Konflik Iran Picu Ancaman Re-Primarisasi Ekonomi Indonesia, Sektor Manufaktur Tertekan

Ketegangan geopolitik Iran berpotensi menggeser struktur ekspor Indonesia ke sektor komoditas, sementara industri manufaktur menghadapi tekanan biaya dan penurunan permintaan global.

Konflik Iran Picu Ancaman Re-Primarisasi Ekonomi Indonesia, Sektor Manufaktur Tertekan
Pakar Ekonomi Pembangunan UMY, Susilo Nur Aji Cokro Darsono, S.E., M.R.D.M., Ph.D. (Sumber: umy.ac.id)

RINGKASAN BERITA: 

  • Konflik Iran berpotensi menggeser struktur ekspor Indonesia ke sektor komoditas
  • Industri manufaktur tertekan akibat kenaikan biaya energi dan gangguan rantai pasok
  • Risiko re-primarisasi ekonomi dapat menghambat transformasi industri nasional.

RIAUCERDAS.COM Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran dinilai berisiko mendorong Indonesia kembali bergantung pada sektor komoditas, seiring melemahnya kinerja industri manufaktur akibat tekanan global.

Pakar Ekonomi Pembangunan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Susilo Nur Aji Cokro Darsono, menjelaskan bahwa dampak konflik geopolitik terhadap ekspor Indonesia tidak terjadi secara langsung, melainkan melalui sejumlah jalur yang saling berkaitan.

“Ketiganya saling memengaruhi dan menciptakan tekanan terhadap aktivitas perdagangan internasional. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi global, sementara gangguan perdagangan memperlambat arus logistik, dan kontraksi permintaan membuat ekspor manufaktur semakin melemah,” jelas Susilo, Kamis (9/4/2026).

Ia menyebut terdapat tiga jalur utama yang memicu tekanan tersebut, yakni lonjakan harga energi (energy price shock), gangguan perdagangan (trade disruption), serta penurunan permintaan global (global demand contraction).

Dalam kondisi ini, sektor komoditas justru berpotensi diuntungkan oleh kenaikan harga energi global.

Namun, keuntungan tersebut tidak sejalan dengan kondisi industri manufaktur yang menghadapi beban biaya produksi lebih tinggi serta gangguan rantai pasok.

Kenaikan harga energi global dapat menguntungkan sektor komoditas seperti batu bara dan LNG (liquefied natural gas) karena adanya peningkatan nilai ekspor melalui price effect.

Namun, sektor manufaktur menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya produksi, gangguan rantai pasok global, serta melemahnya permintaan internasional.

"Kombinasi ini menciptakan cost-push inflation sekaligus demand contraction bagi industri,” kata dia.

Lebih lanjut, Susilo menilai penyusutan surplus perdagangan Indonesia tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai akibat turunnya permintaan global.

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hasil interaksi berbagai faktor ekonomi yang kompleks.

“Penyusutan surplus perdagangan, terangntya, merupakan kombinasi dari price effect, volume effect, serta dinamika impor.

Perlambatan manufaktur global akibat tekanan biaya dan meningkatnya impor energi Indonesia menunjukkan adanya external shock yang signifikan.

"Kondisi ini lebih mencerminkan penurunan kualitas komposisi neraca perdagangan, bukan sekadar melemahnya daya saing ekspor,” tutur Susilo.

Menurutnya, industri manufaktur yang bergantung pada energi dan terhubung dengan rantai pasok global menjadi kelompok paling rentan terdampak situasi ini.

Jika tidak diantisipasi, pergeseran ke arah dominasi komoditas dapat memperlambat transformasi ekonomi nasional.

Ketika sektor komoditas semakin dominan akibat kenaikan harga global, sementara manufaktur melemah, terdapat risiko re-primarisasi ekonomi.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan daya saing industri nasional dan memperlambat transformasi ekonomi menuju sektor bernilai tambah tinggi.

"Oleh karena itu, dinamika konflik geopolitik harus dilihat sebagai sinyal penting untuk memperkuat ketahanan struktur ekspor Indonesia,” tutup Susilo. (*)