UIN Gus Dur Dorong Pendidikan Islam Adaptif AI Lewat Konferensi Internasional ICONIE 2026

Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan melalui FTIK menggelar ICONIE 2026 yang membahas masa depan pendidikan Islam di era transformasi digital, kecerdasan buatan, dan penguatan kearifan budaya.

UIN Gus Dur Dorong Pendidikan Islam Adaptif AI Lewat Konferensi Internasional ICONIE 2026
Suasana The 4th International Conference on Islam and Education (ICONIE) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA:

  • ICONIE 2026 membahas masa depan pendidikan Islam di era AI dan transformasi digital.
  • Akademisi dari Singapura, Vietnam, dan Australia hadir dalam konferensi internasional di Pekalongan.
  • UIN Gus Dur menekankan pendidikan Islam harus adaptif teknologi tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan.

RIAUCERDAS.COM, PEKALONGAN - Isu transformasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan menjadi perhatian utama dalam gelaran The 4th International Conference on Islam and Education (ICONIE) 2026 yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan.

Forum internasional ini menekankan pentingnya pendidikan Islam yang mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa meninggalkan nilai kemanusiaan dan budaya lokal.

Konferensi yang berlangsung pada 18–19 Mei 2026 di Pekalongan itu mengangkat tema “Islamic Education for a Sustainable Future: Digital Transformation, Cultural Wisdom, and Harmonious Living”.

Sekitar 200 akademisi, peneliti, dan praktisi pendidikan dari berbagai negara hadir dalam kegiatan tersebut.

Sejumlah tokoh nasional dan internasional turut menjadi pembicara, mulai dari Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikdasmen Tatang Muttaqien, perwakilan Kepala BRIN Sri Harini, hingga Ketua Dewan Pakar PSPK Itje Chodidjah.

Selain itu, konferensi juga menghadirkan pembicara dari berbagai institusi luar negeri seperti Nanyang Technological University, National Vocational Education Commission, dan University of Adelaide.

Rektor UIN Gus Dur Zaenal Mustakim mengatakan pendidikan Islam harus mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus menjaga nilai dasar keislaman dan kemanusiaan.

“Tema konferensi tahun ini menantang kita untuk menjembatani tiga pilar penting, yakni transformasi digital, kearifan budaya, dan kehidupan harmonis. Di era kecerdasan buatan dan teknologi digital yang terus berkembang, pendidikan Islam harus mampu beradaptasi untuk memperkuat nilai-nilai kebenaran dan keadilan,” ungkapnya, Senin (18/5/2026).

Ia menambahkan pemikiran Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tetap menjadi landasan dalam pengembangan pendidikan di kampus tersebut.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak lulusan yang unggul secara teknis, tetapi juga memiliki empati sosial dan akhlak yang kuat.

Sementara itu, Dekan FTIK UIN Gus Dur Muhlisin menilai pendidikan Islam di era modern harus mampu menjawab tantangan percepatan teknologi digital dengan tetap mengedepankan etika dan kearifan lokal.

“Pendidikan Islam harus mampu melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, adaptif terhadap teknologi, namun tetap berakar pada budaya dan nilai kemanusiaan,” tuturnya.

Melalui konferensi internasional ini, FTIK UIN Gus Dur berharap terbentuk kolaborasi akademik lintas negara melalui publikasi ilmiah dan riset bersama untuk memperkuat sistem pendidikan Islam yang inklusif dan berkelanjutan di tingkat global. (*)