.

Kondisi serupa terjadi di Sumatra Barat. SMAN 1 Batang Anai tetap menjalankan kegiatan belajar meski sebagian siswa harus belajar di lokasi sementara.

Sebanyak 10 rombongan belajar menempati Asrama Haji Kabupaten Padang Pariaman, sementara lainnya menggunakan tenda darurat yang difasilitasi pemerintah.

Dalam situasi tersebut, sekolah melakukan penyesuaian dengan mengurangi durasi pembelajaran dan memfokuskan pada materi esensial.

Proses belajar mengacu pada panduan dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen.

Pemulihan pendidikan juga diperkuat melalui berbagai intervensi pemerintah, seperti bantuan biaya normalisasi, distribusi perlengkapan siswa, layanan trauma healing, hingga penyediaan sarana belajar darurat.

Pemerintah daerah turut berperan dalam normalisasi wilayah terdampak dengan dukungan alat berat dari BNPB serta penyediaan lokasi pembelajaran sementara.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Gogot Suharwoto, menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga keberlangsungan pendidikan di tengah bencana.

“Pendidikan tidak boleh berhenti, bahkan dalam situasi bencana sekalipun. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan bergerak cepat memastikan anak-anak kita tetap belajar dengan aman, nyaman, dan bermakna. Melalui kolaborasi ini, kita tidak hanya memulihkan fasilitas, tetapi juga memulihkan harapan dan semangat belajar peserta didik,” ujarnya.

Secara keseluruhan, percepatan pemulihan pendidikan ini menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan layanan pendidikan, bahkan di tengah kondisi darurat. (*)