Asesmen Nasional-TKA 2026 Jadi Basis Kebijakan Pendidikan Islam, Libatkan 1,7 Juta Siswa di Seluruh Indonesia
Integrasi Asesmen Nasional dan Tes Kompetensi Akademik 2026 oleh Kementerian Agama menjadi langkah strategis membangun sistem evaluasi berbasis data, dengan partisipasi lebih dari 1,7 juta siswa madrasah dan pesantren.
RINGKASAN BERITA:
- AN-TKA 2026 melibatkan lebih dari 1,7 juta siswa dari madrasah dan pesantren di seluruh Indonesia.
- Integrasi AN dan TKA diarahkan menjadi dasar kebijakan pendidikan berbasis data yang lebih presisi.
- Tingkat partisipasi tinggi di madrasah, namun kesiapan infrastruktur pesantren masih perlu ditingkatkan.
RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pelaksanaan Asesmen Nasional terintegrasi Tes Kompetensi Akademik (AN-TKA) 2026 tidak hanya menjadi agenda evaluasi rutin, tetapi diarahkan sebagai fondasi baru dalam penyusunan kebijakan pendidikan Islam berbasis data.
Program yang digelar Kementerian Agama ini melibatkan lebih dari 1,7 juta peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan di seluruh Indonesia.
Kegiatan AN-TKA dimulai pada 6 hingga 16 April 2026 untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs), kemudian dilanjutkan pada 20 hingga 30 April 2026 untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI).
Pelaksanaannya dibagi dalam lima gelombang selama 10 hari dengan total 20 sesi, menjadikannya salah satu asesmen terbesar di lingkungan pendidikan Islam.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan bahwa penggabungan AN dan TKA merupakan langkah transformasi dalam sistem penilaian pendidikan.
“Ini bukan sekadar asesmen. Kita sedang membangun sistem evaluasi berbasis data yang mampu membaca kualitas pendidikan secara utuh, baik pada level sistem maupun capaian individu murid,” ujarnya di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, Asesmen Nasional berperan sebagai alat untuk mendiagnosis mutu pendidikan secara nasional, sementara TKA memberikan gambaran rinci terkait capaian akademik siswa.
Sinergi keduanya dinilai mampu menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran dan adaptif.
Tingginya partisipasi terlihat di berbagai jenjang madrasah.
Pada tingkat MI, sebanyak 25.628 dari 26.178 lembaga atau 97,9 persen telah mendaftar, dengan 659.567 siswa atau 99,01 persen siap mengikuti TKA.
Sementara di jenjang MTs, 18.899 dari 19.376 lembaga atau 97,54 persen telah terdaftar, dengan jumlah peserta mencapai 1.005.408 siswa atau 96,71 persen.
Adapun di lingkungan pesantren, partisipasi masih terus didorong.
Dari total 2.222 lembaga, baru 1.605 lembaga atau 72,23 persen yang mendaftar, dengan jumlah peserta mencapai 45.163 santri atau 84,07 persen.
Direktur KSKK Madrasah, Nyayu Khodijah, menyebutkan adanya tren peningkatan partisipasi, meski tantangan masih ada, terutama pada aspek kesiapan teknis.
“Kami melihat tren yang positif, tetapi juga menyadari masih ada ruang peningkatan, terutama dalam kesiapan infrastruktur dan integrasi sistem di pesantren,” ujar dia.
Pelaksanaan asesmen tahun ini didominasi oleh sistem daring. Sebanyak 97,57 persen lembaga MI, 94,13 persen MTs, dan 97,13 persen pesantren menjalankan TKA secara online.
Meski demikian, verifikasi kesiapan infrastruktur menunjukkan angka yang masih bervariasi, yakni 73,69 persen pada MI, 67,77 persen pada MTs, dan 40,31 persen pada pesantren.
Nyayu menegaskan bahwa kualitas pelaksanaan menjadi fokus utama pemerintah.
“Kualitas pelaksanaan menjadi prioritas kami. Tidak hanya jumlah peserta, tetapi juga memastikan bahwa pelaksanaan berjalan kredibel, adil, dan mencerminkan kemampuan riil peserta didik,” tegasnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta akan mengerjakan tiga komponen utama selama dua hari, yakni Matematika dan Bahasa Indonesia masing-masing selama 75 menit dengan 30 soal, serta soal karakter selama 20 menit per hari.
Ke depan, hasil AN-TKA akan dimanfaatkan tidak hanya sebagai laporan capaian siswa, tetapi juga sebagai dasar dalam merancang intervensi kebijakan, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta memperkuat daya saing lulusan madrasah dan pesantren.
“Ini adalah pijakan menuju masa depan pendidikan Islam yang lebih adaptif, terukur, dan berdaya saing global,” pungkas Amien. (*)


