Bolehkah Penderita Diabetes Berpuasa? Ini Syarat dan Tips Aman Menurut Dokter UGM

Dokter RSA UGM menyebut penderita diabetes tetap bisa berpuasa dengan syarat mendapat izin dokter dan menjaga pola makan. Pengaturan sahur, berbuka, serta dosis obat menjadi kunci agar puasa tetap aman.

Bolehkah Penderita Diabetes Berpuasa? Ini Syarat dan Tips Aman Menurut Dokter UGM
Ilustrasi. (Sumber: jcomp on Freepik)

RINGKASAN BERITA:

  • Penderita diabetes boleh berpuasa jika mendapat izin dokter dan tanpa komplikasi berat.

  • Pola makan harus teratur: tidak melewatkan sahur dan berbuka bertahap untuk mencegah lonjakan gula darah.

  • Hipoglikemia menjadi kondisi berbahaya, sehingga pasien harus segera membatalkan puasa jika gejala muncul.

RIAUCERDAS.COM -

 Menjalankan puasa bagi penderita diabetes kerap memunculkan kekhawatiran soal keamanan kesehatan. Meski demikian, dokter menyebut pasien diabetes tetap bisa berpuasa selama memenuhi syarat tertentu dan berada dalam pengawasan medis yang tepat.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Sub Endokrin Metabolik RSA UGM, dr. Ali Baswedan,Sp.PD-KEMD menjelaskan bahwa penderita diabetes tetap diperbolehkan menjalankan ibadah puasa dengan dua syarat utama. Pertama, wajib berkonsultasi dan mendapat izin dokter.

“Artinya harus ada izin dari dokter karena itu penting. Dokter lah yang dapat menentukan dapat berpuasa atau tidak,” jelas Ali dikutip dari situs UGM, Selasa (24/2/2026).

Syarat kedua adalah tidak melewatkan sahur dan menghindari makan berlebihan saat berbuka.

Namun Ali menegaskan tidak semua pasien diabetes dapat berpuasa.

Pasien yang diizinkan adalah mereka yang tidak memiliki komplikasi berat, seperti luka, infeksi paru aktif, lonjakan gula darah, atau sedang dalam fase sakit akut.

Jika pasien mengalami batuk, pilek, demam, atau luka pada kaki, ia menyarankan tidak memaksakan diri berpuasa.

Keputusan akhir tetap berada di tangan dokter yang memahami riwayat kesehatan pasien.

“Nanti yang menentukan boleh puasa atau tidak itu dari dokter, karena dokter itu punya riwayatnya”

Perubahan pola makan selama puasa juga memengaruhi fluktuasi gula darah. Untuk mencegah gula darah turun drastis, pasien diminta tidak melewatkan sahur. 

Saat berbuka, konsumsi makanan juga tidak boleh berlebihan. “Dan tentu pada saat berbuka puasa jangan berlebihan,” pesannya.

Ali menyarankan pola makan berbuka dibagi dalam tiga tahap, yakni setelah adzan, sebelum tarawih, dan sesudah tarawih. Pola ini bertujuan mencegah lonjakan gula darah yang terlalu cepat.

“Jika berbuka puasa secara berlebihan, akan terjadi lonjakan secara berlebihan,” terangnya.

Terkait konsumsi obat, Ali menjelaskan ada panduan pengurangan dosis. Ia lebih menyarankan pengurangan setengah dosis terlebih dahulu dibanding langsung sepertiga dosis.

“Jika mengurangi sepertiga dari dosis, kemungkinan terjadinya drop itu kan lebih besar. Tapi kalau setengah dulu tidak apa-apa,” ungkap Ali. Evaluasi biasanya dilakukan setelah 45 hari untuk menyesuaikan kembali dosis obat.

Untuk menu sahur, ia menganjurkan karbohidrat kompleks seperti beras merah, roti gandum, atau oatmeal, disertai protein, sayuran, dan air putih yang cukup.

Sementara saat berbuka, makanan manis diperbolehkan dalam porsi kecil. 

“Pokoknya secukupnya. Tapi yang manis-manis memang dianjurkan pada saat buka itu yang manis dianjurkan tapi sedikit saja porsinya,” jelasnya.

Makan nasi dapat dilakukan sebelum tarawih, sedangkan setelah tarawih bisa ditambah camilan ringan.

Ali juga menjelaskan tanda gula darah tinggi, antara lain haus berlebihan, sering buang air kecil, lemas, badan terasa panas, dan pusing.

Sementara gula darah rendah ditandai lemas berat dan berkeringat. Ia menyarankan pengecekan gula darah rutin selama tiga hingga empat hari pada waktu sebelum sahur, siang hari, dan dua hingga tiga jam sebelum berbuka.

Sebagai penutup, Ali menegaskan bahwa penderita diabetes harus segera membatalkan puasa jika mengalami gejala hipoglikemia, seperti jantung berdebar.

“Wajib dibatalkan karena resiko terjadinya hipoglikemia (gula darah rendah) itu jauh lebih berbahaya,” jelasnya.

Rentang gula darah ideal disebut berada di bawah 200 atau 180, atau sekitar 110–180.(*)