Fenomena Generasi Muda Tunda Nikah Meningkat, Pakar Ungkap Faktor Karier hingga Trauma Psikologis
Fenomena generasi muda menunda pernikahan kian meningkat akibat faktor karier, kesiapan finansial, hingga pengalaman psikologis. Pakar menilai edukasi pranikah dan kesiapan mental menjadi kunci dalam menghadapi perubahan tren tersebut.
RINGKASAN BERITA:
- Penundaan menikah dipicu kesiapan karier, finansial, dan mental generasi muda.
- Faktor psikologis seperti trauma keluarga dan ketakutan komitmen ikut berpengaruh.
- Pakar menekankan pentingnya edukasi kesiapan menikah tanpa tekanan sosial.
RIAUCERDAS.COM - Tren generasi muda menunda pernikahan semakin menguat seiring perubahan pola pikir dan tuntutan hidup modern.
Pakar komunikasi keluarga menilai keputusan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor karier, kesiapan finansial, hingga pengalaman psikologis masa lalu.
Guru Besar Program Studi KPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Halim Purnomo, menjelaskan bahwa pernikahan kini tidak lagi dipandang sebagai fase awal kedewasaan.
Banyak anak muda memilih menunggu hingga merasa siap secara menyeluruh, baik secara mental, ekonomi, maupun sosial.
Dikutip dari situs UMY, Sabtu (21/2/2026), Halim menyampaikan bahwa pernikahan merupakan komitmen jangka panjang yang membutuhkan persiapan matang.
Ia menilai keputusan menikah tidak bisa didasarkan pada dorongan emosional semata karena menyangkut penyatuan dua individu dan dua keluarga.
Ia menyebut kesiapan personal menjadi faktor dominan dalam penundaan pernikahan.
Generasi muda dinilai lebih rasional dalam mengambil keputusan besar, dengan mempertimbangkan stabilitas finansial, kemantapan karier, serta kesiapan mental sebelum membangun rumah tangga.
Selain faktor ekonomi, aspek psikologis turut berperan signifikan.
Halim mengungkap adanya fenomena ketakutan terhadap komitmen atau gamophobia, serta pengaruh pengalaman keluarga seperti perceraian orang tua yang membentuk sikap lebih berhati-hati terhadap pernikahan.
Kondisi tersebut membuat sebagian anak muda memilih menunda pernikahan demi memastikan keputusan yang diambil benar-benar matang dan tidak mengulang pengalaman buruk di masa lalu.
Ia juga menyoroti pergeseran paradigma gender di kalangan generasi muda.
Perempuan kini dinilai semakin realistis dengan memprioritaskan pendidikan dan karier sebelum menikah, sementara laki-laki menghadapi tekanan sosial untuk memiliki stabilitas ekonomi sebagai penopang keluarga.
Penundaan menikah, lanjut Halim, kerap dipilih sebagai strategi meminimalkan potensi konflik setelah berumah tangga.
Generasi muda ingin memastikan kebutuhan dasar keluarga di masa depan dapat terpenuhi, mulai dari kebutuhan hidup hingga pendidikan anak.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa kesiapan menikah tidak harus menunggu kondisi sempurna.
Halim menekankan pentingnya edukasi pranikah yang memberikan pemahaman komprehensif, bukan tekanan untuk segera menikah.
Ia mendorong generasi muda aktif berkonsultasi dengan pihak yang lebih berpengalaman agar memiliki perspektif luas sebelum mengambil keputusan.
Menurutnya, pernikahan merupakan ibadah sepanjang hayat yang harus dijalani dengan kesiapan, bukan ketakutan. (*)