Dokter: Bahaya Kurang Tidur, Bisa Picu Gangguan Emosi hingga Penyakit Fisik

Dokter UGM mengingatkan bahwa kualitas tidur sangat berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental. Gangguan tidur yang berlangsung lama dapat memicu ketidakstabilan emosi hingga menurunkan daya tahan tubuh.

Dokter: Bahaya Kurang Tidur, Bisa Picu Gangguan Emosi hingga Penyakit Fisik
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • Ketidaksinkronan jam biologis tubuh dapat memicu gangguan emosi dan metabolisme.
  • Utang tidur tidak bisa langsung diganti karena tubuh memulihkan diri secara bertahap.
  • Pola makan sehat, olahraga rutin, dan manajemen stres membantu menjaga kualitas tidur.

RIAUCERDAS.COMTidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat, tetapi menjadi fondasi penting bagi keseimbangan sistem biologis dan kesehatan mental manusia.

Kurangnya kualitas tidur dapat memicu gangguan metabolisme hingga meningkatkan risiko berbagai penyakit.

Dokter spesialis kejiwaan dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ronny Tri Wirasto menjelaskan bahwa ketidaksinkronan jam biologis tubuh dapat berdampak langsung terhadap emosi, metabolisme, hingga kesehatan fisik.

Bila saat bangun merasa badan tidak segar, pegal-pegal, kepala terasa berat, mudah marah, atau mood tidak stabil, pertanda ada metabolisme terganggu dalam tubuh.

Bila itu terjadi dalam jangka waktu yang lama maka bisa berdampak bagi seseorang akan lebih mudah mengalami jantung berdebar, sesak napas, mudah terinfeksi, kulit kusam, hingga penurunan daya tahan tubuh.

Menurutnya, tubuh manusia memiliki pusat pengatur ritme biologis yang menyelaraskan perubahan gelap dan terang dengan sistem hormon serta metabolisme.

Ketika sistem tersebut terganggu, tubuh tidak mampu menyesuaikan diri dengan baik.

“Tubuh itu sebenarnya menyesuaikan. Tapi pada orang tertentu pusat pengatur ini sudah mengalami gangguan sehingga ketika terjadi perubahan dari gelap ke terang atau sebaliknya, tubuh tidak bisa mengenali dan tidak sinkron. Di situlah masalah muncul,” jelasnya dikutip dari laman UGM, Jumat (6/3/2026).

Ronny menjelaskan, secara umum terdapat dua kronotipe pola tidur manusia, yaitu tipe pagi (earlier) dan tipe malam (later).

Individu dengan kronotipe pagi biasanya tidur lebih awal dan bangun lebih dini, sementara kronotipe malam cenderung tidur mendekati tengah malam atau bahkan lebih larut.

Ia menegaskan tidak ada pola yang lebih baik di antara keduanya selama kebutuhan tidur tetap terpenuhi sekitar tujuh hingga delapan jam setiap hari.

Namun, kondisi perlu diwaspadai apabila seseorang tidak dapat tidur malam tanpa alasan tertentu dan baru bisa tidur menjelang pagi.

Hal ini bisa menjadi tanda gangguan tidur yang berpotensi memengaruhi kesehatan tubuh.

Ronny juga meluruskan anggapan bahwa utang tidur bisa langsung diganti dalam satu waktu.

Menurutnya, proses metabolisme tubuh tidak bekerja secara instan.

“Utang tidur tidak bisa langsung dibayar lunas. Metabolisme tubuh bekerja bertahap. Seperti luka yang butuh waktu sekitar dua minggu untuk pulih, kekurangan tidur juga perlu waktu untuk kembali seimbang,” terangnya.

Jika kekurangan tidur terjadi terus-menerus, tubuh dapat mengalami kelelahan organik yang memicu respons stres fisiologis.

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami jantung berdebar, sesak napas, mudah terinfeksi, kulit kusam, hingga menurunnya daya tahan tubuh.

Gangguan tidur juga tidak selalu ditandai dengan sulit terlelap. Menurut Ronny, tanda awal bisa terlihat dari kondisi saat bangun tidur.

“Kalau bangun tidak segar, badan pegal, kepala terasa berat, mudah marah, atau mood tidak stabil, itu tanda ada sesuatu yang terganggu,” ujarnya.

Dari perspektif psikiatri, gejala awal biasanya muncul pada kondisi emosional seperti mood yang mudah berubah, cepat marah, atau merasa sedih tanpa sebab yang jelas.

Untuk menjaga kualitas tidur, Ronny menyarankan beberapa langkah sederhana, antara lain menjaga pola makan seimbang, berolahraga rutin minimal tiga kali seminggu, serta mengelola emosi dan stres dengan baik.

Ia juga menekankan pentingnya menerapkan sleep hygiene, seperti mengenali pola tidur pribadi dan menghindari kebiasaan yang dapat mengganggu kualitas istirahat.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak menyepelekan gangguan tidur karena tidur merupakan bagian penting dari keseimbangan kesehatan fisik dan mental. (*)