Ikan Gabus Jadi Kandidat Superfood Lokal
Peneliti BRIN mengungkap potensi ikan gabus sebagai superfood lokal yang kaya nutrisi dan berpeluang dikembangkan menjadi produk pangan fungsional bernilai ekonomi tinggi.
RINGKASAN BERITA :
- Ikan gabus dinilai sebagai superfood lokal dengan kandungan protein dan albumin tinggi
- Berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan fungsional dan kesehatan
- Hilirisasi komoditas dapat dorong ekonomi dan kemandirian pangan nasional.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA -Ikan gabus kini diproyeksikan menjadi salah satu komoditas unggulan dalam pengembangan pangan sehat berbasis sumber daya lokal.
Potensi ini tidak hanya dilihat dari kandungan gizinya, tetapi juga peluang besar dalam inovasi produk pangan fungsional yang mendukung kesehatan masyarakat.
Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ekowati Chasanah, menyebut ikan gabus memiliki kandungan nutrisi yang menonjol, terutama protein berkualitas tinggi yang mudah diserap tubuh.
Hal ini disampaikannya dalam webinar tentang keunggulan ikan gabus sebagai superfood lokal.
Menurutnya, ikan gabus sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan gizi berbagai kelompok, termasuk anak-anak dan pasien dalam masa pemulihan.
Kandungan asam amino yang lengkap menjadi salah satu keunggulan utama dibandingkan sumber protein lain.
Salah satu komponen penting dalam ikan gabus adalah albumin, yang berperan dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh serta membantu transportasi berbagai zat penting.
Kandungan ini juga didukung oleh asam amino seperti glisin, prolin, dan alanin yang berkontribusi dalam proses penyembuhan.
“Kombinasi kandungan albumin dan zat gizi lain pada ikan gabus berpotensi mendukung proses penyembuhan luka, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta membantu meningkatkan kondisi kesehatan secara umum,” katanya dikutip dari laman BRIN, Rabu (22/4/2026).
Selain itu, ikan gabus juga mengandung senyawa bioaktif lain seperti peptida, asam lemak, dan mikronutrien yang berpotensi memberikan manfaat tambahan, termasuk efek antihipertensi.
Hal ini membuka peluang pemanfaatan ikan gabus tidak hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga sebagai dasar pengembangan produk kesehatan.
Namun demikian, kualitas nutrisi ikan gabus sangat dipengaruhi oleh proses penanganan setelah panen.
Metode pengolahan yang tepat, seperti pemanasan tidak langsung, dinilai penting untuk menjaga kandungan gizi tetap optimal.
Dalam aspek inovasi, ikan gabus memiliki prospek besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk, mulai dari ekstrak albumin hingga makanan olahan siap konsumsi.
Diversifikasi ini dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi.
“Dari sisi ekonomi, hilirisasi ikan gabus berpotensi memperkuat industri pangan lokal dan mendukung kemandirian pangan nasional,” tutur Ekowati.
Ia menekankan bahwa pengembangan komoditas ini membutuhkan dukungan riset berkelanjutan, termasuk dalam teknologi pengolahan, standarisasi mutu, serta pengujian keamanan produk.
Kolaborasi antara peneliti, industri, dan pemerintah juga dinilai penting untuk mendorong pemanfaatan yang lebih luas.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat terkait manfaat ikan gabus perlu ditingkatkan agar mendorong perubahan pola konsumsi menuju pangan yang lebih sehat dan berbasis lokal.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, ikan gabus dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan kesehatan sekaligus penguatan ekonomi nasional berbasis inovasi pangan. (*)


