Tak Semua Wagyu Asli Jepang, Pakar IPB Ungkap Perbedaan dan Cara Mengenalinya
Pakar IPB menyebut sebagian besar wagyu di pasaran bukan berasal dari Jepang. Konsumen diminta memahami perbedaan kualitas dan mengecek sertifikat resmi agar tidak tertipu.
RINGKASAN BERITA:
- Sebagian besar wagyu di luar Jepang merupakan hasil persilangan, bukan wagyu murni.
- Wagyu Jepang asli memiliki standar ketat dengan grade tertinggi A5 dan BMS 10–12.
- Konsumen disarankan memeriksa sertifikat JMGA untuk memastikan keaslian wagyu.
RIAUCERDAS.COM - Maraknya penjualan wagyu di berbagai negara, termasuk Indonesia, tidak selalu menjamin daging tersebut berasal dari Jepang.
Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, mengingatkan bahwa sebagian besar wagyu yang beredar di pasar global merupakan hasil produksi di luar negeri dengan kualitas yang berbeda.
Menurutnya, penggunaan istilah wagyu kerap menimbulkan persepsi keliru di kalangan konsumen.
“Misalnya, banyak restoran di Amerika yang menawarkan menu daging wagyu, tetapi belum tentu dagingnya berasal dari Jepang. Sebenarnya, sebagian besar daging wagyu yang beredar di Amerika tidak diimpor dari Jepang, melainkan dari sapi yang dipelihara di sana,” kata dia.
Ia menjelaskan, wagyu yang diproduksi di luar Jepang umumnya berasal dari hasil persilangan, biasanya antara sapi wagyu dan angus dengan komposisi masing-masing 50 persen.
Selain itu, sistem pemeliharaan dan standar penilaian juga berbeda.
“Di Amerika, sistem penilaian daging berbeda dari Jepang, menggunakan standar USDA Prime/Choice tanpa spesifikasi wagyu. Sapi wagyu di Amerika lebih ‘berdaging’ dibandingkan di Jepang,” jelasnya dikutip dari laman IPB University, Rabu (6/5/2026).
Padahal, kata Prof Ronny, keunggulan utama wagyu Jepang terletak pada marbling atau kandungan lemak intramuskular yang tinggi.
Lemak ini memberikan cita rasa khas saat daging dipanggang, karena mudah meleleh dan menghasilkan aroma serta tekstur yang berbeda dari daging sapi biasa.
Di Jepang, kualitas wagyu dinilai dengan standar ketat, mulai dari kategori A hingga C untuk yield, skala 1 hingga 5 untuk kualitas, serta beef marbling standard (BMS) dari 1 hingga 12.
Daging dengan grade A5 dan BMS 10–12 berada pada level tertinggi.
“Daging wagyu Jepang asli harganya sangat mahal minimal US$200 per kg untuk steak. Variasi premium harganya bisa lebih tinggi. karena proses pemeliharaan yang ketat, genetik murni, dan sistem grading resmi A5 yang hanya bisa dicapai di Jepang,” terang Prof Ronny.
Di luar Jepang, Australia tercatat sebagai produsen wagyu terbesar dengan kontribusi sekitar 18 persen dari total global, disusul Amerika Serikat dan Selandia Baru.
Sejumlah negara lain seperti Kanada, Inggris, Jerman, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura juga memproduksi wagyu dalam skala lebih kecil, baik melalui impor maupun persilangan.
Untuk memastikan keaslian wagyu Jepang, Prof Ronny menyarankan konsumen memeriksa sertifikat dari Japan Meat Grading Association (JMGA).
Sertifikat ini memuat informasi detail seperti nomor identifikasi sapi, asal prefektur, grade, serta nilai marbling.
“Bahkan jika diamati lebih dalam lagi dengan memperhatikan nomor sertifikat 10 digit, kita dapat melacak hingga ke peternakan asalnya,” imbuhnya.
Ia menegaskan, label kualitas seperti A5 hanya sah jika daging tersebut dinilai langsung di Jepang.
“Pada sertifikat tersebut, label ‘A5’ hanya sah jika daging benar-benar dinilai di Jepang. Jadi, istilah ‘A5 style’ atau ‘Kobe style’ di luar Jepang hanya untuk marketing sekaligus menandakan bahwa itu tidak berasal dari Jepang.”
Dengan kondisi tersebut, ia mengimbau masyarakat agar lebih cermat sebelum membeli wagyu.
Konsumen diminta memahami istilah pemasaran dan memastikan keaslian produk melalui distributor resmi.
“Pelajari istilah ‘palsu’ seperti ‘style’ dan ‘inspired’. Belilah ke distributor resmi dan periksa sertifikat JMGA-nya, jangan hanya dari foto. Semoga konsumen kita bisa menikmati wagyu tanpa tertipu klaim palsu itu,” kata dia. (*)