Kemenag Dorong Majelis Masyayikh Jadi Motor Transformasi Pendidikan Pesantren

Kementerian Agama menilai Majelis Masyayikh memiliki peran strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan pesantren di Indonesia. Lembaga tersebut diharapkan mampu menjadi penggerak transformasi fundamental pesantren tanpa meninggalkan identitas keislamannya.

Kemenag Dorong Majelis Masyayikh Jadi Motor Transformasi Pendidikan Pesantren
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, saat membuka kegiatan Penyusunan Petunjuk Teknis Majelis Masyayikh Pesantren di Jakarta, Senin (11/5/2026). (Sumber: Kemenag)

RINGKASAN BERITA: 

  • Kemenag menilai Majelis Masyayikh menjadi kunci transformasi pendidikan pesantren.
  • Anggota Majelis Masyayikh diharapkan berasal dari tokoh yang berpengalaman langsung di pesantren.
  • Kemenag ingin pesantren menjadi penggerak utama pembentukan karakter bangsa.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Kementerian Agama mendorong penguatan peran Majelis Masyayikh sebagai lembaga penjamin mutu pendidikan pesantren sekaligus penggerak transformasi besar di lingkungan pendidikan Islam.

Penegasan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, saat membuka kegiatan Penyusunan Petunjuk Teknis Majelis Masyayikh Pesantren di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Menurut Kamaruddin, pembentukan Majelis Masyayikh tidak hanya sekadar menjalankan amanat undang-undang, tetapi menjadi langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan pesantren di Indonesia.

“Majelis Masyayikh adalah institusi yang sakral dan sangat decisif dalam mengawal kualitas pendidikan pesantren. Kita butuh lembaga ini untuk memikirkan transformasi fundamental yang akan menjadi ikon bagi pesantren kita ke depan,” kata dia.

Ia menjelaskan, lembaga tersebut diharapkan mampu melahirkan inovasi dan pembaruan dalam dunia pesantren dengan tetap mempertahankan karakter khas pendidikan Islam.

Kamaruddin menilai anggota Majelis Masyayikh harus berasal dari kalangan yang tidak hanya memahami konsep pendidikan secara teoritis, tetapi juga memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan pesantren.

“Kita tidak hanya butuh pengetahuan, tapi butuh pengalaman praktik. Kita berharap Majelis ini terdiri dari orang-orang yang benar-benar punya visi, komitmen, dan kenyataan dalam mengawal pesantren,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Sekjen Kemenag juga menyoroti tantangan utama transformasi pendidikan pesantren yang dinilai lebih banyak terletak pada implementasi kebijakan dibanding penyusunan konsep.

Karena itu, penyusunan petunjuk teknis Majelis Masyayikh diharapkan mampu menjembatani antara gagasan ideal dengan kondisi nyata di lapangan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh pesantren.

“Biasanya kita punya konsep bagus, tapi strategi implementasinya lemah sehingga tidak maksimal kemanfaatannya. Mari kita jadikan pesantren ini sebagai game changer dan the most powerful enabler untuk membentuk karakter bangsa,” tutur dia.

Kamaruddin optimistis penguatan Majelis Masyayikh akan membawa pendidikan pesantren menuju level yang lebih maju karena didukung banyak ulama dan tokoh pesantren yang berpengalaman.

“Saya selalu optimis karena kita memiliki banyak tokoh dan ulama yang sudah punya pengalaman panjang dan siap berkhidmat untuk kemajuan pesantren kita ke depan,” tutupnya. (*)