Dosen UIR Ingatkan Bahaya Judul Sensasional saat Rupiah Melemah, Bisa Pengaruhi Persepsi Publik

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Islam Riau (UIR) Dr. Dafrizal menilai media memiliki peran besar dalam membentuk cara masyarakat memandang pelemahan nilai tukar rupiah. Ia mengingatkan penggunaan judul sensasional tanpa konteks yang memadai berisiko memicu kepanikan publik dan mendorong pentingnya jurnalisme yang akurat, berimbang, serta berbasis solusi.

Dosen UIR Ingatkan Bahaya Judul Sensasional saat Rupiah Melemah, Bisa Pengaruhi Persepsi Publik
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Dosen UIR menilai media berperan besar membentuk persepsi masyarakat terhadap pelemahan rupiah.
  • Judul berita yang sensasional dinilai berpotensi memicu kepanikan publik jika tidak disertai konteks yang memadai.
  • Media didorong menerapkan jurnalisme damai dengan mengedepankan data akurat, keseimbangan informasi, dan solusi.

RIAUCERDAS.COM - Pelemahan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp18.037 per dolar Amerika Serikat pada 5 Juni 2026 tidak hanya menjadi perhatian dari sisi ekonomi, tetapi juga memunculkan perdebatan mengenai bagaimana media menyajikan informasi kepada publik.

Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Islam Riau (UIR), Dr. Dafrizal, M.Soc.Sc., menilai pemberitaan media memiliki pengaruh besar terhadap cara masyarakat memahami kondisi ekonomi yang sedang terjadi.

Menurut Dafrizal, persepsi publik terhadap pelemahan rupiah tidak semata-mata dibentuk oleh fakta ekonomi, tetapi juga oleh cara media membingkai sebuah peristiwa melalui pemilihan sudut pandang, judul, narasumber, dan data yang ditampilkan.

Media, tuturnya, tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk cara publik melihat realitas.

Ketika media lebih menonjolkan sisi ancaman dan ketidakpastian, masyarakat cenderung memandang situasi secara pesimis.

"Sebaliknya, ketika media lebih banyak menampilkan solusi dan langkah penanganan, persepsi publik juga akan lebih optimistis," jelasnya dikutip dari laman UIR, Jumat (5/6/2026).

Ia menjelaskan bahwa judul berita menjadi salah satu elemen yang paling berpengaruh dalam membentuk persepsi masyarakat.

Menurutnya, dua berita yang membahas isu yang sama dapat menghasilkan respons publik yang berbeda hanya karena perbedaan cara penyajiannya.

Sebagai contoh, judul “Rupiah Terus Anjlok, Krisis Ekonomi 1998 Bisa Terulang di Indonesia” dinilai berpotensi memunculkan kecemasan di tengah masyarakat.

Sebaliknya, judul “Pemerintah Siapkan Langkah Stabilisasi Rupiah untuk Mencegah Krisis Ekonomi” cenderung memberikan kesan yang lebih menenangkan.

Dafrizal mengatakan persaingan media yang semakin ketat di era digital turut mendorong munculnya penggunaan judul sensasional atau clickbait untuk menarik perhatian pembaca.

"Judul yang sensasional mampu mendorong public untuk mengklik dan membaca berita. Ketika perhatian Masyarakat sudah berhasil diraih, maka agenda yang dibawa media berpotensi masuk ke dalam kesadaran publik dan mempengaruhi cara mereka berpikir hingga bertindak," kata dia.

Dalam situasi pelemahan rupiah, ia menilai penggunaan judul yang berlebihan tanpa didukung penjelasan yang memadai dapat menimbulkan kepanikan yang tidak proporsional.

Sebaliknya, penyajian informasi yang informatif dan kontekstual akan membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih rasional.

Selain judul, pemilihan narasumber dan data yang digunakan dalam pemberitaan juga dinilai berpengaruh terhadap cara publik menilai kondisi ekonomi.

Menurut Dafrizal, setiap media memiliki kebijakan editorial yang menentukan bagaimana suatu isu ditampilkan kepada masyarakat.

Jika sebuah media ingin menyoroti sisi kritis terhadap kebijakan pemerintah, maka narasumber yang dipilih cenderung berasal dari kalangan yang menyoroti kelemahan atau persoalan ekonomi.

Sebaliknya, media yang ingin menghadirkan sudut pandang optimistis biasanya lebih banyak menampilkan strategi penyelesaian masalah dan peluang pemulihan ekonomi.

"Karena itu masyarakat perlu memahami bahwa setiap pemberitaan memiliki sudut pandang tertentu. Penting bagi publik untuk membandingkan informasi dari berbagai sumber agar memperoleh gambaran yang lebih utuh," katanya.

Ia juga menyoroti tantangan objektivitas media di tengah perkembangan industri digital.

Menurutnya, media saat ini tidak hanya menjalankan fungsi jurnalistik, tetapi juga menghadapi tekanan untuk meningkatkan trafik, keterlibatan pembaca, serta memenuhi kebutuhan bisnis.

"Media saat ini tidak hanya berhadapan dengan tuntutan jurnalistik, tetapi juga tekanan ekonomi industri media. Ada kebutuhan memperoleh klik, mempertahankan pembaca, hingga memenuhi target iklan. Inilah yang membuat objektivitas menjadi tantangan tersendiri," jelasnya.

Meski demikian, Dafrizal menegaskan bahwa orientasi bisnis tidak boleh mengesampingkan fungsi edukasi dan tanggung jawab sosial media.

Ia menilai media harus membantu meningkatkan literasi masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh spekulasi yang berkembang terkait pelemahan rupiah.

Lebih lanjut, ia mendorong penerapan konsep peace journalism atau jurnalisme damai dalam pemberitaan ekonomi. Pendekatan tersebut menekankan penyampaian informasi yang akurat, berimbang, komprehensif, dan berorientasi pada solusi.

"Media perlu menghadirkan informasi berbasis data yang akurat dan komprehensif, menghadirkan narasumber yang kompeten, serta menghindari kepentingan politik maupun konflik kepentingan tertentu. Yang terpenting adalah meningkatkan literasi ekonomi masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai spekulasi yang beredar," tandasnya. (*)