Kasus Campak Indonesia Tertinggi Kedua Dunia, Dokter Ingatkan Pentingnya Vaksinasi

Kasus campak di Indonesia masih tinggi dan menempati posisi kedua dunia. Dokter anak menekankan pentingnya vaksinasi dan pencegahan dini untuk menekan penyebaran.

Kasus Campak Indonesia Tertinggi Kedua Dunia, Dokter Ingatkan Pentingnya Vaksinasi
Ilustrasi penyakit campak. (Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • Indonesia peringkat kedua dunia dalam kasus campak
  • Cakupan vaksinasi masih di bawah standar herd immunity
  • Pencegahan utama melalui imunisasi, PHBS, dan deteksi dini.

RIAUCERDAS.COMIndonesia menghadapi lonjakan kasus Campak yang mengkhawatirkan, bahkan menempati peringkat kedua tertinggi di dunia.

Kondisi ini mendorong tenaga medis mengingatkan pentingnya vaksinasi dan langkah pencegahan sejak dini.

Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Universitas Brawijaya, Laurentia Ima Monica, mengungkapkan bahwa jumlah kasus suspek di Indonesia terus meningkat.

“Sementara di Indonesia sejak Februari 2026, kasus suspek sudah mencapai 10 ribuan. Jika melihat data tahun 2025, kasus suspek mencapai 60-63 ribuan dengan angka kematian 69 kasus. Jadi bisa dibayangkan, jika angka suspeknya sudah setinggi ini, dan ketika kita tidak melakukan apapun, angkanya pasti akan jauh lebih tinggi,” ujarnya.

Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Indonesia berada di bawah Yaman dengan 11.288 kasus dan di atas India yang mencatat 9.666 kasus.

Laurentia menilai tingginya angka kasus dipicu oleh rendahnya cakupan imunisasi yang baru mencapai sekitar 83 persen, masih di bawah ambang batas ideal 95 persen untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Padahal kekebalan komunitas (herd immunity) melalui cakupan vaksin sangat penting. Apabila cakupan imunisasi di suatu kelompok atau komunitas tinggi, maka kekebalannya juga akan tinggi,” jelasnya dikutip dari laman UB, Selasa (24/3/2026).

Ia menjelaskan, kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis memiliki risiko lebih tinggi tertular campak dan tidak selalu bisa menerima vaksin.

Untuk itu, masyarakat diimbau melakukan pencegahan dengan vaksinasi rutin sejak usia 9 bulan, menjaga kebersihan, mencuci tangan, menghindari kerumunan, serta melakukan isolasi jika mengalami gejala.

Lebih lanjut, Laurentia memaparkan tahapan gejala campak, mulai dari fase inkubasi, prodromal, erupsi, hingga konvalesen.

Gejala awal ditandai demam, pilek, dan mata merah, kemudian muncul ruam yang menyebar ke seluruh tubuh.

Pada kondisi berat, campak dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, gangguan pernapasan, infeksi otak, hingga kejang.

“Meskipun demikian, penyakit ini bisa sembuh. Tapi karena disebabkan oleh virus dan kita belum ada antivirus, jadi sangat bergantung pada kekebalan tubuh kita,” tambahnya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala, guna mencegah kondisi semakin parah.

Dengan tingginya kasus yang terjadi, upaya peningkatan cakupan vaksinasi dinilai menjadi langkah krusial untuk menekan penyebaran campak di Indonesia. (*)