Peneliti Soroti Mikroplastik di Indonesia, Cemari Laut hingga Masuk Rantai Makanan Manusia

Pencemaran mikroplastik disebut semakin mengkhawatirkan karena telah menyebar dari laut hingga masuk ke rantai makanan manusia. Peneliti mengungkap sebagian besar limbah plastik yang tidak terkelola akhirnya terakumulasi di perairan dan sulit dipulihkan.

Peneliti Soroti Mikroplastik di Indonesia, Cemari Laut hingga Masuk Rantai Makanan Manusia
Ilustrasi. (Sumber: Diolah dengan AI)

RINGKASAN BERITA: 

  • Mikroplastik kini telah menyebar ke laut, udara, daratan, hingga rantai makanan manusia.
  • Penelitian menemukan mikroplastik hampir di seluruh perairan Indonesia, termasuk laut dalam.
  • Mikroplastik dapat membawa zat berbahaya seperti logam berat dan bahan kimia toksik.

RIAUCERDAS.COM, JAKARTA - Pencemaran mikroplastik kini menjadi ancaman serius bagi lingkungan laut dan kesehatan manusia.

Partikel plastik berukuran kecil itu tidak hanya ditemukan di laut, tetapi juga telah menyebar ke udara, daratan, hingga masuk ke rantai makanan.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Reza Cordova dalam Webinar ISOI ke-1 bertajuk “Lautan Plastik: Ancaman Mikroplastik terhadap Biodiversitas dan Lingkungan Laut serta Keamanan Rantai Makanan” akhir pekan lalu.

“Mikroplastik bukan lagi sekadar sampah plastik berukuran kecil, melainkan pencemar yang telah menyebar ke daratan, laut, udara, hingga masuk ke rantai makanan manusia,” ujarnya dilansir laman BRIN.

Dalam paparannya, Reza menjelaskan produksi plastik global terus mengalami peningkatan.

Pada 2022, jumlah produksi plastik dunia mencapai sekitar 460 juta ton dan terus bertambah pada tahun berikutnya.

Namun, sebagian besar limbah plastik tersebut belum tertangani secara optimal sehingga banyak berakhir di lingkungan perairan.

Menurutnya, plastik yang berada di alam tidak benar-benar hilang, melainkan terfragmentasi menjadi ukuran lebih kecil berupa mikroplastik dan nanoplastik yang lebih mudah menyebar.

Ia menjelaskan mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter yang terbagi menjadi mikroplastik primer dan sekunder.

“Mikroplastik primer diproduksi dalam ukuran kecil sejak awal, seperti pelet plastik dan bahan tertentu pada produk kosmetik. Sementara itu, mikroplastik sekunder berasal dari pecahan plastik berukuran lebih besar akibat paparan sinar matahari, gelombang laut, dan proses degradasi lainnya,” kata dia.

Reza menyebut sumber mikroplastik berasal dari berbagai aktivitas manusia, mulai dari limbah perkotaan, industri tekstil, pencucian pakaian sintetis, tempat pembuangan akhir, hingga aktivitas perikanan.

“Partikel-partikel tersebut kemudian terbawa melalui sungai, saluran air limbah, bahkan atmosfer sebelum akhirnya masuk ke laut,” ujarnya.

Ia menegaskan laut bukan sumber utama pencemaran plastik, melainkan lokasi akhir akumulasi sampah akibat sistem pengelolaan limbah yang belum optimal.

Berdasarkan hasil penelitian, mikroplastik telah ditemukan hampir di seluruh wilayah perairan Indonesia, termasuk sungai, waduk, danau, estuari, hingga laut lepas.

Bahkan seluruh sampel air dan sedimen yang diteliti disebut mengandung mikroplastik.

Meski begitu, distribusi penelitian di Indonesia masih belum merata karena sebagian besar studi masih terpusat di Pulau Jawa dan Bali, sementara wilayah timur Indonesia masih minim data penelitian.

Dalam penjelasannya, Reza juga menyoroti pengaruh arus laut, musim, suhu, dan salinitas terhadap pergerakan mikroplastik di laut.

Ia menyebut wilayah perairan tertutup seperti teluk dan estuari cenderung menjadi titik penumpukan mikroplastik karena sirkulasi air yang lebih lambat.

Tak hanya di permukaan laut, mikroplastik juga ditemukan hingga dasar laut akibat proses pengendapan bersama partikel organik dan aktivitas biologis lainnya.

Menurut Reza, kondisi tersebut membuat laut dalam menjadi lokasi akumulasi jangka panjang yang sangat sulit dipulihkan dari pencemaran plastik.

Dampak mikroplastik terhadap organisme laut juga dinilai kompleks.

Partikel tersebut dapat masuk melalui makanan maupun proses penyaringan air dan memicu gangguan fisik seperti penyumbatan saluran pencernaan serta rasa kenyang palsu.

Selain itu, mikroplastik juga berpotensi membawa logam berat, bahan kimia toksik, dan mikroorganisme patogen yang dapat memicu gangguan biologis pada organisme laut.

Di akhir paparannya, Reza menekankan pentingnya langkah terpadu dalam mengatasi pencemaran mikroplastik, mulai dari pengurangan penggunaan plastik, penguatan pengelolaan sampah, hingga kolaborasi lintas sektor dan peningkatan riset.

Menurutnya, menjaga kebersihan laut merupakan tanggung jawab bersama demi keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. (*)