Pangan Lokal Lebih Sehat untuk Sahur dan Berbuka, Ini Rekomendasinya

Pakar gizi IPB menilai pangan lokal merupakan pilihan terbaik untuk sahur dan berbuka karena kaya nutrisi, lebih segar, dan mendukung keberlanjutan lingkungan serta ekonomi lokal.

Pangan Lokal Lebih Sehat untuk Sahur dan Berbuka, Ini Rekomendasinya
Ilustrasi pangan lokal yang banyak terdapat di Indonesia. (Sumber; Freepik)

RINGKASAN BERITA:

  • Pangan lokal seperti umbi, kacang, sayur, dan buah memiliki gizi seimbang dan menjaga kestabilan gula darah.

  • Konsumsi pangan lokal lebih segar dan minim pengawet dibanding makanan impor.

  • Selain sehat, pangan lokal mendukung petani dan mengurangi jejak karbon.

RIAUCERDAS.COM - Mengonsumsi pangan lokal dinilai menjadi pilihan sehat untuk menu sahur dan berbuka selama Ramadan.

Selain kaya gizi, bahan pangan lokal disebut mampu menjaga kestabilan energi dan gula darah dibanding makanan instan atau impor.

Pakar gizi dari IPB University, Dr Eny Palupi, menilai pangan lokal memiliki komposisi nutrisi seimbang yang relevan di tengah maraknya konsumsi makanan olahan.

Ia menyebut bahan pangan lokal dapat menjadi alternatif olahan sahur maupun berbuka yang lebih menyehatkan.

“Umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar, dan talas, kaya akan karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat sehingga memberikan rasa kenyang lebih lama serta dapat menjaga kestabilan gula darah,” jelasnya dikutip dari situs IPB, Selasa (24/2/2026).

Ia mengingatkan konsumsi makanan dan minuman manis berlebihan berpotensi mengganggu kestabilan gula darah sekaligus meningkatkan risiko diabetes.

Karena itu, pemilihan sumber karbohidrat menjadi penting saat berpuasa.

Selain umbi, Dr Eny menyebut kacang-kacangan seperti kacang hijau, kacang merah, dan kacang tanah sebagai sumber protein nabati dan serat.

Kandungan ini berperan dalam memperbaiki jaringan tubuh sekaligus menjaga kesehatan pencernaan.

Beragam sayuran lokal juga dinilai kaya mikronutrien. Bayam, kangkung, kecipir, paria, bunga turi, dan daun kelor disebut mengandung vitamin serta mineral yang membantu meningkatkan daya tahan tubuh selama puasa.

Sementara itu, buah-buahan lokal seperti pisang, pepaya, rambutan, mangga, dan salak dapat menjadi sumber energi cepat.

Kandungan glukosa alami di dalamnya mudah dicerna sehingga cocok dikonsumsi setelah seharian berpuasa.

“Dengan berbagai pilihan tersebut, pangan lokal bukan hanya memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, dan lemak melainkan juga serat, vitamin, dan mineral esensial,” tambahnya.

Dr Eny juga menyoroti keunggulan lain dari pangan lokal, yakni tingkat kesegaran yang lebih baik dibanding produk impor yang umumnya membutuhkan pengawet untuk memperpanjang masa simpan dan distribusi.

Dari sisi keberlanjutan, konsumsi pangan lokal dinilai memberi dampak positif bagi lingkungan dan ekonomi.

Selain mendukung petani setempat, pola konsumsi ini juga membantu menekan jejak karbon akibat distribusi jarak jauh.

"Dengan segala keunggulan ini, pangan lokal layak direkomendasikan untuk berbuka dan sahur bergizi seimbang,” pungkasnya. (*)