BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Cepat, Pakar Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Krisis Pangan
Musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih awal dan berpotensi ekstrem. Pakar memperingatkan dampaknya terhadap tanah, pertanian, hingga risiko kebakaran lahan.
RINGKASAN BERITA:
- BMKG prediksi musim kemarau 2026 datang lebih awal mulai April
- El Nino berpotensi picu cuaca lebih panas dan kekeringan ekstrem
- Dampak meluas ke pertanian, kesuburan tanah, hingga risiko kebakaran lahan.
RIAUCERDAS.COM - Indonesia bersiap menghadapi ancaman baru setelah serangkaian bencana hidrometeorologi, yakni musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih cepat dan berpotensi lebih ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan periode kemarau mulai terjadi pada April di sejumlah wilayah.
Kondisi ini disebut berkaitan dengan fenomena El Nino yang dapat memicu cuaca lebih panas, kering, dan berlangsung lebih lama dari biasanya.
Pakar Ilmu Tanah dari Universitas Andalas, Dian Fiantis, menjelaskan bahwa dampak kemarau tidak hanya dirasakan di permukaan, tetapi juga memengaruhi kondisi tanah secara signifikan.
“Tanah itu seperti spons. Saat hujan, air diserap dan disimpan. Namun ketika kemarau panjang terjadi, cadangan air ini akan terus berkurang hingga akhirnya habis,” ujarnya dilansir dari laman Unand, Selasa (24/3/2026).
Ia menyebut berkurangnya curah hujan menyebabkan kelembapan tanah menurun secara bertahap akibat penguapan dan serapan tanaman.
Salah satu indikator awal kekeringan adalah munculnya retakan pada permukaan tanah, khususnya pada jenis tanah liat.
“Jika sudah muncul retakan, itu artinya tanah mulai mengalami kekeringan serius. Tanaman akan kesulitan mendapatkan air, dan lahan juga menjadi lebih keras serta sulit diolah,” jelasnya.
Kondisi kering juga berdampak pada mikroorganisme tanah yang berperan penting dalam menjaga kesuburan.
Aktivitas mikroba akan menurun sehingga proses pelepasan unsur hara menjadi terhambat.
“Unsur hara sebenarnya masih ada di dalam tanah, tetapi tidak bisa dimanfaatkan secara optimal oleh tanaman karena proses biologisnya melambat,” kata dia.
Selain mengancam sektor pertanian, kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan gambut yang mudah terbakar saat kering.
“Setiap kemarau panjang selalu beriringan dengan peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan. Ini harus diantisipasi sejak dini,” tegasnya.
Untuk mengurangi dampak tersebut, pemantauan berbasis teknologi dinilai penting, termasuk penggunaan data satelit untuk memantau kelembapan tanah dan kondisi vegetasi.
Ia menekankan bahwa fenomena iklim global seperti El Nino memiliki dampak langsung terhadap kondisi lokal di Indonesia, sehingga pengelolaan air dan tanah harus menjadi prioritas.
“Perubahan suhu laut di Pasifik bisa menentukan apakah sawah kita mendapat air atau tidak. Karena itu, pengelolaan tanah dan air harus menjadi prioritas bersama,” katanya.
Sebagai negara agraris, Indonesia diharapkan memperkuat strategi mitigasi kemarau, mulai dari konservasi air hingga peningkatan kewaspadaan terhadap kebakaran lahan.
“Ketahanan pangan sangat bergantung pada bagaimana kita menjaga air dan tanah. Itu kunci utama menghadapi kemarau panjang,” ujar Dian. (*)


