Pakar Ingatkan Risiko Stres Anak Usai Batas Usia Masuk SD Dilonggarkan Jadi 5,5 Tahun

Kebijakan pelonggaran usia masuk SD menjadi 5,5 tahun mendapat sorotan dari pakar pendidikan UMM. Pemerintah diminta segera memperkuat pelatihan pedagogi guru dan menyiapkan sistem transisi PAUD-SD agar anak tidak mengalami stres saat mulai sekolah.

May 25, 2026 - 20:41
 0
Pakar Ingatkan Risiko Stres Anak Usai Batas Usia Masuk SD Dilonggarkan Jadi 5,5 Tahun
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA:

  • Pakar UMM menilai pelonggaran usia masuk SD menjadi 5,5 tahun berisiko memicu stres pada anak jika guru tidak siap.
  • Sekolah diminta menyiapkan kelas transisi dengan durasi belajar lebih singkat dan pendekatan bermain.
  • Pemerintah didorong segera melatih guru kelas satu SD dengan pedagogi khusus anak usia dini.

RIAUCERDAS.COM - Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang melonggarkan batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun dinilai berpotensi memicu tekanan psikologis pada anak apabila tidak diikuti penyesuaian sistem pembelajaran dan kesiapan guru.

Pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd mengatakan pemerintah perlu segera memperkuat kompetensi pedagogi guru kelas satu SD agar mampu menghadapi karakter anak usia dini yang berbeda dengan siswa sekolah dasar pada umumnya.

Menurutnya, selama ini pendidikan guru lebih banyak mempersiapkan pendidik untuk menangani anak usia 7 hingga 12 tahun.

“Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” tegasnya dikutip dari laman UMM, Senin (25/5/2026).

Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd. (Sumber: Istimewa)

Arina menilai pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi kebutuhan mendesak seiring perubahan kebijakan usia masuk sekolah dasar.

Ia mengingatkan guru berpotensi kesulitan mengelola emosi dan perilaku anak jika tidak mendapatkan pelatihan khusus terkait pendekatan pembelajaran usia dini.

Selain peningkatan kompetensi guru, Arina juga menekankan pentingnya penyesuaian manajemen sekolah dasar untuk mendukung proses transisi anak dari PAUD ke SD.

Menurutnya, sekolah perlu menyiapkan kelas transisi dengan ruang belajar yang ramah anak dan memiliki area bermain.

Ia juga mendorong adanya asesmen awal saat masa orientasi untuk memetakan kebutuhan individual siswa serta memperkuat komunikasi antara guru dan orang tua terkait ekspektasi akademik anak.

“Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya.

Arina turut membagikan sejumlah pendekatan pembelajaran yang dinilai lebih sesuai untuk anak usia 5,5 tahun.

Ia menyarankan guru menerapkan metode belajar singkat dan interaktif karena rentang fokus anak usia tersebut maksimal sekitar 15 menit.

“Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” ujarnya.

Sebagai langkah antisipasi, Arina meminta pemerintah tidak menerapkan kebijakan pelonggaran usia masuk SD secara seragam di semua daerah.

Ia menilai aturan tersebut sebaiknya tetap bersifat opsional dan didasarkan pada asesmen kesiapan psikologis anak.

Selain itu, Kemendikdasmen juga didorong segera menyelenggarakan lokakarya pedagogi bagi guru kelas satu serta menerbitkan modul praktis transisi PAUD-SD.

Menurutnya, evaluasi tahunan perlu dilakukan untuk memantau dampak kebijakan tersebut terhadap tingkat stres maupun angka putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar. (*)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow