Normalisasi Sungai Kijang Dikebut, Pemkab Rohul Fokus Kurangi Risiko Banjir di Permukiman
Pemkab Rokan Hulu mempercepat normalisasi Sungai Kijang untuk menekan risiko banjir di wilayah Cipang Kiri. Pengerukan difokuskan pada titik rawan dan area permukiman.
RINGKASAN BERITA:
- Normalisasi Sungai Kijang difokuskan pada area permukiman dan titik rawan banjir.
- Pengerukan terbatas karena dasar sungai didominasi batu cadas.
- Upaya ini bertujuan mengurangi risiko banjir, bukan sepenuhnya mencegah.
RIAUCERDAS.COM, PASIR PENGARAIAN - Pemerintah Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) mempercepat normalisasi Sungai Kijang sebagai langkah mitigasi banjir yang kerap melanda kawasan permukiman di Cipang Kiri, Kecamatan Rokan IV Koto.
Upaya ini difokuskan untuk memperlancar aliran air agar tidak meluap ke rumah warga.
Pelaksana tugas Kepala Dinas PUPR Rohul, Zulfikri, mengatakan pekerjaan normalisasi saat ini tengah berlangsung dengan pengerahan alat berat di lokasi.
"Sedang berjalan sekarang. Alat kita sedang bekerja untuk normalisasi sungai Kijang," ujarnya, Senin (6/4/2026).
Langkah ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Bupati Anton yang sebelumnya meninjau langsung kondisi sungai usai wilayah tersebut terdampak banjir.
Normalisasi telah dimulai sejak Rabu lalu dengan fokus pada pengerukan material seperti pasir dan batu yang menyebabkan pendangkalan sungai.
Selain itu, batu-batu besar yang menghambat aliran air juga diangkat.
Wilayah Cipang Kiri sendiri dalam beberapa waktu terakhir mengalami banjir berulang, termasuk dua kejadian pada akhir Maret lalu akibat curah hujan tinggi dengan durasi lama.
Kondisi tersebut menyebabkan debit air meningkat hingga meluap ke permukiman.
Zulfikri menjelaskan bahwa upaya ini lebih diarahkan untuk mengurangi risiko banjir, bukan sepenuhnya mencegah.
"Ini lebih kepada mengurangi resiko banjir bila terjadi. Mitigasi," katanya.
Senada dengan itu, Kepala Bidang Pengairan PUPR Rohul, Wasino, menyebutkan pengerukan dilakukan secara terbatas karena kondisi dasar sungai yang didominasi batu keras.
"Soal berapa dalam kita keruk, sepertinya ngak bisa dalam. Soalnya dibawah itu banyak batu cadas," tuturnya.
Pekerjaan normalisasi difokuskan pada area permukiman serta titik-titik rawan seperti tikungan sungai yang berpotensi menyebabkan air meluber ke daratan.
"Kita akan berupaya membuat aliran air lancar. Ngak nyebar ke pinggiran yang bisa masuk ke pemukiman," ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa hanya dilakukan di bagian hilir, tetapi juga harus memperhatikan kondisi di hulu sungai.
"Kalau pencegahan banjir, harus juga lihat kondisi di hulu," ucapnya.
Pemerintah daerah berharap upaya normalisasi ini dapat meminimalkan dampak banjir sekaligus memberikan perlindungan lebih bagi masyarakat di sekitar aliran Sungai Kijang. (*)


