BRIN Kembangkan Bata Tahan Api dari Limbah Aluminium, Ditargetkan Perkuat TKDN Teknologi Furnace
BRIN mengembangkan bata tahan api berbahan limbah aluminium dross dan kaolin lokal untuk kebutuhan furnace laboratorium. Material refraktori ini mampu bertahan hingga suhu 1.400 derajat Celsius dan ditargetkan meningkatkan kandungan TKDN teknologi furnace buatan dalam negeri.
RINGKASAN BERITA :
- BRIN mengembangkan bata tahan api dari limbah aluminium dross dan kaolin lokal.
- Material mampu bertahan hingga suhu 1.400 derajat Celsius dengan isolasi panas tinggi.
- Inovasi ini ditargetkan meningkatkan TKDN furnace laboratorium hingga lebih dari 50 persen.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Upaya memperkuat kemandirian teknologi nasional terus dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui pengembangan material industri berbasis bahan baku lokal.
Salah satu inovasi terbaru yakni bata tahan api untuk furnace atau tungku pemanas laboratorium yang dibuat dari limbah aluminium industri.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Agus Sukarto Wismogroho mengatakan material refraktori tersebut dirancang mampu bertahan pada suhu ekstrem hingga 1.400 derajat Celsius.
Pengembangan bata tahan api ini menjadi kelanjutan dari riset furnace suhu tinggi yang sebelumnya telah berhasil dikembangkan oleh tim peneliti BRIN.
“Salah satu komponen paling mahal dari furnace adalah dinding refraktori atau bata tahan apinya. Karena itu, kami mulai fokus mengembangkan material bata api sendiri menggunakan bahan baku lokal yang sangat mudah didapatkan di Indonesia,” ujar Agus dikutip dari laman BRIN, Minggu (24/5/2026).
Bata tahan api tersebut dibuat menggunakan campuran alumina dan silika.
Kaolin dimanfaatkan sebagai sumber silika alami, sedangkan alumina diperoleh dari limbah aluminium dross yang selama ini tergolong limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
“Alumina kami peroleh dari limbah aluminium dross, yakni limbah B3 hasil pengecoran aluminium yang biasanya berupa material abu-abu akibat proses oksidasi. Limbah ini kemudian dicampurkan dengan kaolin yang kaya kandungan silika,” jelasnya.
Menurut Agus, pemanfaatan limbah industri tersebut tidak hanya membantu mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menghasilkan material bernilai tambah tinggi sebagai substitusi produk impor.
Secara teknis, bata tahan api ini dirancang memiliki struktur berpori agar panas di dalam furnace tidak mudah terlepas ke lingkungan sekitar.
Struktur tersebut juga membuat bobot material lebih ringan namun tetap memiliki kemampuan isolasi termal yang tinggi.
“Material ini kami buat berongga sehingga lebih ringan dan mampu menahan panas di dalam furnace agar tidak mudah keluar ke lingkungan sekitar,” tuturnya.
Dengan ketebalan sekitar 5 hingga 8 sentimeter, suhu di dalam furnace dapat mencapai 1.200 derajat Celsius, sementara bagian luar dinding tetap berada di bawah 50 derajat Celsius.
“Jadi material ini sangat efisien dalam menahan panas,” tambah Agus.
Ia menjelaskan, bata tahan api umumnya menggunakan struktur kristal mullite, yakni senyawa alumina dan silika yang memiliki daya tahan tinggi terhadap suhu ekstrem.
Untuk memastikan kualitas material, tim peneliti melakukan berbagai pengujian mulai dari pembentukan fase mullite menggunakan metode x-ray diffraction (XRD), pengujian densitas, uji tarik, uji tekan, hingga pengujian isolasi termal.
“Kemudian untuk mengetahui tingkat keringanan material, kami melakukan pengujian densitas, uji ketahanan produk menggunakan uji tarik dan uji tekan, dan yang terpenting uji isolasi termal untuk menguji ketahanan material dalam menahan pelepasan panas,” terang Agus.
Meski demikian, Agus mengakui tantangan utama riset ini terletak pada pengaturan struktur pori material agar tetap kuat saat digunakan pada suhu tinggi.
Menurutnya, bata yang terlalu poros berisiko mudah rapuh dan sulit bersaing di pasar.
“Bagaimana kita mengatur supaya porosnya itu rapi, karena meskipun semakin poros semakin bagus tetapi di sisi lain material juga menjadi semakin rapuh,” ujarnya.
Selain faktor teknis, aspek ekonomi juga menjadi perhatian utama.
Produk bata tahan api buatan BRIN diharapkan mampu bersaing dengan produk impor, khususnya dari China.
“Produk ini harus mampu bersaing dengan produk impor. Kalau kualitasnya tidak lebih baik atau harganya tidak lebih murah, tentu pasar tidak akan menerima produk ini,” katanya.
Agus menyebut inovasi tersebut memiliki peluang besar untuk masuk ke tahap hilirisasi industri melalui skema lisensi maupun spin-off company sebagai bagian dari upaya substitusi impor.
Sebelumnya, tim peneliti BRIN juga telah mengembangkan teknologi furnace laboratorium yang kini memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 40,77 persen.
Kehadiran bata tahan api lokal diyakini dapat meningkatkan nilai TKDN hingga menembus lebih dari 50 persen. (*)
What's Your Reaction?