Akademisi Soroti Klaim Swasembada Beras, Minta Data Satelit dan Verifikasi Lapangan
Akademisi menilai klaim swasembada beras perlu didukung data satelit dan verifikasi lapangan agar benar-benar mencerminkan kondisi riil dan berkelanjutan.
RINGKASAN BERITA:
- Klaim swasembada beras diapresiasi, tetapi harus berbasis data ilmiah terverifikasi.
- Teknologi satelit dinilai efektif memantau kondisi sawah dan intensitas tanam.
- Integrasi data satelit, survei tanah, dan verifikasi lapangan jadi kunci swasembada berkelanjutan.
RIAUCERDAS.COM - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai capaian swasembada beras Indonesia sejak akhir 2025 menuai perhatian kalangan akademisi.
Klaim tersebut dinilai patut diapresiasi, namun perlu didukung data ilmiah yang kuat dan terverifikasi.
Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Prof. Dian Fiantis, menegaskan bahwa swasembada pangan tidak cukup dilihat dari angka produksi semata.
Menurutnya, faktor kesehatan tanah, ketersediaan air, serta pengelolaan lahan berkelanjutan menjadi indikator penting keberlanjutan swasembada.
Ia menjelaskan bahwa di era teknologi geospasial, pemantauan lahan pertanian kini dapat dilakukan melalui data satelit.
Pendekatan ini memungkinkan pemantauan kondisi sawah secara luas dan berkelanjutan, tanpa hanya bergantung pada laporan administratif atau survei terbatas.
Pemanfaatan satelit optik, misalnya, mampu mendeteksi tingkat kehijauan tanaman melalui indeks vegetasi yang menunjukkan kesehatan tanaman.
Namun, di wilayah tropis seperti Indonesia, tutupan awan sering menjadi kendala dalam pengamatan.
Karena itu, satelit radar menjadi pelengkap penting karena mampu menembus awan dan merekam kondisi permukaan lahan.
Teknologi ini memungkinkan deteksi genangan air, kerapatan tanaman, hingga indikasi kekeringan sepanjang musim, termasuk saat curah hujan tinggi.
Prof. Dian menambahkan, swasembada pangan juga sangat dipengaruhi intensitas tanam.
Sawah yang dipanen dua atau tiga kali dalam setahun tentu memberikan kontribusi produksi yang berbeda dibanding satu kali panen.
Ia merujuk pada riset ilmiah yang memetakan intensitas tanam padi di Asia Tenggara dengan resolusi tinggi.
Melalui integrasi data satelit, peneliti dapat mengidentifikasi pola panen sekaligus mengestimasi produksi berdasarkan biomassa tanaman.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa hasil pemantauan satelit tetap memerlukan verifikasi lapangan.
Data produksi aktual, menurutnya, tidak bisa sepenuhnya ditentukan dari pengamatan jarak jauh.
Selain itu, pemanfaatan teknologi satelit memungkinkan deteksi dini berbagai ancaman seperti kekeringan, banjir, serangan hama, maupun keterlambatan tanam.
Informasi ini dapat membantu pemerintah mengambil kebijakan lebih cepat dan berbasis bukti ilmiah.
Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi bukan satu-satunya solusi.
Informasi penting terkait kualitas tanah, seperti kandungan unsur hara dan tingkat kemasaman, hanya dapat diperoleh melalui survei dan analisis laboratorium.
Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi akses teknologi, melainkan kesiapan sumber daya manusia dalam mengolah data.
Ia mendorong agar sistem pemantauan disajikan dalam bentuk peta yang mudah digunakan hingga tingkat daerah.
Integrasi penginderaan jauh, survei tanah, pengamatan lapangan, serta statistik pertanian dinilai menjadi kunci memastikan swasembada beras benar-benar berkelanjutan.
“Pendekatan terpadu inilah yang memastikan swasembada bukan sekadar klaim, tetapi benar-benar berbasis data dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)